Ekplorasi Bebunyian dalam Sound of X

Pusat kebudayaan Jerman yaitu Goethe-Institut baru saja merilis sebuah program digital yang diberi nama Sound of X. Ini adalah kebaruan dari mereka yang akan menghadirkan ragam video bunyi lingkungan (soundscape) yang diciptakan oleh banyak musisi dan seniman yang berasal di sekitar Asia Tenggara, termasuk dari Medan, Indonesia. Dengan menggunakan bunyi, kebisingan, dan akustik sebagai dasar untuk melakukan penafsiran ulang terhadap kota, para musisi dan seniman tersebut berkeliling di banyak lingkungan untuk mencari tahu dan mengusulkan cara unik untuk terhubung kembali dengan kota dan ruang yang kita diami, khususnya setelah ada pandemi Covid-19, yang telah memaksa orang-orang di seluruh dunia untuk mengisolasi diri.

Semua pengkaryaan dari video soundscape tersebut bisa diakses dengan bebas di www.goethe.de/soundofx dan di kanal-kanal media sosial Goethe-Institut mulai tanggal 19 Juni 2020. Sound of X diprakarsai oleh Goethe-Institut sebagai proyek internasional dengan fokus Asia Tenggara, sebelum krisis virus corona merebak. Sejumlah seniman dari berbagai kota di Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru menyajikan karya-karya yang meninjau latar bebunyian kota yang terabaikan dan bagaimana musikalitas kehidupan sehari-hari membeberkan kekhasan rajutan sosialnya.

Di tengah kondisi swakarantina, pembatasan sosial, dan penyebaran wabah yang terus menerus berlangsung, Sound of X menawarkan cara yang unik untuk menjelajahi tempat-tempat berbeda. Musisi dan artis dari Medan, Singapura, Kuala Lumpur, Sydney, Manila dan kota-kota lain mengeksplorasi tentang apa itu kebisingan, bunyi, dan bagaimana orang dapat mendengarkan dengan cara berbeda. Perspektif tidak lazim yang diusung oleh para seniman dan musisi ini kontras dengan hal-hal yang lazim diangkat dalam promosi pariwisata di media sosial.

“Budaya digital dan media sosial telah menimbulkan pergeseran ke ranah visual. Sering kali kita tidak dapat membangun hubungan yang sungguh-sungguh dengan apa yang ditampilkan. Pada saat budaya layar semakin menggerus kepekaan, para seniman Sound of X menyajikan pendekatan alternatif terhadap persepsi visual dan akustik. Dalam konteks lingkungan urban kita, bebunyian bisa timbul dari kebisingan sekitar yang, meskipun tidak kasat mata, menjadi penyatu untuk banyak hal: musikalitas kehidupan sehari-hari dan latar bebunyian sebuah kota yang sering diabaikan namun menyingkap atau pun mencerminkan rajutan sosialnya yang khas,” kata Han-Song Hiltmann, pimpinan proyek Sound of X sekaligus Kepala Goethe-Institut Singapura.

Perjalanan melintasi kota terbesar ketiga di Indonesia, Medan, akan meninggalkan satu kesan khususnya, yaitu kesan mengenai kota yang sedang tumbuh, serba heboh, dan beragam dalam hal suku, budaya dan agama. Ciri khas Medan dapat ditemui dalam berbagai kontras yang ada: rumah besar yang berdampingan dengan pondok kayu yang sederhana; masjid yang berdampingan dengan gereja atau kuil; bersih dan kotor; bising dan tenteram; kaya dan miskin; gaya Asia dan gaya global; modern dan belum berkembang.

Karena itulah konsep untuk Sound of Medan yang disajikan dalam video soundscape berjudul “nostalgic contrast” (kontras-kontras nostalgia) adalah menangkap keberagaman yang melimpah dan membuat kontras-kontras itu dapat dipahami melalui ekspresi artistik dua seniman muda Medan, yaitu Rani Fitriana Jambak (desainer bunyi) dan Evi Ovtiana (pembuat film). Karya itu diproduseri Matthias Jochmann (produser). Rani dan Evi mewakili generasi muda seniman Indonesia yang berupaya menggabungkan kontras dan kontradiksi seperti yang disinggung di atas, dan mengembangkan pendekatan artistik baru dalam rangka menemukan cara ekspresi khas mereka sendiri.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari 
Goethe-Institut Indonesien

Tentang Syukur dan Hidup yang Tak Tertebak di Lagu Terbaru Alahad

Beranjak menjadi solis, Alahad, moniker dari Billy Saleh yang sebelumnya dikenal sebagai gitaris dari band rock-alternative Polka Wars akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia melepas sebuah nomor tunggal teranyar...

Keep Reading

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Kolaborasi Selanjutnya Antara Yellow Claw dan Weird Genius

Duo Belanda Yellow Claw kembali berkolaborasi dengan Weird Genius mengusung lagu baru bertajuk ‘Lonely’ bersama finalis Indonesian Idol Novia Bachmid. Weird Genius dan Yellow Claw sebelumnya pernah berkolaborasi di lagu...

Keep Reading

Reruntuhan Akhir Dunia di Album Keempat Extreme Decay

Usai melepas beberapa materi pemanasan menuju album barunya, unit Grindcore kota Malang, Extreme Decay, akhirnya secara resmi melepas album keempatnya pada 29 April 2022 lalu yang diberi tajuk Downfall Of...

Keep Reading