Untuk kali kedua, Galeri Nasional Indonesia menyelenggarakan “Festival Seni Media Internasional Instrumenta” pada 23 Oktober hingga 19 November 2019 lalu. Festival yang diinisiasi dan disponsori oleh Subdit Seni Media, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI ini menghadirkan tajuk “Machine/Magic” yang berbasis pada gagasan-gagasan fiksi ilmiah.

Sebelumnya, pada penyelenggaraan pertama di tahun 2018, Instrumenta mengusung tema permainan/game melalui tajuk “Sandbox” (sebuah istilah yang populer dalam ranah permainan simulasi dan open-world).

“Instrumenta 2: Machine/Magic” menghadirkan 28 seniman nasional dan internasional, empat di antaranya menampilkan karya performans. Memanfaatkan Gedung A dan C Galeri Nasional Indonesia sebagai ruang pameran utama, Instrumenta tahun ini juga menggandeng venue lain seperti Bentara Budaya Jakarta untuk penyelenggaraan Diskusi Panel yang mengundang institusi seni media asal Jepang, NTT/ICC dan The Japan Foundation Asia Center, serta Auditorium Goethehaus, Goethe Institut, untuk penyelenggaraan karya performans (Etza Meisyara, Duto Hardono & Tromarama, dan Tontey and the Krazy Kosmic Konspiracy) dan special lecture dari salah satu seniman internasional asal Melbourne, Australia, Stelarc.

Pameran utama dibuka pertama kali pada Rabu petang, 23 Oktober 2019. Memasuki pintu ruang pamer, pengunjung disambut dengan karya Dwiky KA (Surabaya) berjudul “X-SPIDER PUNX” yang terinspirasi oleh karakter dalam novel fiksi ilmiah berjudul “Getaran” (1972) karya Djokolelono.

Kumpulan dokumentasi kekaryaan Stelarc, seniman asal Melbourne, Australia, dok: Andang Iskandar/Humanika Artspace

Beranjak ke area depan Gedung A Galeri Nasional Indonesia, terdapat dua karya dengan dominasi material kayu: “The Last Fate Machine” karya Rudi Hendriatno (Yogyakarta) dan “Spacetime Architecture Experiment #1” karya Rianti Gautama (Jakarta).

Karya Rudi menuntut interaksi yang dilakukan oleh lebih dari satu orang pengunjung, sementara karya Rianti diletakkan seolah sebagai jembatan masuk ke dalam ruang pamer. Di ujung karya Rianti terdapat salah satu karya Nurrachmat Widyasena (Bandung) berjudul “LAPAN: Sandang Angkasawan”, seri dua karya yang diletakkan saling memunggungi dengan sekat sebuah tembok.

Pada tembok bagian belakang juga diletakkan karya Nurrachmat lainnya, sebuah karya rekaman bunyi berjudul “LAPAN: Uji Roket RX 320”. Tiga karya tersebut berkaitan dengan riset ekspedisi luar angkasa yang dilakukan sang seniman bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Gedung A berisi setidaknya 14 karya seni media dengan beragam gagasan fiksi ilmiah. Vvzela Kook (Hong Kong) melalui karya berjudul “Gods and Pilgrims”, mengangkat gagasan yang terinspirasi oleh film seri “American Gods” (2017 – sekarang), Skawennati (Kanada) yang membuat narasi tokoh perdamaian semesta melalui karya berjudul “The Peacemaker Returns”, hingga karya kolektif seniman Cut and Rescue (Jakarta) yang mengangkat gagasan tentang pewarisan ilmu pengetahuan serta kaitannya dengan aspek agama dalam karya “Berpikir Secara Magis”.

Karya kolaborasi Rega Rahman dan Bandu Darmawan yang merespons sosok seniman Sudjana Kerton, dok: Andang Iskandar/Humanika Artspace

Di bagian tengah Gedung A, terdapat area khusus usia 18 tahun ke atas yang berisi tiga seniman. Hayashi Chiho (Jepang) dengan instalasi patung dan video berjudul “Artificial Lover & True Love” yang terinspirasi oleh film “Ghost” (1990), Irene Agrivina (Yogyakarta) dengan instalasinya berjudul “Entangled Beauty – A Perfect Marriage” yang mengangkat hubungan dua organisme dan keterkaitannya dengan kepercayaan pada Dewi Kesuburan di Asia Tenggara, serta kumpulan dokumentasi kekaryaan Stelarc (Australia), seorang seniman legendaris dengan basis kekaryaan seni performans, dalam bentuk foto dan video.

Selain memajang dokumentasi kekaryaannya, Stelarc juga hadir sebagai pemateri untuk dua program publik Instrumenta: special lecture yang diselenggarakan di Goethehaus dan lokakarya di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia pada tanggal 11 dan 12 November, 2019.

Menjelang penghujung ruang pamer Gedung A, pengunjung dapat mengapresiasi karya Benny Wicaksono (Surabaya) berjudul “Double Layer Panopticon”. Karya tersebut mengangkat tema surveillance yang terinspirasi oleh karya George Orwell dengan judul “1984”.

Bersebelahan dengan karya Benny, terdapat karya Monica Hapsari berjudul “Kechari” yang terdiri dari ragam komponen seperti bunyi, objek, hingga bebauan. Karya Monica mengangkat fenomena gelombang dan frekuensi yang mampu mempengaruhi mental seseorang.

Benny dan Monica, bersama Cut and Rescue, Irene Agrivina, dan Dwiky KA juga hadir mengisi sesi artist talk yang diselenggarakan pada tanggal 11 November di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia.

Rangkaian karya di Gedung A diakhiri dengan karya kolaborasi Rega Rahman dan Bandu Darmawan (Bandung) yang tertarik merespons sosok seniman Sudjana Kerton dan Mei Homma (Jepang) dengan gagasan yang terkait dengan organ dalam tubuh perempuan.

Instalasi Rega dan Bandu berjudul “Ciburial Project – Sudjana Kerton” mengangkat fenomena sang seniman yang konon sempat beberapa kali berinteraksi dengan alien. Sementara Mei, melalui karya video berjudul “Our Special Organ”, mengelaborasi posisi perempuan dalam masyarakat melalui pembahasan mengenai organ plasenta.

Karya Abshar Platisza, seniman muda asal Bandung, yang mengangkat gagasan transhuman, dok: Andang Iskandar/Humanika Artspace

Beranjak ke Gedung C Galeri Nasional Indonesia, pengunjung akan berhadapan dengan karya-karya dari kelompok seniman KULTse (Bandung), Riar Rizaldi (Bandung/Hong Kong), Nur Amira Hanafi (Malaysia), Marjan Verstappen (Selandia Baru), Farhanaz Rupaidha (Cikarang), Gilang Anom (Bandung), Abshar Platisza (Bandung), dan kolaborasi Nindya Nareswari (Bandung/Jerman) dan Maulana Ahmad (Bandung).

Kombinasi antara material fisik dan non-fisik (dalam bentuk teknologi Augmented Reality) dihadirkan KULTse melalui karya berjudul “Tanda-tanda Zaman Baru”. Sementara Riar tertarik mengelaborasi pentingnya elemen timah di era digital melalui karya dokumenter berjudul “Kasiterit” yang sebelumnya sempat dipamerkan di beberapa negara seperti Hong Kong dan Swiss.

Nur Amira mengolah kaitan antara ragam jenis musik dengan pertumbuhan bakteri dalam karya berjudul “Another Us”. Eksplorasi Nur Amira dilakukan di salah satu laboratorium Institut Teknologi Bandung.

Bagian tengah Gedung C diisi oleh karya berjudul “We’ll be Dead by Then” oleh Marjan Verstappen yang mengangkat isu lingkungan dan akuisisi lahan. Kemudian karya Farhanaz dengan tema dalam lingkup yang beririsan berjudul Ground.

Karya Gilang Anom atau Orcyworld berjudul Jagadrasa mengelaborasi gagasan membaca dan menerjemahkan bahasa semesta melalui bentuk performans (pada saat pembukaan pameran) dan eksplorasi linguistik. Gedung C ditutup dengan instalasi transhuman Abshar Platisza berjudul Dalam Memalarkan Kementakan dan kolaborasi Nindya dan Maulana yang mengolah gagasan lapisan dimensi dalam Multiverse.

Penyelenggaraan “Festival Seni Media Internasional Instrumenta 2: Machine/Magic” sukses menghadirkan sekitar 12.811 pengunjung. Dalam catatan penyelenggara, angka tersebut meningkat dari jumlah 7.987 dalam penyelenggaraan tahun lalu. Sebuah peningkatan signifikan dan mungkin saja terkait dengan meningkatnya minat terhadap perkembangan seni media tanah air.

Menarik untuk menyimak bagaimana tim kuratorial, yang di tahun ini terdiri dari Agung Hujatnika, Bayu Genia Krishbie, Bob Edrian, dan Gesyada Siregar, dapat kembali menghadirkan ragam tema lainnya dalam perhelatan Instrumenta berikutnya. Instrumenta 2020?

Teks & Visual: Bob Edrian