Sabarbar adalah moniker yang digunakan oleh Akbar Adi Wibowo. Ia jadi salah satu musisi solo asal Jogjakarta yang penampilannya susah ditebak. Ia bisa bermain gitar sambil bersendawa, menyikat gigi sembari berkumur di salah satu aksi panggungnya atau memamerkan muka datarnya yang di luar nalar.

Produktivitas merilis karya ada di dalam ceritanya. Sampai hari ini, Sabarbar telah menghasilkan beberapa album. Distribusi digital dari satu netlabel ke netlabelnya menjadi pola dalam menyebarluaskan karyanya yang harus diakui bisa mengernyitkan wajah ketika didengarkan.

Musik Sabarbar sering dibilang sebagai freak folk. Mungkin, karena memang benar-benar freak. Ia pribadi, tidak mempermasalahkannya. “Tapi, ya nggak tahu nanti mungkin bisa saja pemikiranku berubah, pengennya disebut apa gitu,” responnya tentang kalungan sebutan freak folk tadi.

Mundur ke belakang, Sabarbar berawal dari kegemarannya bermain Playstation. Game Smackdown yang berisikan soundtrack dari Megadeth, Dillinger Escape Plan dan beberapa nama lainnya membuatnya jatuh cinta.

Cinta itu dirawat. Setelah lulus SMA, ia bertemu dengan Wednes Mandra dari Rabu dan Pati Rasa Records. Di era ini, ketertarikannya dengan musik noise membuat ia merilis sesuatu di Pati Rasa Records. Proyek bernama Mbak Mona itu dirilis tahun 2011. Ia pun aktif bergabung di Jogja Noise Bombing.

Tidak hanya musik noise, ia juga merupakan orang yang terpengaruh dengan keberadaan JKT48. Di dalam beberapa kesempatan, ia memasukkan sisipan chant JKT48 sampai mengkover Kimi Ni Au Tabi Koi Wo Suru. Lagi-lagi Wednes Mandra yang berjasa mengenalkan band ini. “Aku nonton iklan sebuah minuman kesegaran di TV. Terus dikasih tau Wednes kalau itu adalah JKT48. Terus jadi ngulik band itu dan mengidolakan Melody,” jelasnya.

Keberadaan Sabarbar sendiri, benar-benar bermula pada pertengahan 2012 ketika ia ingin bermain gitar akustik dengan irama musik stoner yang dibumbui puisi. Ia banyak terpengaruh Dodi Hamson dari Komunal lewat album Gemuruh Musik Pertiwi. Suaranya dibikin serak meniru Dodi.

Di awal karirnya, Sabarbar mengaku bahwa penampilannya tidak pernah terkonsep dan cenderung dijalani saja tanpa rancangan yang jelas. Baru akhir-akhir ini kostum digunakan sebagai tambahan perabotan. “Itu marketing saja sebenarnya sih, biar lebih laku,” jelasnya. “Soalnya, aku bosan kalau main pakai baju biasa gitu. Aku juga merasa musikku gitu-gitu saja,” lanjutnya.

Gaya panggung itu terinspirasi dari cerita absurd seri manga Bobobo-bo Bo-bobo yang ditulis dan diilustrasikan oleh Yoshio Sawai. “Aku juga dipengaruhi oleh aktor Jepang, Sato Jiro, yang cenderung komedi,” ceritanya lagi.

Karya-karya Sabarbar kebanyakan dirilis oleh Ear Alert Records. Jangan terlalu heran, kandungan eksperimental memang besar di dalam musiknya. Keberanian itu, membuatnya menjajal sejumlah kesempatan penting di scene lokal Jogjakarta. (*) 

Teks: Indra Menus
Foto: Indra Menus