Evolusi Musik di Kota Medan dalam Kompilasi 'Arsip Sinar Pagi'

Arsip merupakan elemen penting hari ini. Terlebih urusannya dalam seni, khususnya musik. Di era analog dulu pengarsipan memang sangat sulit dilakukan, dan bisa dikatakan di Indonesia persoalan dokumentasi ataupun pengarsipan  telah menjadi kelemahannya tersendiri. Seperti kita tahu, di jaman dulu untuk merekam lagu saja perlu merogok kocek dalam-dalam alias mahal. Hal ini juga yang dialami oleh band-band Medan –khususnya mereka yang sudah lebih lama eksis di skena musik arus pinggir.

Namun, di jaman yang serba canggih seperti sekarang agaknya pengarsipan maupun produksi karya cukup mudah untuk dilakukan. Di mana kita bisa mendokumentasikan setiap denyut kreativitas di lingkangan kita sendiri melalui banyak medium, entah itu fisik maupun digital. Kemudahan pegarsipan di tengah pesatnya kemajuan teknologi akhirnya direspon juga oleh kawan-kawan pelaku musik di kota Medan hari ini. Biangnya adalah Kirana Broadcast, Madafaka Records, Broken Strings Studio, Teras Benji, Huria! Records, Pesona Experience, dan Gabe Gabe Tapes yang berinisiatif untuk merangkum evolusi skena musik di kota Medan dari tahun 2002 sampai dengan 2020.

Di tanggal 18 Desember 2020 lalu mereka merilis sebuah kompilasi bertajuk “Arsip Sinar Pagi”. Beberapa karya dari kelompok musisi terangkum apik di sana. Setidaknya ada 10 band yang bersarang dalam kompilasi tersebut, diantaranya MTAW, Suarasama, Beetleflux, No One Cares, Moongazing & Her, The Cangis, Kognes Park, Hello Benji and The Cobra, Pullo dan terakhir Korine Conception. Album kompilasi berisi 10 trek dari band independen yang tersebar di kota Medan ini sudah dirilis dalam format kaset oleh Gabe Gabe Tapes, sedangkan untuk rilisan digitalnya sudah  tersedia di toko musik digital The Store Front dan Bandcamp.

Inisiatif awal pembuatan kompilasi ini didasarkan pada suatu ide, yakni sebuah upaya untuk berbagi berbagai macam musik yang lahir dari kota Medan audiens yang lebih luas, entah itu para  pendengar, label, media, maupun promotor di luar kota Medan itu sendiri.

Nama ‘Sinar Pagi’ pun memang begitu lekat dengan kota Medan. Jika kalian pernah berkunjung ke kota tersebut tentu akan familiar dengan nama Sinar Pagi ini. Ya, nama Sinar Pagi sendiri adalah  nama yang identik dengan Soto yang terkenal di sana, yakni Soto Sinar Pagi. Se-variatif  hidangan dalam semangkuk soto, dalam kompilasi ini pun karya-karya yang terangkum datang dari generasi yang berbeda dengan ragam warna musik yang berbeda pula. Mulai dari Suarasama dengan eksperimental world music-nya, Hello Benji and The Cobra dengan musik psychedelic funk hingga Pullo yang lekat dengan post-punk.

Keberagaman warna musik yang lahir dari kota Medan juga turut direspon oleh Reno Nismara dari Studiorama yang terangkum dalam booklet penyerta rilisnya album ini. Tak bisa dipungkiri, musik meupakan bagian dari denyut kota Medan itu sendiri.

“Alhasil, album kompilasi ini mampu merangkum kancah musik Medan yang kaya warna, merefleksikan penduduk kotanya yang multietnis dan memiliki beragam latar belakang. Dari world music Suarasama hingga post punk Pullo, shoegaze Korine Conception sampai psychedelia Hello Benji & the Cobra, semua bertumpah ruah di sini” tulis Reno

Sedangkan Ican Hareem dari unit eksperimental Gabber Modus Operandi dengan sedikit  bernostalgia menulis catatan untuk album ini: “Mendengar kompilasi ini seperi terbang ke era Yeah10 dasawarsa sebelumnya, di era-era pergi ke gigs itu benar-benar untuk nyari telernya, sambil berpeluh, berjoget dengan segala multi aliran musik yang apapun, sambil ceki-ceki di toilet”.

Kompilasi album “Arsip Sinar Pagi” kini sudah bisa kalian beli beserta sebuah booklet digital. Gabe Gabe Tapes memilih untuk merilis album ini ke dalam format kaset pita. Sementara untuk pembelian digitalnya sudah bisa kalian lakukan pada platform The Store Front dan Bandcamp.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip Sinar Pagi

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading

Themilo Rangkum Perjalanannya di Nomor "Flow"

Dua dekade berlalu dan Themilo tetap berjalan dengan syahdu. Pada akhir Juli 2022, unit shoegaze dari Bandung yang berdiri sejak 1996 ini baru saja merilis single terbaru mereka berjudul “Flow”....

Keep Reading

Adaptasi Kehidupan Digital di Koleksi Terbaru Monstore

Jenama pakaian dan gaya hidup Monstore mengumumkan koleksi terbaru mereka dengan nama “New Fictional Temptation”. Koleksi ini diluncurkan sebagai rilisan ‘solo’; non-kolaborasi dari Monstore setelah berbulan-bulan lebih fokus bekerja sama...

Keep Reading