Jalan Panjang Mendengarkan Musik

Membicarakan musik seperti tidak ada habisnya. Setiap hari berkegiatan pasti kita ditemani oleh musik, baik itu dari waktu bangun, bekerja, hingga tidur, semua tentang musik. Begitu juga di fase tumbuh kembang, pasti kita sering disuguhkan lantunan-lantunan aduhai ke telinga kecil. Musik memang bahasa universal bagi semua manusia, tanpanya mungkin hidup ini hambar tak berasa. Musik adalah suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, nada, dan keharmonisan terutama dari suara yang dihasilkan dari alat-alat yang dapat menghasilkan irama. Tapi, setiap orang memaknai musik dengan interpretasi yang lebih luas lagi. Musik bagi setiap orang adalah anugerah.

Orang-orang sih umumnya tidak terlepas dan menyukai musik, apapun jenisnya. Tapi, mungkin sebagian dari kita belum menyadari bahwa, musik yang kita dengarkan juga bisa mempengaruhi tubuh dan pikiran loh. Musik dan gelombang suara dengan ketepatan frekuensi yang pas bisa digunakan untuk mengatasi beberapa masalah dan meningkatkan kualitas hidup, mantep bener pokoknya. Yang dalam artian, musik mampu menjadi moodbooster yang bisa membangkitkan gairah dan semangat untuk beraktivitas bahkan.

Dan lagi, tidak mesti menjadi musisi untuk bisa mencintai lebih musik. Setiap orang memiliki hak atas cinta terhadap musik. Dari sisi industri, musik tidak bisa dilepaskan dari entitas yang lain. Misal ada musisi/band ingin merilis sebuah album, pastinya mereka akan membutuhkan desainer hingga vendor percetakan album. Dari hal tersebut, bisa kita simpulkan bahwa musik bisa memberi kehidupan bagi banyak pihak.

Nah ngomong-ngomong nih ya, di sini kami mau cerita soal fase musik yang ada di diri penulis, dan beberapa teman. Pasti dong ya semua udah ngelewatin fase musik yang berbeda-beda, walaupun ada juga yang selera musiknya gak berubah-berubah sih. Tapi yang ditekankan di sini adalah perubahan selera musik seseorang itu bukan karena dia poser, banyak orang yang mengatakan kalau selera musik berubah-berubah itu karena dia hanya ikut-ikutan. Ada benar, tapi ada salahnya juga. Namanya masih menjadi sosok yang bersosial, fase ini pastilah muncul, dan akan selalu ada. Contohnya waktu kita kecil sering dicekokin lagu anak-anak, dan akhirnya doyan, tapi saat dewasa semua berubah. Begitu juga ketika kita dihadapkan di era pergaulan yang lebih luas, penulis sendiri bahkan pernah bergaul di banyak komunitas musik yang ada di kota asal.

Untuk era musik, di Indonesia sendiri kejayaan berbagai jenis musik sudah terjadi sejak dulu kala. Pengaruhnya jelas datang dari luar Indonesia, tapi kebanyakan musisi juga meramu musik luar dengan gaya yang pas dengan pasar yang ada di sini. Masih teringat jelas di kota asal penulis, saat ramai-ramainya musik emo/post hardcore/screamo hadir, semua selera berkiblat ke sana. Dandanannya pun hampir sama rata di era itu, rambut gondrong, poni lempar, baju dan celana ketat, tindik, dan musik keras mendayu-dayu. Lalu, pergeseran terjadi ketika era musik metal dan hardcore sedang digemari, lagi-lagi semuanya mengikuti dan memainkan gaya yang ada. Tapi banyak juga yang masih mempertahankan gaya musik dan dandanan mereka hingga saat ini. Nilai positifnya adalah khasanah akan musik menjadi sangat luas, kan enak tuh saat nongkrong dengan komunitas dari musik A, padahal kita dari komunitas musik B, tapi bisa nyambung obrolannya. Dari yang awalnya tidak tahu dan senang dengan musik jenis yang tidak kita tahu atau sukai, akhirnya setelah rajin mengamati dan mendengarkan, jadi suka.

Ramai musik folk, hampir bisa dipastikan banyak musisi yang memainkan musik sejenis. Lagi-lagi jenis musik semakin banyak bertambah, referensi juga semakin meluas. Fase menyepelekan orang lain yang tidak memainkan musik yang sama dengan kita pasti terjadi. Kadang, sering kali kita temui orang-orang yang berdebat akan selera musik milik mereka. Menyalahkan musik ini, dan membenarkan musik itu. Apakah hal itu benar? Padahal, tidak ada yang salah dengan musik, begitu pun dengan selera. Yang salah adalah bila kita memaksakan selera kita untuk disukai oleh orang lain. Contohnya, menganggap yang tidak mendengar band A adalah kolot, atau mendengar band B adalah superior. Hal ini biasanya terjadi karena sifat kekanak-kanakan di masa remaja, merasa paling kerenlah kasarnya. Padahal semua musik tidak ada yang salah ataupun benar, musik sifatnya netral. Musik adalah sesuatu bisa yang menembus segala batas.

Dari semua fase itu, sampailah penulis di masa mendengarkan semua jenis musik adalah hal yang paling menyenangkan. Sekarang musik didengarkan sesuai kondisi, kapan sedang sedih, penulis mendengarkan musik berdistorsi, saat suasana santai mendengarkan musik pop dan folk adalah waktu yang tepat. Kpop pun juga didengarkan, walaupun banyak orang yang tidak senang (entah hal apa yang membuat orang-orang tidak suka musik dari negeri ini), banyak hal positif yang patut ditiru dari industri besar musik di Korea Selatan tersebut. Salah satunya adalah program training untuk para calon artis mereka. Kembali lagi, musik adalah bahasa universal, kadang kala lirik dan bahasa yang digunakan tidak terlalu dipedulikan, asal musiknya nyaman di telinga, tinggal  dengarkan saja.

Sebagai penutup. Mari kita jaga bersama keindahan musik yang ada. Mari selalu dukung pergerakan-pergerakan yang ada. Tidak suka dengan sesuatu boleh, benci jangan. Sebab, bisa saja kalian tidak mendapatkan manfaatnya, tapi buat orang lain belum tentu sama seperti kalian. Jika ingin mendukung suatu musisi, beli karyanya, jangan selalu berharap sesuatu dengan gratis.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Video Musik Bintang Massa Aksi .Feast

Abdi Lara Insani yang merupakan single utama dari album teranyar .Feast berjudul Bintang Massa Aksi ini ternyata masih memiliki keberlanjutan dengan dirilisnya sebuah video klip resmi di kanal YouTube .Feast (22/11/22). Video klip ini melibatkan...

Keep Reading

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading