Ekosistem Seni dan Kehidupan di Ruang Gulma

Ruang Gulma, yang berlokasi di bagian selatan kota, memberi warna kuat untuk kehidupan berkesenian di Jogjakarta. Secara konsisten, sejak 2014, ruang kolektif ini membuka diri secara konsisten, memfasilitasi banyak kepentingan yang bersinggungan. Proses belajar, mencipta dan interaksi komunal, terjadi. Jaringan dibangun dan pertukaran informasi berlangsung dalam kadar yang paling sederhana; tidak perlu transaksi, berbagai macam indikator kuratorial yang njlimet serta memberi balik pada daerah tempat mereka tinggal.

Di Ruang Gulma, ekosistem berkesenian dikelola secara mandiri sebagai perpaduan irisan antara musik, seni rupa, sastra dan keseharian masyarakat.

Ruang Gulma berangkat dari obrolan empat orang: Bodhi IA, Ayu Saraswati, Faka dan Bara L Widarga pada tahun 2014. Seiring berjalannya waktu, akhirnya bergabung banyak kawan mereka yang lainnya. Mungkin saat ini anggota yang bertanggungjawab soal apa yang terjadi di Ruang Gulma ada kurang lebih dua puluh orang.

“Ya, karna sifatnya cair dan organik, banyak kawan-kawan yang datang dan pergi. Menyenangkan. Orang-orang saling bertukar informasi, skill dan banyak hal lainnya tanpa harus ribet dan ambil pusing. Mungkin itu kenapa Ruang Gulma menjadi satu mimpi kita bersama,” ungkap Bodhi tentang cara interaksi yang dianut oleh Ruang Gulma.

Tempat ini kemudian menjadi sebuah ruang yang bisa diakses oleh siapapun dengan maksud menyebarkan semangat baik. Bisa juga dianggap sebagai ruang asah, di mana semua orang bisa melakukan eksplorasi banyak hal bersama-sama. “Kami rasa, banyak ruang kesenian di kota ini terlalu ekslusif, selain birokrasi yang panjang, banyak orang-orang di ruang-ruang mapan tersebut hanya menilai sesuatu dari permukaan saja. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat ruang eksplorasi yang inklusif,” jelasnya tentang titik tolak berdirinya Ruang Gulma.

Siapapun dengan latar belakang apapun bisa datang ke Ruang Gulma dengan syarat cuma saling menghargai, menjaga dan merawat. “Nah, kebetulan desa yang kami tinggali saat ini bernama Bangunjiwo-mungkin otak-atik gathuk saja ya, di sinilah akhirnya kami dibangun jiwanya hahaha bukan kami bermaksud untuk turba (turun ke bawah, -ed) atau membangun desa, aku rasa orang-orang di sini lebih tau cara merawat desa ini,” jelasnya sambil tertawa.

Program yang beragam adalah salah satu cara menjaga bagaimana ruang ini terus bernapas. Seluruh program yang ada, punya harus besar yang sama; yang bertujuan untuk eksplorasi dan apresiasi.

Kalau gigs musik, ada Folk Tunggang Gunung dan Terik Berisik. Program ekplorasi suara dibuat dalam sesi Ngaji Swara. Untuk teman-teman yang suka menulis, mereka membuat Sastra Bengong. Untuk mereka yang suka nonton film, ada Bajak Film. Lalu ada program Singgah Menggulma untuk teman-teman perupa. Setiap minggu sore, Ruang Gulma juga membuka kelas crafting untuk anak-anak disekitar rumah mereka.

Masing-masing program biasanya muncul dari ide yang sumbernya berbeda, biasanya saat house meeting akan ada ide baru juga ada evaluasi. “Nah saat ada orang yang punya ide untuk buat sesuatu, dia harus bersedia bertanggung jawab untuk mengorganisirnya. Tentu saja dengan support kawan-kawan yang lain,” terang Bodhi.

Ruang Gulma sendiri berada di tengah perkampungan penduduk di mana pasti ada tantangan dari warga sekitar. Masalah klasik bertetangga sudah pernah mampir ke dalam cerita mereka. Mulai dari gunjingan, disambangi warga, sampai dilempar batu waktu tahun-tahun awal berdiri. Hal tersebut kemudian disadari karena adanya komunikasi yang kurang baik saat pertama kali mereka menempati rumah tersebut.

“Sekarang para penghuni Ruang Gulma mulai paham bahwa cara terbaik untuk diterima warga sekitar adalah dengan berlaku menjadi seperti layaknya warga di kampung tersebut. Ikut kerja bakti, ikut bantu pas ada kematian-nikahan dan hal-hal semacam saling sapa, tidak ngebut, dan ikut iuran,” papar Bodhi.

Sebenarnya sejak awal mereka datang, Ruang Gulma sudah menerapkan hal tersebut, tapi sayangnya justru teman-teman mereka yang datanglah yang lupa untuk tidak merawat dan menjaga kondisi. “Yah, akhirnya kami yang kena batunya,” kenang Bodhi.

Saat ini warga sudah mulai menerima kehadiran Ruang Gulma, karena secara aktif, mereka melakukan banyak negosisasi. Misalnya, gigs noise yang tidak akan dilakukan di malam hari. Tetangga mereka juga mulai memanfaatkan ruang ini mulai dari menggunakan hasil kebun, mengajak anaknya di hari minggu untuk membuat sesuatu sampai meminjamkan soundsystem atau proyektor mereka untuk acara kampung. “Ya akhirnya kami sepakat dengan istilah ‘awak sehat kudu manfaat,’” ujarnya mengutip pepatah klasik orang Jawa.

Dengan cara interaksi natural yang berlangsung dari hari ke hari, menarik menyimak bagaimana Ruang Gulma bisa bertahan terus menjalankan ruang yang mereka miliki.
Untuk perkara sewa, misalnya, Bodhi menjelaskan bahwa biasanya para penghuni Ruang Gulma melakukan iuran kolektif untuk membayar kehidupan sehari-hari. Begitu juga dengan sewa rumah tempat tinggal mereka.

Ruang Gulma juga sempat melakukan fundraising untuk memperpanjang sewa rumah yang mereka tempati. “Itu yang sering tidak dipahami oleh kawan-kawan lain saat fundraising, sampai akhirnya muncul orang-orang ahistoris yang nyinyir menganggap kami sedang meminta kawan-kawan untuk bayar kamar kami. Hahaha! Aku selalu ngakak kalo nginget itu,” kenangnya.

Padahal fundraising tersebut digunakan untuk mengumpulkan biaya supaya ruang-ruang yang dibuka untuk siapapun, mulai dari venue, perpus, dapur umum, dan sejumlah ruang lainnya bisa tetap diakses bersama-sama.

Ada juga yang menarik. Terutama dari pekerjaan pribadi yang didapat dari jaringan Ruang Gulma. Semua orang yang mendapat pekerjaan dari Ruang Gulma harus menyisihkan 10% (angka yang disepakati forum) untuk kas. “Jadi kalau ada job nulis misalnya yang didapat dari jaringan Ruang Gulma, maka 10% dari penghasilan itu akan masuk ke kas untuk dipakai bersama,” terang Bodhi.

Ruang Gulma juga membangun platform dengan kawan-kawan koletif lain dengan #kawanuntukkawan, yang bertujuan untuk saling support misalnya jika ada yang kecelakaan atau butuh biaya darurat dan mendesak. Dengan networking yang sehatlah akhirnya mereka bisa bertahan sampai sekarang. Ada saja kawan-kawan yang langsung ikut membantu crowdfunding yang dibuat, dalam satu minggu saja mereka bisa menutup uang sewa. Hal itu terjadi karena Ruang Gulma juga dimiliki oleh kawan-kawan jaringan yang lain. “Siapapun yang pernah singgah di rumah kami akan tahu, bahwa ruang ini milik bersama,” jelasnya.

Dengan cara yang mereka lakukan, banyak hal yang bisa dilakukan dengan lebih menyenangkan, karena dalam setiap pertemanan Ruang Gulma selalu mengupayakan berkembangnya semangat baik. Menurutnya kolektif merupakan salah satu solusi untuk tetap bertahan di era digital yang semakin menggila. “Kalau mau menjalankan sesuatu sendirian biasanya orang harus menjilat sana-sini, punya banyak modal kapital, atau mungkin keberuntungannya sangat istimewa,” ungkapnya.

Sebagai venue, misalnya. Bodhi menjelaskan bahwa venue tersebut harus punya alat produksi. Karena dengan punya alat produksi sendiri (misalnya soundsystem), maka tidak ada lagi ketergantungan dengan pihak-pihak lain. Ada atau tidak ada sponsor/ funding, venue tersebut tetap bisa berjalan. Tapi selain alat produksi, dibutuhkan juga jaringan yang sehat dan orang-orang yang menjalankannya punya mimpi yang sama. Tidak harus seragam, tapi setidaknya ada benang merah yang menjadi motif untuk bergerak. Disinilah sikap inklusi mempertemukan beragam semangat, energi tambahan, dan menyikapi hal yang terjadi tanpa harus buru-buru kaerna bisa diulik dengan mengubah sudut pandang terhadap suatu masalah tersebut.

Ruang Gulma banyak menemukan solusi saat house meeting dan yang terpenting solusi dan semua keputusan yang diambil selalu berdasarkan kesepakatan mufakat, bukan berasal dari suara mayoritas, voting atau relasi kuasa.

Ruang Gulma berharap kemanapun orang-orang pergi setelah singgah dari rumah mereka, disana akan ada tempat yang memiliki persamaan sikap. Terbuka pada semangat baik, dan bisa berpikir sehat, bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah kemampuan untuk bisa merawat dan menjaga hal-hal disekitarnya, misalnya pertemanan. Semakin banyak kolektif yang paham situasi akan membuat kita bisa mempertahankan ruang hidup dengan lebih baik. “Kami tidak sedang berlagak inspiratif ya, tapi ya itu harapan kami,” harapnya. (*)

 

Teks: Indra Menus
Foto: Dok. Ruang Gulma

Pemerintah Ukraina Bangun Museum Perang dalam Aset NFT

Invasi Rusia atas Ukraina terus berlanjut. Di tengah kekacauan yang terjadi, tentu banyak korban yang berjatuhan, entah itu dari satuan militer atau pun warga sipil yang tak bersalah. Perang yang...

Keep Reading

Terhubung Langsung di Collabonation Creative City Edisi Bandung

Setelah mengunjungi Makassar, Medan, dan Malang, Collabonation Creative City kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini Bandung yang menjadi titik pemberhentiannya. Collabonation Creative City hadir membawa semangat baru melalui rangkaian kegiatan salah...

Keep Reading

Program Menarik Bernama Women Composser Weekend

Merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh di tanggal 8 Maret lalu, untuk pertama kalinya, Yayasan Bandung Philharmonic berkolaborasi dengan Komunitas Perempuan Komponis: Forum & Lab untuk meluncurkan dua program webinar...

Keep Reading

Galeri Lorong Langsungkan Pameran Seni Bernama IN BETWEEN

Berbagai momentum di masa lalu memang kerap menjadi ingatan yang tak bisa dilupakan. Apalagi jika irisannya dengan beragam budaya yang tumbuh dengan proses pendewasaan diri. Baru-baru ini Galeri Lorong, Yogyakarta...

Keep Reading