Gelar Pahlawan Nasional untuk Sutradara Usmar Ismail

Kabar baik datang dari dunia perfilman tanah air. Baru-baru ini tersiar kabar, nama Usmar Ismail akan diangkat menjadi tohoh pahlawan nasional oleh Presiden Jokowi. Tentu ini merupakan apresiasi yang tinggi, karena seperti kita tahu mendiang Usmar Ismail merupakan sosok yang gigih untuk memajukan dunia perfilman di Indonesia. Tak hanya itu, lewat karya-karyanya pula ia bisa membangkitkan rasa nasionalisme masyarakat Indonesia. Maka pemberian gelar ini sangatlah layak untuk disematkan di depan namanya.

Rencananya, gelar tersebut bakal diberikan oleh Presiden Jokowi pada 10 November 2021 atau bertepatan dengan Hari Pahlawan di Istana Bogor. Selain nama Usmar Ismail, gelar pahlawan nasional juga akan diberikan kepada 3 tokoh lainnya, diantaranya Tombolatutu dari Sulawesi Tengah, Sultan Aji Muhammad Idris dari Kalimantan Timur, dan Raden Ayra Wangsakara dari Banten.

“Untuk tahun ini ditetapkan empat orang yang diberikan atau dianugerahi berdasarkan Keputusan Presiden,” kata Mahfud Md “Itu pahlawan nasional yang nanti akan diserahkan secara resmi kepada keluarga para almarhum di Istana Bogor. Kalau tidak berubah persis pada hari Pahlawan 10 November 2021,” lanjutnya, seperti dikutip dari Kompas.com

Menko menjelaskan keputusan memberi gelar pahlawan kepada empat tokoh tersebut karena menginspirasi untuk membangun Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan atau ikut berjuang untuk memajukan Indonesia sehingga kemerdekaan itu lebih bermakna. Menurut Mahfud, beberapa kriteria yang digunakan pemerintah selain ketokohan adalah pemerataan daerah.

“Pemerintah kali ini mengutamakan ketokohan dan pemerataan daerah,” ujarnya.

Usmar Ismail sendiri lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 20 Maret 1921. Ia dikenal sebagai bapak perfilman Indonesia karena karya-karyanya yang luar biasa. Sepanjang kariernya, Usmar Ismail telah membuat lebih dari 30 film. Beberapa film produksi Usmar Ismail yang terkenal diantaranya: Pedjuang (1960), Enam Djam di Djogja (1956), Tiga Dara (1956), dan Asrama Dara (1958).

Tak hanya itu, film arahan Usmar Ismail berjudul Darah dan Doa (The Long March of Siliwangi) yang diproduksi 1950 menjadi film pertama yang secara resmi diproduksi oleh Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat. Hari pertama syuting film tersebut kemudian diresmikan menjadi Hari Film Nasional oleh Presiden ke-3 BJ Habibie bersama Dewan Film Nasional. Sebelum berkarier di dunia perfilman, Usmar Ismail lebih dulu terjun di dunia sastra, khususnya di seni drama.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari berbagai sumber

Cara Retlehs Tuangkan Keresahan Sang Pembetot Bas

Retlehs (nama yang cukup njelimet untuk dieja dan disebutkan) telah merilis sebuah nomor dengan judul “Matahari” pada Senin (29/11) dengan bantuan Sinjitos Collective. Lirik dari nomor tersebut diangkat dari masalah...

Keep Reading

Libido Bermusik Muto dalam EP Debut

“Dalam proses penciptaan lagu-lagu Muto, kata ‘yeah yeah yeah‘ juga merupakan ekspresi kepuasan mereka terhadap lagu-lagu yang mereka ciptakan; seperti merasakan nikmatnya masturbasi,” jelas keterangan pers yang dikirimkan Muto mengenai...

Keep Reading

Urban Sneaker Society Akhirnya Kembali Secara Luring

Kabar gembira bagi para fesyen enthusiast, Urban Sneaker Society 2021, event Sneakers tahunan yang diadakan USS Networks sejak 2017, kembali hadir secara offline di Jakarta Convention Center (JCC) pada tanggal...

Keep Reading

Nuansa Abad Pertengahan Progresif di Karya Baru Tara Sivach

Tara Sivach merupakan seorang solois asal Jakarta yang mencoba masuk dalam ranah goth. Dengan nuansa abad pertengahan kelam khas gotik yang dicampur dengan rok semiprogresif dan gaya vokal klasik, ia mencoba...

Keep Reading