Fans Musik, Jasamu Sungguh Besar

Di tengah semakin banyaknya kelompok musik yang bermunculan, tentu saja semakin banyak juga pendengar musik baru. Tak hanya mendengarkan saja, namun tak jarang para pendengar tersebut berubah wujud menjadi seorang fans dari kelompok musik yang mereka ikuti ataupun yang mereka dukung. Biasanya  bermula dari dari satu individu dan bertemu dengan individu lainnya yang memiliki kegemeran yang sama, akhirnya Fandom alias Fans Kingdom atau Fanbase pun terbentuk, bermula dari hitungan jari sampai tersebar ke seluruh dunia dengan jumlah anggota yang tak terhitung banyaknya. Fanbase pun akhirnya tak hanya menjadi sekelompok orang yang mendengarkan musik yang sama saja, tetapi juga sangat membantu band yang mereka dukung, semisal dalam pemasaran karya, semacam simbiosis mutualisme di mana keduanya dapat saling menguntungkan. Tak bisa dipungkiri, seorang fans juga adalah kepanjangan tangan bagi si band untuk menjangkau pendengar yang lebih luas.

(Fans Kelompok Penerbang Roket. Doc: Rock In Celebes)

Tentu banyak cerita dan pengalaman menarik  di balik menjadi seorang fans. Semisal bergabung dengan Pasukan Mati, fanbase unit metal bernama Deadsquad. Salah satunya ada Brandon yang mengetuai Pasukan Mati chapter Makassar. Dirinya bercerita bahwa dia ingat betul tentang pengalamannya ketika pertama kali bergabung dengan Pasukan Mati. Diceritakan saat itu Brandon ditawari untuk menjadi leader Pasukan Mati chapter Makasar oleh manager Deadsquad, Jeff Adriano. Tanpa pikir panjang ia menyetujuinya tanpa ragu.

“Saya ingat benar 14 Agustus 2016. Niatnya cuma mau nonton Ritual, band Thrash Metal lokal. Pas di backstage ketemu Jeff Adriano, Managernya Deadsquad. Singkat cerita, saya ditawari jadi leader Pasukan Mati untuk chapter Makasar. Tentu saja diiyakan tanpa ragu. Dibawa ke backstage Deadsquad. Di situ dikenalkan sama Stevi, Daniel, Alan, Gorust, sama Karisk. Auto-starstruck euy! Hahaha.” Tuturnya menjelaskan.

Seperti halnya dengan kebanyakan komunitas maupun kolektif di ranah lain, bergabung disebuah fanbase pun dapat dijadikan sebagai jembatan untuk dapat saling berjejaring antara satu daerah dengan daerah lainnya. Terbentuknya sebuah fanbase sangat memungkinkan orang-orang yang datang dari latar belakang berbeda dapat bertemu di ruang dan frekuensi yang sama. Di dalamnya mungkin tak hanya membicarakan musik semata, namun juga kegiatan-kegiatan lain maupun isu yang sedang hangat di daerahnya masing-masing.

“Menjadi Pasukan Mati juga jadi semacam icebreaker untuk bangun jejaring antar komunitas. Entah itu di dalam atau luar Makasar. Jejaring yang terbangun karena saya PasukanMati juga sejauh ini baik dan bermuara kemana-mana jadinya” pungkas Brandon.

Cerita lain pun datang dari Bayu Deidiry atau yang lebih akrab disapa Jobey. Ia adalah satu dari ribuan anggota Slankers yang tersebar di seluruh Indonesia. Jobey barangkali adalah satu dari sekian banyak penggemar yang rela melakukan apapun demi idolanya, termasuk mengejar konser dengan cara nyetreet atau menumpang dari angkutan satu ke angkutan lain tanpa harus bayar.

“Pengalaman pertama yang membuat keterusan adalah mengejar konser Slank dengan cara ngeteng (menumpang). Pertama pas kelas 1 SMA tahun 2011, kemudian paling jauh ke Surabaya. Pada akhirnya setiap ngejar konser Slank dengan cara seperti itu. Menyenangkan meskipun lumayan cape juga, karena dari setiap perjalanan pasti ada kisah tersendiri hahaha” ungkap Jobey

Jobey yang telah bergabung dengan Slankers dari tahun 2009 ini kini dipercaya untuk menjadi ketua Slankers Fans Club Garut. Berada diposisi yang mengharuskan pandai untuk mengatur sekian banyak anggota tak membuat ia menjadi orang yang menyebalkan. Sama halnya dengan yang lain, permasalahan dalam fanbase pun kerap terjadi, karena pada dasarnya fanbase masih merupakan kelompok yang memiliki pandangan dan isi kepala yang berbeda-beda.

“Meskipun saya ketua, tapi saya tetap ingin sama rata sama anak-anak yang lain, karena apapun yang dikerjakan pasti bareng-bareng. Jangan ada ego, jangan baper. Pro kontra pasti selalu ada. Tapi balik lagi ke diri kita sejauh mana kita bsa menyikapi hal itu” pungkas Jobey

Sebagai garda paling depan untuk mendukung band atau musisi yang mereka sukai, tak jarang para fandom ini rela melakukan apa saja demi idola yang mereka dukung. Semisal rela merogok kocek dalam-dalam untuk membeli merchandise, mengejar konser bahkan sampai ke luar negeri, juga meniru cara berbusana maupun bersikap. Di suatu fanbase, kegiatannya pun beragam. Tak hanya menjadi ruang untuk saling berjejaring ataupun bertukar informasi mengenai perkembangan si idola yang didukung, namun lebih jauh tak jarang fanbase ini melakukan kegiatan-kegiatan yang positif, semisal melakukan aksi solidaritas semacam menggalang dana.

(Bantuan ARMY Indonesia untuk Rumah Aman LBH Jakarta)

Seperti di pertengahan tahun 2020 lalu, ketika gerakan Black Lives Matter menggema, tak disangka-sangka para fanbase K-Pop muncul dan menjadi sekutu penting dalam gerakan tersebut. seperti kita ketahui fanbase K-Pop ini sudah tersebar di seluruh dunia dan mereka sangat aktif di media sosial. Melihat potensi yang ada, di samping mendukung artis yang menjadi favoritnya para fandom K-Pop ini turut bergerak dengan menghimpun dana untuk untuk mendukung gerakan Black Lives Matter, sekaligus menggiring para warganet kepada isu tersebut dengan menggalakan pelbagai hastag di Twitter, semisal #blacklivesmatter #alllivesmatter, dan lain sebagainya. Di Indonesia sendiri tercatat berbagai fanbase K-Pop ini pernah melakukan aksi-aksi solidaritas, salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh ARMY Indonesia –penggemar grup BTS. Pada September 2020 lalu mereka meyalurkan batuan berupa uang kepada “Rumah Aman” yang dikelola oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) APIK Jakarta. Dana tersebut ditujukan untuk melindungi perempuan korban kekerasan.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading

Superglad Yang Kembali Melangkah

Superglad adalah band yang namanya tidak perlu lagi dipertanyakan di kancah musik tanah air. Setelah diterpa berbagai permasalahan yang sempat terjadi di dalam tubuh mereka, band yang terbentuk sejak tahun...

Keep Reading