Empat Musisi Bergabung Luncurkan Album Kompilasi dalam Aset NFT

Kehadiran NFT atau Non Fungible Token sedang ramai dibicarakan oleh banyak orang. Secara sederhananya, NFT adalah sebuah tempat untuk memperjual-belikan aset digital menggunakan sistem blockchain, dengan menggunakan mata uang kripto sebagai alat tukarnya. Aset digital yang dimaksud mencakup banyak hal, mulai dari foto, video, ilustrasi, sampai musik.

Dari sinilah ide untuk membuat kompilasi album pendek terbentuk. Aloysius Nitia, seorang musisi dan produser musik asal Depok mengajak tiga orang musisi lain yang juga berkiprah di dunia NFT untuk membuat sebuah karya bersama. Ketiga orang itu adalah Mathces (Blitar), Pasya Pamungkas alias Saxxamoto (Bandung), Chelvin Ferdianto alias Chlvn (Solo) yang setuju tentang konsep ini. Album pendek itu berisi empat lagu dari empat artis, dan diberi nama “Metanoia”.

Kata “Metanoia” diartikan sebagai sebuah perubahan pikiran, perasaan bahkan melampaui batasan-batasan atau pola pikir. “Dalam album ini, keempat lagu mempunyai emosinya tersendiri. Perpindahan antar lagu merupakan sebuah perubahan perasaan. Jadi, diharapkan pendengarnya mampu merasakan proses transformasi pada perasaannya,” jelas Saxxamoto.

Ada empat lagu dalam album “Metanoia”. Pertama, ada lagu milik Aloysius Nitia berjudul “Memory Stream”. Lagu ini ditulis berdasarkan refleksi atas apa yang terjadi di tahun 2020-2021 dimana kehilangan harapan, kehilangan orang tersayang, dan kehilangan hal-hal lain terasa sangat memberatkan.

Namun dalam hal-hal yang berat itu, Aloysius Nitia berharap semoga setiap manusia sebagai makhluk sosial bisa saling menguatkan, membantu, bertahan. Juga tentang harapan akan esok yang lebih baik. Lalu lagu kedua yang berjudul “Heaven’s Gate” dari Mathces bercerita tentang pikiran dan pertanyaan terkait hal-hal setelah kematian.

“Semua orang pasti ingin menghindari neraka dan menginginkkan surga. Lalu bagaimana bentuk surga yang diidamkan banyak orang? Melalui pertanyaan itu, saya mencoba menerjemahkan bayangan itu dalam nada-nada pada lagu ini,” kata Mathces.

Ketiga, ada “1/4” karya milik Chlvn. Hampir sama seperti Mathces, Chlvn mencoba mendeskripsikkan sebuah hal abstrak kedalam sebuah lagu. Ia menjelaskan proses berkaryanya dimulai dari penemuannya bahwa tidak selalu yang baik itu akan baik-baik saja, begitu pula sebaliknya, yang gelap bisa saja menyimpan sebuah cahaya terang. Ia menjabarkan bahwa tidak ada hal yang absolut.

“Maka dalam lagu ini, mencari pijakan di dalam atmosfer-atmosfer yang menurut saya abu-abu agar bisa lebih dekat kepada hal-hal baik” tutup Chlvn.

“Metanoia” ditutup dengan lagu dari Saxxamoto, berjudul “Reverie”. Ia menjelaskan, “Reverie” itu sendiri adalah sebuah komposisi musikal yang menunjukkan keadaan merenung atau melamun.

“Dalam lagu ini, saya mencoba mengajak para pendengar untuk merenungkan apa yang sedang terjadi dengan diri kita, emosi apa yang kita sedang benar-benar rasakan sehingga kita dapat merefleksikan emosi tersebut untuk mendapatkan ketenangan,” jelas Saxxamoto.

“Metanoia” akan sudah secara eksklusif di platform Hicetnunc.art tanggal 21 Desember 2021. Hic Et Nunc sendiri merupakan sebuah tempat jual-beli karya-karya digital, menggunakan mata uang kripto Tezos. “Metanoia” dibanderol dengan harga 1,5 Tezos, sekitar Rp 75.000,00 (valuasi mata uang kripto dapat berubah sewaktu-waktu dan tidak menentu). Pembeli aset digital ini akan mendapatkan artwork dalam bentuk NFT, file digital WAV dari keempat lagu yang akan dikirimkan melalui Google Drive.

Visual: Arsip dari Asteraspace

Catatan Perjalanan Rich Brian di Album Mini Brightside

Rapper, penyanyi serta produser asal Indonesia, Rich Brian baru-baru ini resmi merilis album mini terbarunya yang bertajuk Brightside. Lewat album mini berisi 4 lagu ini Rich Brian mengatakan bahwa Brightside merupakan...

Keep Reading

Keseruan Selanjutnya di Soundhead Gig Vol. 3: Parsing Echoes

Tak bisa dipungkiri, pandemi yang terjadi beberapa tahun terakhir telah berhasil meluluhlantakan berbagai lini industri hiburan, tak terkecuali industri pertunjukan musik. Namun, ditengah tantangan yang ada, para pelaku industri terus...

Keep Reading

Kisah Cinta di Balik Pertunjukan Musik dari The Rang-Rangs

Trio punk rock asal Bekasi, The Rang-Rangs, kembali melanjutkan cerita asmaranya yang tak konvensional. Dalam materi terbarunya kali ini The Rang-Rangs mencoba mengangkat cerita persoalan jatuh hati di arena pertunjukan...

Keep Reading

Album Tersembunyi Mendiang January Christy Akhirnya Dirilis

Di era ‘80-an, tak sedikit orang yang mengidolakan January Christy. January Christy merupakan penyanyi pop jazz Indonesia yang unik. Range vokalnya tidak lebar, namun suaranya yang berat memberikan kenyamanan dan...

Keep Reading