Festival Besar Milik Goethe-Institut yang Bernama Retas Budaya

Seperti sebelum-sebelumnya, Goethe-Institut terus memberikan inovasi guna memberikan ragam hiburan di tengah kondisi pandemis saat ini. Seperti yang kita rasakan nih, di tahun ini memang semua orang sedang diuji, banyak industri luluh lantah akibat adanya Covid-19 di seluruh dunia. Secara langsung hal ini juga berdampak pada kelangsungan hajat hidup banyak industri kreatif di sini, salah satunya adalah musik. Kita semua tahu, jadwal dari penyelenggaraan konser musik yang sudah direncanakan secara matang dari jauh hari banyak yang mengalami pembatalan maupun penjadwalan ulang. Band/musisi yang sudah mengantongi banyak jadwal pun dengan sangat terpaksa ikut membatalkan jadwal tersebut.

Di zaman yang serba digital saat ini, kehadiran platform digital sangatlah membantu bagi band/musisi untuk terus berkarya. Tidak ada ruang untuk manggung? Bisa diciptakan. Penontonnya? Dari rumah masing-masing. Platform streaming musik semisal Spotify saat ini juga sangat digandrungi oleh banyak orang, YouTube apalagi. Semua bisa dimanfaatkan untuk berkarya dan terus menjalankan bisnis. Kemudahan-kemudahan seperti inilah yang harusnya dijalankan dengan sangat serius di tengah kondisi yang ada saat ini. Masih banyak cara untuk menciptakan pasar sendiri.

Festival yang akan dijalankan oleh Goethe-Institut ini bernama, Retas Budaya. Bentuk kreasi ini adalah sebuah program yang mempertemukan lembaga-lembaga GLAM (galeri, perpustakaan, arsip, museum) dengan banyak orang-orang kreatif serta pegiat teknologi untuk menghasilkan bentuk kolaborasi dan inovasi yang bersumber atas data budaya terbuka. Festival ini sendiri tidak dijalankan sendiri oleh Goethe, melainkan terjadi atas kerja sama antara Wikimedia Indonesia, Asosiasi Game Indonesia, Retas Budaya menjalin kerja sama dengan lembaga dan organisasi yang memiliki data budaya dalam rangka menerbitkan sebagian koleksi mereka sebagai data budaya terbuka. Retas Budaya diluncurkan dengan kesadaran bahwa budaya itu milik kita semua, bukan hanya milik para peneliti, akademisi atau instansi pemerintah.

Maka dari itulah, arsip budaya sudah seharusnya bisa diakses dan dinikmati oleh orang banyak tanpa biaya masuk yang tinggi atau kendala akses lainnya. Retas Budaya tidak sebatas akses—aspek pemanfaatan juga penting. Jika publik diberi keleluasaan untuk memanfaatkan ulang arsip budaya berbekal kreativitas masing-masing, arsip budaya akan menjadi lebih kaya dan tidak akan terancam oleh akses publik. Sebagai contoh, lukisan klasik bisa diimajinasikan ulang menjadi aneka jenis desain produk, seperti casing ponsel, kaus, sepatu, tudung lampu, dan banyak lagi.

“Untuk meningkatkan kesadaran mengenai isu ini, kami menyelenggarakan rangkaian seminar daring dwimingguan Retas Budaya sejak Juni 2020 guna menyampaikan informasi praktis bagaimana teknologi digital dapat membantu lembaga GLAM membuka akses kepada koleksi budaya masing-masing sambil mendorong pemanfaatan ulang oleh para pengunjung. Narasumber seminar dari Juni hingga awal Agustus meliputi Hilmar Farid (Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI), Rachmat Wahidi (Wikimedia Indonesia), Paulus Eko Nugroho dan Dion Rahman (PT Elex Media Komputindo), Ari Juliano Gema (Staf Ahli Menteri bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), Fariz Darari (peneliti dan lektor Universitas Indonesia) serta Raisha Abdillah (staf teknologi Wikimedia Indonesia).” Terang pihak Goethe-Institut.

Festival Retas Budaya merupakan festival bagi para kreator sekaligus perayaan data budaya terbuka. Festival ini akan menjadi tantangan kreatif bagi kaum seniman, desainer, penulis, dan pengembang game. Mereka akan diminta untuk memanfaatkan data budaya terbuka yang disediakan oleh lembaga GLAM, lalu menciptakan cerita, game, desain digital, dan remix audio. Data budaya akan ditransformasikan ke dalam kreasi baru yang memiliki kehidupan tersendiri.

Partisipasi pada Festival Retas Budaya terbagi ke dalam beberapa track (kategori kompetisi):
– Cerita dari data
– Game dari data
– Remix data terbuka
– Citizen Science & data terbuka

Puncak program akan diselenggarakan secara virtual pada tanggal 6-8 November 2020.

– Hari ke-1 Festival (Jumat, 6 November) akan diisi dengan berbagai diskusi yang memperkaya seputar tema budaya dan teknologi digital bersama pakar-pakar GLAM dari Asia Tenggara dan Jerman.

– Hari ke-2 dan ke-3 (Sabtu & Minggu, 7-8 November) akan ada sesi lokakarya dan acara bincang-bincang bersama pakar-pakar industri kreatif. Hasil karya dari semua akan dipresentasikan dan karya terbaik akan diumumkan di malam penutupan pada hari Minggu. Festival akan ditutup dengan pementasan Uwalmassa, sebuah trio yang memasukkan elemen-elemen dari spektrum musik yang luas—mulai dari tradisional hingga modern—ke dalam musik mereka.

Pengunjung festival dapat bergabung dalam berbagai sesi lewat platform Zoom dengan mendaftarkan diri sebelumnya atau dengan menonton livestreaming di kanal media sosial Goethe-Institut Indonesien. Sementara konser akan disiarkan secara langsung melalui platform daring.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Goethe-Institut

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading

Superglad Yang Kembali Melangkah

Superglad adalah band yang namanya tidak perlu lagi dipertanyakan di kancah musik tanah air. Setelah diterpa berbagai permasalahan yang sempat terjadi di dalam tubuh mereka, band yang terbentuk sejak tahun...

Keep Reading