Dugaan Musisi Palsu di Spotify Kembali Mencuat

Di era yang sudah serba digital seperti sekarang, segala sesuatu dapat dengan mudah terjadi. Khususnya di industri hiburan (dalam hal ini musik) tentu hal semacam ini bisa membawa kemajuan yang positif. Namun di balik gegap gempita perayaan dunia digital hari ini, tak sedikit pula orang yang dibuat rugi karenanya. Khususnya bagi musisi, bertahan di arena industri musik memang bukanlah suatu hal yang mudah, terlebih dengan kondisi seperti ini, di mana banyak musisi yang menggantungkan hajat hidupnya pada ranah digital. Salah satu upayanya adalah mengunggah lagu-lagunya ke Spotify dengan harapan mendapat royalti yang sepadan.

Namun kenyataannya hari ini para musisi mendapatkan tantangan baru dari ‘fake artist’ yang diduga dibuat oleh Spotify itu sendiri. Fennomena fake artist di Spotify memang bukan suatu hal yang baru. Beberapa tahun ke belakang polemik ini sempat muncul ke permukaan, di mana beberapa media –termasuk Rolling Stone- menurunkan laporan tentang fake artist yang telah berhasil  mengumpulkan 2,85 miliar streaming Spotify.

Baru-baru ini (15/1) spekulasi ini muncul kembali ke permukaan. Salah satu pemantiknya adalah akun twitter bernama SociableBarely. Dalam utasnya secara runtut ia menguraikan beberapa penemuan mutakhir ihwal artis palsu yang ada dalam Spotify dengan menampilkan beberapa capture berita yang sempat membahas isu tentang artis palsu ini.

Praktik yang dilakukan oleh Spotify sebetulnya cukup sederhana. Mereka bekerja sama dengan perusahaan atau studio produksi untuk membuat musik, kemudian karya yang dibuat akan dipatenkan oleh Spotify sendiri, sehingga keuntungan dari jumlah streaming akan kembali ke Spotify dan tak perlu membayar royalti sang artis. Sebelumnya diketahui bahwa Spotify mempekerjakan studio asal Swedia untuk membuat musik yang nantinya musik tersebut akan masuk ke dalam daftar putar resmi Spotify. Musik-musik yang diproduksi ini  meliputi Deep Focus, Sleep, atau Peaceful Piano, yang kebanyakaan memang musik-musik atmospheric atau musikyang dapat mempengaruhi suasana hati.

Tahun 2019 lalu, Rolling Stone sempat menurunkan artikel yang secara spesifik membahas isu ini. Di dalamnya termasuk laporan tentang 10 fake artists ini memiliki jumlah pendengar yang besar, yang jika digabungkan bisa mencapai 1.22 Miliar kali diputar. Angka yang fantastis bukan?

Berikut ini daftar ‘fake artist’ yang ada di Spotify dilansir dari Rolling Stone:

‘Ana Olgica’ – 154 juta plays, 1,52 juta pendengar bulanan;

‘Charles Bolt’ – 143 juta plays, 1,85 juta pendengar bulanan;

‘Samuel Lindon’ – 145 juta plays, 1,55 juta pendengar bulanan;

‘Aaron Lansing’ – 121 juta plays, 1,62 juta pendengar bulanan;

‘Enno Aare’ – 120 juta plays; 1,15 juta pendengar bulanan

‘Piotr Miteska’ – 115 juta plays; 1,47 juta pendengar bulanan;

‘They Dream By Day’ – 108 juta plays; 1,24 juta pendengar bulanan

‘Lo Mimieux’ – 107 juta plays, 1,28 juta pendengar bulanan;

‘Karin Borg’ – 104 juta plays, 987.000 pendengar bulanan;

‘Jozef Gatysik’ – 98,8 juta plays, 966.000 pendengar bulanan;

Dikutip dari Variety, Seorang mantan karyawan Spotify pernah  mengatakan bahwa ini adalah strategi perusahaan yang disengaja: “Ini adalah salah satu dari sejumlah inisiatif internal untuk menurunkan royalti yang dibayarkan Spotify kepada label besar,” kata mereka.

Fenomena semacam ini memang seharusnya tak pernah terjadi. Jika terus terjadi, hal ini tentu dapat merugikan banyak pihak, terutama musisi-musisi arus pinggir  yang sedang merintis karirnya.

Sedangkan beberapa bulan ke belakang United Musician and Allied Workers Union (UMAW) menggulirkan sebuah kampanye bertajuk ‘Justice at Spotify’. Agenda besar dalam kampanye tersebut yaitu menuntut pihak Spotify  untuk menaikan lebih tinggi tarif artis dan memberikan transparansi keuangan juga cara kerja platform tersebut. Secara spesifik UMAW menuntut agar Spotify memberikan royalty kepada artis satu sen per streaming, saat ini platform tersebut hanya memberikan royalty kepada artis rata-rata $ 0,0038 USD per streaming.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip The Verge

The Box Perkenalkan Formasi Baru Lewat Live Session

Pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun ini telah membuat kita semua kembali dari awal. Menyusun ulang rencana dan mulai menata kembali langkah-langkah yang akan diambil. Kini industri sudah mulai...

Keep Reading

Sajian Ska Berbeda dari Slowright

Slowright, unit ska dari kota Malang baru-baru ini telah melepas album mini teranyarnya bertajuk Believe. Dirilis oleh label rekaman yang bermarkas di Yogyakarta, DoggyHouse Records, lewat rilisannya kali ini Slowright...

Keep Reading

Zizi yang Menyapa Kampung Halaman Lewat Hometown Tour

Setelah menyelenggarakan showcase perdananya yang bertajuk Unelevated Intimate showcase di Bandung pada akhir Februari lalu. Kini, Zizi kembali ke rumah tempat ia tumbuh dan menemukan passion terbesar dalam dirinya. Ia...

Keep Reading

Realita Kaum Pekerja di Nomor Kolaborasi Dzulfahmi dan Tuantigabelas

Dzulfahmi, MC dari kolektif Def Bloc dan Dreamfilled yang bermukim di Jakarta baru-baru ini (6/5) telah memperkenalkan karya terbarunya bertajuk “Rotasi”. Lewat rilisannya kali ini Dzulfahmi menggaet salah satu nama...

Keep Reading