Elly Kasim Memang Sudah Tiada, tapi Cengkoknya Abadi

Dunia kesenian Minangkabau tengah berduka. Satu nama seniman yang hidup di hati masyarakat Minang, Elly Kasim mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu (25/8) kemarin. Berpulangnya pelantun “Bareh Solok” ini menjadi kabar yang mengejutkan bagi para pendengarnya. Kabarnya, dalam waktu dekat ini, wanita yang akrab dipanggil Bunda Elly berencana akan merilis album yang memuat beberapa lagu Minang.

Akan tetapi, waktu dekat dan rencana yang dimaksud tak lagi sama. Albumnya mungkin akan tetap keluar, namun kehadiran Elly Kasim menyanyikan lagunya di atas panggung mungkin tak lagi menyapa para penggemarnya secara fisik. Tapi biarlah, toh karyanya akan hidup abadi di sanubari orang-orang.

Ia bisa kita analogikan sebagai “Bundo Kanduang” dalam kebudayaan Minang. Ia adalah orang yang tak kenal lelah berjuang, lelah terhadap perkembangan seni musik Minang modern.

Posisinya sebagai penyanyi Minang terhebat masih sulit tergantikan, meskipun keluarbiasaannya yang paling langka adalah pengabdiannya yang tak pernah putus dalam berkesenian hingga usia senja. Kalau Kamu menduga pujian ini sebatas pepesan kosong, ada baiknya Kamu tanya orang tuamu mengenai begitu pentingnya seorang bernama Elly Kasim.

Merunut perjalanan karier Elly Kasim merupakan cerita yang panjang yang tentu tak akan selesai di tulisan yang pendek ini. Ia terlahir dengan nama Ellimar di Tiku, 27 September  1944.

Ia lahir dari orang tua yang bukan seniman. Orang pertama yang mengenalkan musik kepadanya adalah Yanuar. Melihat potensi keponakannya, Yanuar merasa bakat Elly harus terus dilatih.

Elly pun tampaknya menikmati benar bakatnya ini. Berawal dari kecintaan terhadap musik, di usia remaja Elly mengikuti lomba bernyanyi saat dirinya pindah ke Pekanbaru. Saya membayangkan, betapa cantiknya Elly di saat umurnya masih belasan.

Kemudian karier profesional Elly dimulai saat bergabung dengan Orkes Ganto Rio. Lewat grup ini, Elly kemudian bertemu dengan Syamsul Arifin hingga Nuskan Syarif, nama-nama yang kemudian banyak menciptakan lagu yang ia nyanyikan.

Singkat cerita, karier Elly makin cemerlang. Ia merilis ratusan album. Kurang lebih, dia sudah merilis 100 album solo. Karya yang tidak bisa dibilang sedikit untuk pencapaian seorang penyanyi. Lagu-lagunya menjadi lagu familiar di masyarakat Minang seperti “Kasiah Tak Sampai”, “Mudiak Arau”, “Sinar Riau” dan berderet lainnya yang tak mungkin disebut satu persatu.

Terlalu banyak orang yang mencintai Elly Kasim, memang. Terlalu banyak orang yang nelangsa atas kepulangannya ke sisi Tuhan. Salah satu dari sekian banyak itu ialah Dedi Yondra.

“Pertama mendengar beliau berpulang, saya sedih sekali,” kata Dedi.

Dedi Yondra adalah seorang jurnalis musik yang saat ini bekerja di salah satu media yang berkantor di Jakarta. Sebagai jurnalis, tentu saja Dedi lebih mudah menjangkau idola-idolanya termasuk Elly Kasim.

Beberapa kali, pria asal Batusangkar, Sumatera Barat, ini menuliskan kisah Elly Kasim. Selain itu, Dedi juga mengajak Elly Kasim untuk bicara mengenai perjalanan musiknya di podcast milik kantornya, JPNN.

“Saya menyukai Bunda Elly sejak SD. Ayah saya suka mutar lagu beliau. Beliau adalah lambang perempuan Minang yang santun dan tangguh. Hidupnya sepenuhnya untuk musik Minang. “Cengkoknya abadi,” ujar Dedi yang juga kolektor album Elly Kasim ini.

Sebagai seorang jurnalis dan seorang fans, menarik untuk mengulik perspektifnya mengenai Elly Kasim. Berikut adalah wawancara dengan Dedi.

*

Apa yang mendasarimu sering menulis tentang Elly Kasim dan mengabadikan perjalanan musik Elly Kasim dalam medium podcast?

Menurut saya, beliau adalah sosok penting dalam musik Indonesia. Di era “60-an, salah satunya lewat suaranya, industri musik Minang berhasil menguasai pasar musik Indonesia setelah era Orkes Gumarang dan Orkes Taruna Ria.

Elly Kasim memang orang Minang tapi banyak menghabiskan waktunya di Jakarta. Tapi dalam proses bermusik, dia tak meninggalkan identitas kampung halamannya. Kira-kira apa yang membuat beliau secinta itu dengan musik Minang?

Waktu saya tanya, beliau menjawab semua itu panggilan hati atau naluri. Saya pernah menanyakan ini langsung kepada beliau. Lewat musik, dia ingin mendedikasikan hidupnya untuk kebudayaan Minang.

Suatu waktu, dia pernah dikontrak oleh label rekaman asal Singapura, Philip Records. Selain itu dia juga sering bernyanyi di negara-negara lain seperti Amerika, Kanada, Malaysia, dan banyak negara lain di dunia. Tapi, di manapun dia diundang, dia akan selalu menyanyikan lagu Minang. Di mana bumi dipijak, di situ lagu Minang dia lantunkan.

Itu bentuk cintanya kepada Minang. Menjelang wafat, dia berencana bikin album baru, berbahasa Minang. Dia sudah merekam sekitar dua atau tiga lagu. Apa coba yang mendasari beliau masih begitu kalau bukan cinta yang mendalam?

Menurutmu, apa sumbangsih paling nyata Elly Kasim buat perkembangan musik Minang dan Indonesia?

Bayangkan dia dari tahun 1961 bernyanyi dengan bahasa Minang. 100 album buat seorang musisi, itu sangat luar biasa. Elly Kasim mengharumkan budaya Minang bahkan sampai akhir hayatnya. Ketika ditanya ke orang non-Minang, siapa nama penyanyi Minang yang mereka kenal, nama Elly Kasim pasti akan muncul.

Apakah generasi Minang masih mendengarkan lagu beliau?

Tentu saja masih. Apalagi perkembangan internet yang memungkinkan siapa saja bisa dengan mudah mengakses lagu-lagu beliau. Kalau bagi penyanyi Minang, Elly Kasim pasti menjadi referensi utama dalam bermusik. Cengkoknya sampai sekarang belum bisa dikalahkan.

Sebagai pribadi, bagaimana Kamu melihat Elly Kasim?

Dia adalah orang yang begitu menghayati profesinya. Ada kalanya di atas panggung dia akan bernyanyi sambil mengeluarkan air mata. Dia juga pekerja keras dan tak lelah berkarya. Dia adalah contoh teladan bagi generasi setelahnya.

Teks: Rio Jo Werry
Visual: Abil Anugrah

Single Dan Formasi Terbaru Pillhs Castle

Mengubah formasi dari duo menjadi kuintet, dan sebelumnya telah merilis single ‘Moment’, Pillhs Castle yang diisi oleh Nando Septian (vokal), Torkis Waladan Lubis (gitar), Tama Ilyas (gitar), Willy Akbar (bass),...

Keep Reading

Debut Album Resign Leader

Dari Makassar, unit punk rock Resign Leader belum lama ini merilis debut album ‘Sniffing Tears For The Other Bills’. Album yang digarap cukup panjang dan serius ini berisi 12 nomor...

Keep Reading

Single Teranyar eleventwelfth Yang Menuju Album Terbaru

eleventwelfth hanya membutuhkan satu bulan untuk merilis single terbaru yang diberi tajuk “every question i withhold, every answer you never told” setelah sebelumnya melepas “(stay here) for a while” dari...

Keep Reading

Member Dan Single Baru Sunwich

Nampaknya istilah “new year, new me” berlaku pada Suncwich, kuintet indie-pop asal Jakarta memperkenalkan tiga anggota sekaligus; Hafiz Alfaiz dan Mahandhika Irsyam sebagai gitaris serta Rifki Handani sebagai drummer. Formasi...

Keep Reading