Ekplorasi Jauh yang Dilakukan Amerta

Di Indonesia masa sekarang, metal yang dulunya dianggap musik setan dan tidak mendidik, perlahan dan pasti sudah menduduki posisi yang sama ratanya dengan jenis musik yang lain. Penikmatnya pun lintas disiplin dan juga generasi. Para ibu-ibu bawel yang mengatakan musik ini setan juga sudah mulai paham, bahwa tak selamanya apa yang terlihat menyeramkan itu jahat dan jelek. Lalu, metal pun memiliki banyak sekali turunan musik yang tentu saja semuanya memiliki ciri khas masing-masing, eksplorasi yang dijalankan oleh masing-masing pelakunya mampu membuat musik ini lebih luas lagi. Di sini, metal telah diterima dengan sangat terbuka, setiap acara, baik itu pensi ataupun festival musik berskala besar, metal pasti memiliki tempat di deretan nama yang ada. Jumlah musisinya juga sangat banyak, yang cukup hangat dibicarakn di kancah musik ini adalah Amerta. Band dibuat oleh Raja Humuntar dan Auliya Akbar, yang mana keduanya juga dikenal lama sebagai punggawa dari band death metal bernama Revenge.

“Selama ini pandangan gue terhadap musik itu konservatif; drum, gitar, vokal dan bass. Tapi setelah mendengarkan (musik) elektronik, kenal bunyi synthesizer, akhirnya mengubah semuanya, dan itu memberi pengaruh besar kepada Amerta. Misalnya penggunaan modulasi atau delay yang buat gue pribadi ikut memperluas juga skala pembuatan riff,” ungkap gitaris sekaligus riff maker setiap lagu Amerta, Raja Humuntar Panggabean.

Setelah beberapa bulan kemarin mereka sempat merilis sebuah rilisan split bersama Gaung (band eksperimental rock asal Bandung), kini Amerta kembali lagi dengan single paling baru yang diberi nama “Bleeker” dan telah dirilis di akun Bandcamp milik mereka. Single ini sebenarnya tidak baru-baru amat, menurut pengakuan mereka, “Bleeker” sendiri sudah ditulis oleh Raja dan Akbar di tahun 2017 silam. Pada awalnya single ini ditujukan untuk Revenge, namun karena warna musik yang ada dirasa kurang pas dan tidak cocok bila dibawakan dengan nafas death metal. Dari sanalah ide dasar terwujudnya Amerta, agar semua materi yang ada bisa dipergunakan dengan wadah yang pas, sesuai isi dari materi-materi yang telah mereka ciptakan. Setelah ide dan nama baru tercetus, bergabunglah Indra Darmawan Purba (Avhath) untuk mengisi posisi bassis, dan kemudian ketiganya merilis single “Gehenna” di tahun 2019 kemarin. Selain single baru, di 2020 ini juga mereka menggandeng Anida Sabrina Bajumi (Dental Surf Combat) untuk mengisi posisi Indra, yang telah berpindah untuk memegang posisi synthesizer. Posisi berempat yang dirasa sudah sangat mencukupi ini pun mulai meramu banyak sekali daftar materi yang akan dikepalai seorang Ricky Siahaan (Seringai) sebagai produser.

album cover amerta bleeker

“Sebelum terpukau dengan penampilan Amerta, gue sudah familiar dengan latar belakang para personel band ini. Gue sadar penuh akan potensi dan kemampuan musikal mereka. Sehingga ibarat mobil balap, sebagai produser gue cuma tinggal menyediakan sirkuitnya agar mereka bisa balapan dengan baik. Dan yang paling penting, mereka juga berhasil membuktikan kalau metal itu tidak cuma soal akrobat, tapi harus pula menawarkan ‘rasa’. Memproduseri Amerta membuat gue tahu ada hal penting yang akan terjadi untuk kancah musik cadas di Indonesia. Bahwa band ini layak menjadi penanda sebuah era yang baru. Ini musik istimewa yang patut diperhatikan karena tidak banyak band seperti mereka, terutama yang melakukannya dengan baik dan benar” Tutur Ricky.

Buat kalian yang sangat menikmati jenis musik post-metal seperti ini, single terbaru tersebut sangatlah kami anjurkan. Karena apa? Di sini kalian akan menemukan berbagai macam bentuk eksplorasi dari kebisingan, kegaduhan, dan keindahan, yang diramu sekaligus menjadi satu. Bentuk baru ini adalah apa yang sangat mungkin untuk terus dijelajahi bentuk-bentuknya. Pengaruh dari keempatnya sangat jelas terdengar di aransemen single ini, bagaimana tidak, keempatnya memiliki latar belakang yang berbeda, dan dari sanalah cakupan musik yang mereka bentuk menjadi sangat luas.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Amerta

Tur Jepang Bangkutaman & Logic Lost

Bangkutaman, grup asal Jogja, melanjutkan seri TauTauTur mereka dengan edisi spesial. Mereka memutuskan untuk bertandang ke Jepang. Tur ini dimulai dari tanggal 27 – 30 November tahun ini. Bukan tanpa...

Keep Reading

Video Musik Bintang Massa Aksi .Feast

Abdi Lara Insani yang merupakan single utama dari album teranyar .Feast berjudul Bintang Massa Aksi ini ternyata masih memiliki keberlanjutan dengan dirilisnya sebuah video klip resmi di kanal YouTube .Feast (22/11/22). Video klip ini melibatkan...

Keep Reading

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading