Dunia Makin Canggih, Nyolong Desain Makin Mudah

Sesuai judul, kami mau membahas keluh kesah soal kebiasaan orang banyak perihal nyolong. Cukup berat memang kalau membahas perihal colong mencolong ini. Aturan sebenarnya udah ada, tapi ya gitu. Maksudnya begini, banyak di luar sana illustrator ataupun desainer yang jarang mendaftarkan karya mereka di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Salah dua alasannya adalah karena tidak tahu dan malas. Untuk kasus yang malas, sebenarnya bukan malas dari si pembuat, lebih ke regulasi dari pemerintah yang ribetlah yang biasanya membuat mereka-mereka ini enggan untuk mendaftar. Banyak kok yang udah sadar betul dengan hak untuk mempatenkan karyanya sendiri. Untuk yang tidak tahu menahu soal ini, ya mungkin masih sibuk dengan deadline kerjaannya, jadi belum sempat untuk ngulik-ngulik.

Kasus-kasus pencurian seperti ini sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Hal ini bisa kita lihat dari banyaknya kaus band bootleg (sempat kami buatkan artikelnya, bisa baca di sini). Entah yang memulai siapa gerakan-gerakan seperti ini, tapi untuk kaus bootleg, kemungkinan terbesar oknum pelakunya adalah si studio sablon tempat mencetak kaus-kaus itu. Lalu, semakin maju peradaban dan teknologi, semakin gila juga orang-orang dengan seenaknya mengambil desain yang ada di ranah dunia maya. Ada yang diam-diam, namun tak sedikit yang terang-terangan mengakui mengambil, dan paling bikin keselnya oknum-oknum ini tidak merasa bersalah. Alasannya pun cukup membuat dada berdegup kencang, jidat berkerut, dan kepala pusing. Apa itu? Kata mereka, apa saja yang ada di dunia maya, adalah milik umum seutuhnya. Gila gak sih orang-orang yang bisa ngomong kayak gitu.

Buat yang belum tahu soal hak kekayaan intelektual, jadi ini adalah sebuah hak punya kita yang datangnya dari hasil kegiatan/membuat sesuatu yang memiliki nilai ekonomi (menguntungkan baik itu berbentuk uang ataupun penghargaan). Hak-hak ini tentu saja sangat eksklusif, karena akan diberikan kepada mereka-mereka yang telah membuat karya. Dan yang paling penting adalah hak ini tidak bisa begitu saja digunakan oleh orang lain tanpa seizin yang punya karya tentunya. Saat membuat artikel ini, penulis mencoba untuk bertanya ke beberapa kenalan perihal kasus-kasus pencurian desain yang dari dulu hingga sekarang tidak pernah ada habisnya.

(Verisa Kurniawan)

“Yang paling menjengkelkan kalo aku sih jadi mau marah juga ga bisa, karena aku sendiri masih pake software yang trial hahaha. Aku kan mengerjakan desain grafis dan juga ilustrasi, untuk desain sih aku terima-terima aja misal ada yang nyolong, tapi kalau ilustrasi enggak terima. Soalnya aku udah pake software yang berbayar, dan itu mahal hehe.” Terang Verisa saat kami tanyai.

“Pencurian desain atau ilustrasi ya? Hmmm, ini cukup membuat pusing sih. Apalagi zaman sekarang teknologi terus berkembang, semua hal bisa dengan mudah untuk didapatkan. Gw pernah tuh posting gambar ke instagram, udah diblur beberapa detail, eh pas beberapa bulan kemudian, udah ada aja yang nyaplok dijadiin desain kaos. Terus detailnya sama persis dengan yang gw buat. Gila gak tuh.” Terang Iwan.

Para penyedia jasa desain ini pun sebenarnya sudah melakukan berbagai cara agar karya cipta mereka tidak bisa dipakai oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Kebanyakan caranya adalah dengan membubuhkan watermark di setiap karyanya. Tapi lagi-lagi, karena teknologi semakin canggih, ada aja tuh caranya si oknum buat mencuri karya si pembuat. Biasanya kasus begini sering terjadi di dunia per-clothingan. Yang sempat menghebohkan waktu itu terjadi di merek Erigo dan Ziotic System, dua merek ini secara tidak sengaja (entah ada yang melaporkan) kedapatan menggunakan desain/artwork dari seniman di luar negeri. Tentu saja, dengan keajaiban jemari jemari lentik netizen, kedua merek ini akhirnya kalah dan berakhir menarik semua barang yang memuat desain tersebut. Malu? Sudah pasti, tapi dari adanya kasus tersebut, sudah sepantasnya semua merek-merek yang ada di Indonesia untuk lebih paham dan mengapresiasi karya dari seseorang. Kan percuma tuh koar-koar local pride, tapi desainnya hasil ngambil dari punya orang.

Media sosial adalah alat terhebat bagi desainer independen di masa sekarang, dan merupakan senjata terbaik dalam memerangi pemalsuan dan pencurian. Kebanyakan kasus pencurian banyak terjadi di dunia maya, tapi untuk mencari tahunya, dunia maya juga paling mudah saat ini. Kita secara langsung dapat menegur si pencuri karya, dan dengan kekuatan netizen, banyak masalah langsung terselesaikan. Tidak perlu bersusah payah untuk mengumpat, satu unggahan yang menjelaskan bahwa karya kita telah dicuri saja, orang banyak akan merespon dan menyebarluaskan serta menuntut langsung kepada si pencuri. Maka dari itu untuk melawan mereka ini, cara paling benar adalah mendaftarkan hak kekayaan intelektual milikmu. Hak cipta yang sudah didaftarkan adalah sebuah bukti kuat bahwa desain itu memang punyamu, zaman sekarang semua orang bisa kalap dan tidak mau kalah.

Saran dari kami, pertama-tama daftarkan terlebih dulu logo dirimu atau perusahaanmu. Lalu, jadikanlah logo tersebut sebagai watermark di setiap desainmu. Tidak punya hak cipta terdaftar? Tidak punya pengacara? Minta rekomendasi teman dan cari pengacara yang punya spesialisasi terhadap bisnis kecil. Selalu pikirkan dampak yang akan ada di masa depan dari setiap karya yang kamu buat. Di era digital yang berkembang pesat ini, memposting karya cipta secara online tentu saja menjadi cara mudah untuk menyebarkan karya kita ke seluruh penjuru dunia.

Teks dan Visual: Adjust Purwatama

Sebuah Pertanyaan Residensi, Mengapa Jalan-jalan untuk Seniman itu Penting?

Seperti apa sebenarnya peran residensi seni, dan bagaimana dampak sebuah kunjungan sementara terhadap proses kreatif seniman? Karena makin ke sini istilah residensi jadi template untuk sekadar program plesir yang dilakukan...

Keep Reading

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Tahun ini, Synchronize Fest Balik Lagi Secara Luring!

Penantian panjang akhirnya terjawab sudah! Synchronize Fest memastikan diri akan digelar secara offline pada 7, 8 , 9 Oktober 2022 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Mengusung tema “Lokal Lebih Vokal”,...

Keep Reading

Mocca Gelar Konser di Metaverse

Di ranah musik, kini istilah blockchain bukan lagi suatu hal yang asing. Sebelumnya, penjualan karya lewat NFT sudah banyak dilakukan oleh musisi, kini konser musik di metaverse pun menjadi salah...

Keep Reading