Film Billie yang Menceritakan Kelak-Kelok Jalan Musik Billie Holiday

Menghabiskan waktu 200 jam wawancara. Diantaranya, melibatkan nama-nama seperti Tony Bennett, Charles Mingus, Sylvia Syms dan Count Basie, serta orang-orang yang mengenalnya dengan baik. Sebuah materi film dokumenter yang belum pernah terdengar sebelumnya. Layar bioskop arahan James Erksine itu merawikan kelak-kelok jalan bermusik Eleanora Fagan. Bernama panggung Billie Holiday, betul dengan ia adalah seorang legenda jazz. Itu tak diragukan lagi. Tetapi sebagian besar kehidupan Billie Holiday tetap menjadi teka-teki, buat pendengar musik sekarang terutama. 

Menjelang ia menutup mata di tahun 1959 di usia 44, hampir ia tak memegang sepeser pun uang di detik-detik itu. Ia menjadi korban suami dan manajer durjana yang mencuri nyaris di setiap lembar fulus yang ia terima. Ia diperkosa saat remaja. Mulai bekerja ia sebagai pelacur di umur 13, usia yang masih belia. Sebagian naskah film berjudul ‘Billie’ itu berasal dari sebuah buku yang tak pernah terbit. Di 1971, seorang jurnalis Linda Lipnack Kuehl, penggemar berat penyanyi bertanggal lahir 7 April 1915 itu, memutuskan untuk menulis biografi solois berjuluk ‘Sang Lady Day’ itu. 

Untuk catatannya itu, ia melewatkan delapan tahun mengumpulkan wawancara. Namun, belum sempat ia bukukan, ia meninggal di 1979. Klaim polisi Washington DC bahwa ia terbujur tak bernyawa ialah bunuh diri musababnya. Dugaan polisi dipandang keluarga sang penulis terlalu mengada-ada. Untuk materi tambahan film ini, Erskine berusaha menyelidiki masalah itu tetapi semua bukti yang dikumpulkan oleh polisi DC telah tiada tak berbekas, entah ke mana.

Meskipun begitu, entah dari mana pula Erskine punya arsip audio berisikan suara asli Billie Holiday. Di rekaman audio itu, ia saat itu tengah ditanya-tanya ini-itu di sebuah acara. Billie, dalam rekaman suara yang ditampilkan dalam film ‘Billie’ itu, pernah memberi wejangan. Ke seorang teman itu ia berujar: “Jika kamu hampir tertawa, penonton akan tertawa. Jika kamu hampir menangis, penonton pun menangis.” Sementara yang kita lihat dalam ‘Billie’ itu, daripada kegembiraan, di raut wajah dan bahasa tubuhnya rasa hati lara tak terkirakan lebih kelihatan. 

Suara resahan hati Billie pun terdengar jelas ketika ia bernyanyi “Strange Fruit”. “Strange Fruit” ia rekam di 1939 dari sebuah puisi. Di 1937, Abel Meeropol lah yang menulis puisi itu. Selain penyair, Meeropol adalah seorang aktivis Kiri. “Strange Fruit” jadi lagu kontroversi. “Strange Fruit” bercerita tentang luka lama yang sudah dipendam dalam di sejarah Negeri Paman Sam. “Strange Fruit” memprotes perlakuan lynching di peralihan abad 20, sesuatu pembunuhan terencana oleh ras tertentu pada ras lain tertentu. Kebetulan, mayoritas korban di tahun-tahun Billie hidup adalah bangsa kulit berwarna. Ras berkulit putih pelakunya. Di situ Billie bersenandung dengan mati rasa, dengan kengerian yang harus dialami oleh begitu banyak pendahulunya yang orang Afrika-Amerika. Hingga ketika itu, atau sampai sekarang bahkan, Billie mesti mengulang rasa kepedihan serupa. Lagu peraih “Best Song of the Century” di 1999 dari majalah Time itu sampai-sampai dipandang sebagai deklarasi perang sewaktu itu.

Walaupun ‘Billie’ malah banyak menampilkan kisah si jurnalis, yang akhirnya menjadi nilai minus film ini, tapi lewat ini kita bisa tahu seberapa berbakatnya Billie Holiday sebagai penyanyi. “Yang penting bagi saya adalah memastikan ada cukup ruang dalam film itu untuk kita duduk mengagumi kekuatan, juga kejeniusannya. Penonton akan paham sendiri bahwa kisah Billie hanya dapat ditelusur melalui lagu-lagu yang ia nyanyikan,” kata Erskine di hadapan media. Film ini baru ditayangkan di beberapa festival. Di bioskop publik, untuk pertama kali film ini akan rilis di 13 November besok di beberapa tempat di Inggris.                    

Teks: Emha Asror
Visual: Arsip Greenwich Entertainment

Fragmen Keinginan sheisjo di Nomor "OOE"

Solis asal Jakarta Chika Putri Bagaskara dengan moniker sheisjo telah melepas materi lagu berikutnya yang bertajuk “OOE” (15/08). Sedikit berbeda dari tiga single sebelumnya yang memiliki sound acoustic, “OOE” diracik...

Keep Reading

Inspirasi Film di Materi Teranyar Eastcape

Tahun 2021 lalu menjadi tahun yang bisa dibilang ‘manis’ bagi Eastcape karena di tahun tersebut mereka resmi memperkenalkan dirinya di kancah industri musik dengan menelurkan sebuah single dan Split EP...

Keep Reading

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading