Eksplorasi dalam Evolusi Bench Laboratory

Keberadaan Muara Market, mungkin memang tinggal jadi sejarah. Ia akan selalu dikenang sebagai salah satu tempat pertemuan yang berhasil menjadi jembatan banyak orang di Solo. Kompleks itu tumbang. Tapi, benih geliatnya tetap hidup. Bench Laboratory menempati sepotek ruang yang ditinggalkan di bekas situs Muara Market.

Bench Laboratory adalah sebuah usaha yang fokus di bidang interior. Servisnya macam-macam, mulai dari pembuatan furniture atau perabot, dekorasi ruang, hingga perancangan dan pembangunan interior ruang.

Awalnya Bench Laboratory bergerak di bidang eksplorasi metal dan kayu. Seiring berjalannya waktu, banyak konsumen yang meminta produk custom. Tidak hanya berbahan metal dan kayu, tetapi juga medium material lain seperti listrik, mesin dan energi kinetik.

Ananda Artianto, pendirinya, menjelaskan bahwa filosofi yang dianut Bench Laboratory berdasar pada konsep “Bench Work” atau meja kerja yang jadi lokasi banyak keajaiban terjadi dalam kerangka kerja.

“Saya meyakini bahwa dunia atau semesta ini adalah Bench Work yang sangat besar di mana manusia serta makhluk hidup di dalamnya berkomunikasi dan berkreasi. Sementara strategi kreatif yang digunakan atau kami adopsi saat bekerja dilakukan dengan strategi keikhlasan dalam berkomunikasi dan berbagi,” tuturnya tentang resep filosofi dan strategi kreatif Bench Laboratory.

Terjemahannya gampang, sesuatu yang dirasa sesuai dan punya manfaat langsung pada orang banyak. Instalasi tepat guna adalah bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungan tersebut dan meresponnya menjadi sesuatu yang bisa menyampaikan pesan.

“Proyek terbaik yang pernah dibuat adalah untuk sebuah brand, yaitu membuat moving sign. Dengan pengerjaan tidak lebih dari tiga hari. Proses yang dilakukan mulai dari rancang bangun gambar, pengumpulan material, perakitan, uji coba, sampai finishing,” ceritanya tentang pengalaman terbaik Bench Laboratory.

Selain moving sign yang disinggung tadi, dua karya instalasi tepat guna Bench Laboratory yang layak diceritakan kembali untuk orang banyak adalah Seni Lampu dan Bottle Flower. “(Seni Lampu) Seperti halnya lampu atau penerangan menjadi salah satu bagian terpenting di dalam ruang, atau bisa dikatakan sebagai sang penerang yang menerangi setiap bagian yang diinginkan. Sementara Bottle Flower menceritakan tentang lingkungan hidup terutama yang sering saya lihat banyak tanaman yang tidak terurus hingga akhirnya mati. Instalasi ini bisa menjadi salah satu sarkas dalam kepedulian kita tentang lingkungan maupun alam sekitar yang sekarang banyak tumbuh, tumbuhan beton,’” terang Ananda tentang dua karyanya yang lain.

Selain berkarya, Bench Laboratory juga membuka program workshop yang diisi dengan pembekalan secara teknis maupun akademis. Kedua jenis pembekalan tersebut diberikan karena kalau di sisi akademis ada peserta yang merasa kurang mendapatkan pengenalan tentang alat dan bahan, mereka bisa datang dan ikut bersama dalam pemecahan masalahnya di kelas workshop tersebut. Diupayakan keduanya berimbang. Kelas workshop yang terbuka bagi umum ini juga berfungsi sebagai sarana berbagi, bereksplorasi dan berkarya.

Eksplorasi dalam bidang interior tidak luput dari segala problem manusia dan ruang serta material. Ananda merasa evolusi dari Bench Laboratory berjalan secara alami, yang artinya perkembangan eksplorasi dalam evolusi manusia berjalan secara organik dengan berbagai kasusnya. Pembuatan mesin dan alat produksi juga telah dilakukan sebagai hasil dari eksplorasi yang telah dilakukan Bench Laboratory untuk penunjang dalam kegiatan berproduksi bagi pelaku industri.

Bench Laboratory pun pernah tercatat melebarkan sayap menjadi sebuah laboratorium untuk audio dan visual. Ananda memberikan alasan, “Karena Bench Laboratory berdasarkan ruang eksplorasi maka pelebaran sayap pun sangat mungkin untuk dilakukan, seperti halnya audio visual dan eksplorasi yang lain seperti di ranah instalasi dan kinetik.”

Mereka membuka program bernama Suara Bench Lab, yang fokus ke ranah kolaborasi audio visual. Program Suara Bench Lab menampung ide serta gagasan dalam audio dan visual, di mana setiap orang yang ingin tampil bisa mengekspresikan karyanya dengan ada dan tidaknya tendensi dengan orang lain.

Ananda juga membentuk sebuah proyek sound art, Bench Lab, yang barusan melakukan tour bersama Wahn ke Malaysia dan Singapura. Jejaknya di scene musik eksperimental sebenarnya dimulai jauh sebelum Bench Lab ada.

Keterlibatan pertama Ananda di projek sound art adalah bersama Kholil, salah satu teman yang sekarang sudah berada di Italia. Mereka bermula dari mengeksplorasi logam dalam bentuk dan jenis apapun menjadi sebuah instrumen musik, lalu sepakat untuk membuat suatu kolaborasi dan jadilah Baru Klinthink.

Kelompok ini berhenti ketika Kholil harus pindah ke Italia. Di waktu yang bersamaan Ananda diperkenalkan Kholil dengan Smith salah satu anggota dari kolektif Noise kota Solo, Bengawan Noise Syndicate dan Lintang Raditya (founder Kenali Rangkai Pakai) yang kebetulan sedang melihat-lihat workshop Bench Lab dengan eksplorasinya.

Obrolan dan perkenalan itu membawanya melakukan submission ke program festival Nusa Sonic. Nusa Sonic merupakan salah satu proyek multitahunan yang merayakan musik eksperimental se-Asia Tenggara. Festival perdana diselenggarakan di Jogjakarta. Ia pun diberi kesempatan untuk ikut menjadi peserta Nusa Sonic dalam program Music Makers Hack Lab.

Eksplorasi pun semakin menjadi, serta jaringan tentang sound art dan musik noise semakin terbentuk.

Keterlibatan Bench Laboratory dengan Bengawan Noise Syndicate tidak luput dari ruang pertunjukan yang bisa menampung musik noise tersebut, maka terbentuklah Suara Bench Lab dengan gagasan untuk dapat menampung musik noise dan eksperimental yang lainnya.

“Secara pribadi hal ini tidak luput dari progres ataupun intensitas mereka dalam membuat karya. Sangat disayangkan jika tidak ada ruang show untuk menampilkan karya-karya eksperimental untuk dinikmati,” kata Ananda tentang proses awal keterlibatan Bench Lab di skena noise di Solo.

Saat ini Bench Laboratory, Suara Bench Lab dan Bench Lab sedang bersiap melakukan beberapa agenda. “Bench Laboratory mau ngadain beberapa workshop diantaranya pengenalan bahan atau material, penyediaan alat untuk kasus logam atau kayu, assembling benda-benda temuan serta las atau pembuatan instrumen ruang. Untuk Suara Benchlab, kami akan mengadakan workshop instrument builder, eksperimen visual dan audio. Sementara untuk Bench Lab (proyek personal) yang nantinya berganti nama menjadi ABL, aku sedang mempersiapan pameran serta workshop eksplorasi media temuan untuk instalasi dan sound art atau kinetik,” tutupnya.

Kegiatan Bench Laboratory bisa diintip melalui Instagram @bench_lab sementara program acara audio visual mereka bisa dibaca via akun @suara.benchlab. Banyak rencana untuk disimak. (*)

Teks: Indra Menus
Foto: Dema Evan Akbar

Pemerintah Ukraina Bangun Museum Perang dalam Aset NFT

Invasi Rusia atas Ukraina terus berlanjut. Di tengah kekacauan yang terjadi, tentu banyak korban yang berjatuhan, entah itu dari satuan militer atau pun warga sipil yang tak bersalah. Perang yang...

Keep Reading

Terhubung Langsung di Collabonation Creative City Edisi Bandung

Setelah mengunjungi Makassar, Medan, dan Malang, Collabonation Creative City kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini Bandung yang menjadi titik pemberhentiannya. Collabonation Creative City hadir membawa semangat baru melalui rangkaian kegiatan salah...

Keep Reading

Program Menarik Bernama Women Composser Weekend

Merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh di tanggal 8 Maret lalu, untuk pertama kalinya, Yayasan Bandung Philharmonic berkolaborasi dengan Komunitas Perempuan Komponis: Forum & Lab untuk meluncurkan dua program webinar...

Keep Reading

Galeri Lorong Langsungkan Pameran Seni Bernama IN BETWEEN

Berbagai momentum di masa lalu memang kerap menjadi ingatan yang tak bisa dilupakan. Apalagi jika irisannya dengan beragam budaya yang tumbuh dengan proses pendewasaan diri. Baru-baru ini Galeri Lorong, Yogyakarta...

Keep Reading