Dulu, Selera Musik Berubah, Gaya Berpakaian Juga

Fashion atau kultur berbusana dalam dunia musik memang sangat lekat hubungannya. Barangkali kita bisa mengidentifikasi  musik apa yang dibawakan oleh seorang musisi hanya dengan melihat pakaian apa yang ia kenakan. Semisal kemeja flanel yang identik dengan musik grunge, pakaian serba hitam dengan musik metal, jaket kulit dengan punk rock, dan lain sebagainya. Fenomena semacam ini memang begitu mudah ditemui, apalagi hari ini di mana internet nyaris memegang kendali  atas apa-apa yang ingin kita ketahui. Dalam hal ini, kamu  hanya perlu mengetik kata kunci dari apa yang ingin kamu ketahui, semisal ingin mengetahui bagaimana cara berpakaian musisi glam rock, cukup ketik saja di kolom pencarian, dan  bim salabim lalu munculah berjibun gambar dari  Still Panther sampai  Motley Crue, dari Van Halen sampai Quiet Riot lengkap dengan pakaian serba ketat dan riasan di wajahnya.

Dalam tulisan kali ini penulis hanya  mencoba untuk merangkum bagaimana perkembangan fashion dalam bermusik. Karena jika diamati seksama fashion dalam musik tiap generasi bisa dikatakan berubah, namun tak sedikit juga bertahan. Semisal pada jaman dulu para musisi Black Metal identik dengan pakaian serba hitam lengkap dengan corpse paint pada wajahnya, namun sekarang ada pula yang memainkan musik black metal dengan pakaian rapih semacam yang ditampilkan oleh Deafheaven. Akhirnya jika berbicara soal musik –bersamaan dengan zaman yang terus berubah- batasan apapun bisa ditembus, terlebih dalam urusan fashion. Sebetulnya tak ada patokan khusus tentang relasi pakaian dan warna musik yang dibawakan, tetapi akhirnya fashion atau pakaian adalah salah satu elemen penting dalam menunjukan identitas musik kita. Seperti halnya David Bowie di mana ketenarannya dalam berbusana berbanding lurus dengan karirnya di dunia musik.

Tak bisa dipungkiri, para artis yang ada dalam industri musik menjadi salah satu patron atau panutan dalam cara berpakaian. Para musisi berhasil mendorong secara terus-menerus  batas-batas dari apa yang dianggap modis oleh masyarakat luas. Setelah tren baru yang diperkenalkan oleh para musisi terlihat, segera para awak media dengan cepat menangkapnya, dan tren tersebut sering kali akan sampai dan diikutioleh masyarakat luas. banyak dari para pecinta musik secara individu maupun kelompok gayanya dipengaruhii oleh musisi favorit mereka. Salah satu contohnya adalah gelombang berbusana ala The Beatles di tahun 1960-an. Seiring dengan semakin populernya musik pop rock yang dibawakan oleh The Beatles, maka sosok  berikut fashion The Beatles pun diikuti oleh masyarakat luas, khususnya para pemuda. Hal ini didrong juga oleh peranan para desainer yang muali mengikuti perkembangan zaman dan mengkurasi mode untuk kaum muda, padahal praktik para desainer tersebut sebelumnya hanya ditujukan untuk masyarakat menengah ke atas saja.

Masuk di dekade 60-an akhir, gerakan budaya tanding oleh generasi bunga atau yang lebih familiar dengan istilah kaum Hippies mulai muncul ke permukaan dan memberi pengaruh yang cukup luas. Gerakan tersebut tak hanya mempengaruhi iklim politik saja, namun turut memberi pengaruh juga pada ranah fashion. Generasi ini identik dengan musik psychedelic semacam yang dibawakan oleh Jefferson Aeroplane. Dalam cara berpakaian generasi ini pun memiliki ciri khasnya sendiri, yakni pakaian mode santai ‘The Summer of Love’ dengan warna yang mencolok. Akhirnya fashion bukan hanya perkara pakaian semata, namun lebih jauh lagi cara berpakaian menjadi  identitas ideologi mereka lengkap dengan slogannya ‘Make Love, Not War’ yang mencirikan perdamaian. Menyebarluasnya fashion ini tak bisa  dilepaskan dari semakin banyaknya pula musisi beken sekelas Jimi Hendrix, Janis Joplin, Pink Floyd dan lainnya, juga turut didorong dengan momentum akbar bernama Woodstock Festival.

Di pertengahan dekade 1970-an, musik punk rock mengambil alih arena musik. Penelusuran  menyoal fashion di ranah musik punk entah dari mana bermula, namun yang pasti unit urakan asal Inggris, Sex Pistols cukup memberi pengaruh yang kuat dalam hal berbusana. Semisal jaket kulit atau rompi yang penuh dengan patch dan pernak pernik lainnya. Seperti halnya dengan generasi bunga atau kelompok lainnya, yakni cara berbusana dalam subkultur punk juga adalah sebuah pernyataan diri. Seiring dalam perkembangannya fashion dalam musik punk pun turut berkembang.  Terlebih tak jarang fashion yang bermula di jalanan ini mulai dilirik oleh para perancang busana profesional dan berakhir di butik yang mentereng atau bahkan berakhir di ajang fashion show.

Di lain ranah, pertengahan dekade 1970-an pun industri musik sedang diramaikan dengan berbagai musik yang penuh warna. Semisal musik lantai dansa ala disko ataupun musik yang lebih keras seperti glam rock atau hair metal, tentu dengan fashion yang berkebalikan dengan musik punk. Seperti kita ketahui, fashion dalam musik glam rock adalah anti-tesis dari punk rock, di mana glam rock lebih identik dengan dunia glamour dan hal tersebut tercermin dari cara mereka berpakaian, potongan rambut, maupun riasan pada wajah yang cenderung menyerupai wanita.

Memasuki dekade akhir abad 20, musik grunge merebut arena musik dunia. Grunge bukan hanya mempengaruhi musik tetapi juga fashion. Adalah  Kurt Cobain, frontman Nirvana itu telah memainkan peran penting yang sangat besar dalam hal berbusana. Dia mempopulerkan atasan yang terlalu besar, kameja flanel, celana jeans bolong, dan sneakers yang sudah lusuh. Bahkan pengaruh ini masih bisa kita temui hari ini.

Musik dan busana akhirnya selalu saling mempengaruhi satu sama lain. Kedua hal itu memiliki pengaruh yang  cukup besar atas apa yang kita pakai hari ini, terlebih bagi para pecita musik. Disadari atau tidak musisi maupun seniman akan terus menjadi trend bagi masyarakat luas.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Terhubung Langsung di Collabonation Creative City Edisi Bandung

Setelah mengunjungi Makassar, Medan, dan Malang, Collabonation Creative City kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini Bandung yang menjadi titik pemberhentiannya. Collabonation Creative City hadir membawa semangat baru melalui rangkaian kegiatan salah...

Keep Reading

Program Menarik Bernama Women Composser Weekend

Merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh di tanggal 8 Maret lalu, untuk pertama kalinya, Yayasan Bandung Philharmonic berkolaborasi dengan Komunitas Perempuan Komponis: Forum & Lab untuk meluncurkan dua program webinar...

Keep Reading

Libatkan Seniman Lokal, SOCA Wheels Luncurkan Program Luring SOCA Spinning Wheels Vol.1

Tak bisa dipungkiri, pandemi yang sudah terjadi selama lebih dari dua tahun ini sudah berhasil membuat repot semua lini, termasuk lini hiburan. Selama dua tahun itu pula kita disuguhi dengan...

Keep Reading

Bandcamp Resmi Bergabung dengan Epic Games

Bagi yang menggandrungi musik, tentu gak bakal asing dengan platform pemutar musik digital bernama Bandcamp. Dengan adanya platform tersebut para musisi bisa dengan mudah mendistribusikan karyanya, lewat platform itu pula...

Keep Reading