Distopia dalam Single Keempat Danudjaditya

“Öcknut Aparäm” merupakan single keempat dari Danudjaditya yang baru saja dirilis akhir September ini. Dalam nomor tersebut, Danudjaditya mencoba untuk menceritakan cuplikan dari sebuah distopia bernama Nuransathä, sebuah negeri yang dibangun dari darah rakyatnya sendiri.

“Produksi kekerasan di sana terlembagakan. Instansi bernama ‘Öcknut Aparäm’ ini memusuhi rakyat Nuransathä dan bertindak semena-mena. Beda jauh dengan Indonesia yang rakyatnya sejahtera, pemerintahnya baik dan militernya pun santun. Nuransathä adalah distopia, negeri tak ideal,” beber Didit, satu-satunya anggota dari Danudjaditya, entah tulus entah tidak.

Kebanyakan diksi yang ia gunakan dalam judul merupakan hasil dari permainan kata. Biarpun terlihat ke-Jerman-Jermanan, “Öcknut Aparäm” terdengar seperti “Oknum Aparat” jika kedua huruf belakangnya diganti. Ini juga mungkin terjadi pada Nuransathä dan single debut instrumentalnya, “Suay Marabahara”. Kalau nomor perdana tersebut ditulis dengan normal, mungkin, Danudjaditya takut disama-samakan dengan uni heavy metal asal Palembang, Auman.

Masih seperti nomor-nomor sebelumnya, Daundjaditya menggantungkan musiknya pada dominasi suara fuzz kotor dan ketukan drum agresif. Dan memang hanya kedua unsur itu saja yang terdengar dalam lagu-lagunya selain isian vokal.

“Nuansa yang kental dengan punk 70-an itu baginya masih jadi medium yang tepat untuk mengisahkan distopianya sekaligus mengantar pengalaman musikal bertensi tinggi ke telinga pendengar,” tulis keterangan pers yang diterima Siasat Partikelir.

Uniknya, ia merekam instrumennya sendiri di rumah dengan alat-alat seadanya, mengakali segala hal untuk mengejar sound yang diinginkan. Ia sempat membagikan suka dukanya melaksanakan rekaman melalui unggahan di media sosial.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Aditya Danudja (@danudjaditya)

Danudyaditya sejatinya adalah sebuah proyek solo dari Aditya Danudja. Dulunya ia dikenal sebagai gitaris dari unit rock asal Bandung, The Pruxx. Setelah ia berpindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan studi, The Pruxx tidak terdengar lagi. Biarpun begitu, ternyata ia memulai sesuatu yang baru di kota tersebut. Walaupun sebuah proyek solo, ia dibantu oleh soloin happy mental folkish, Jono Terbakar. Tahun ini, ia telah melepas “Suay Marabahara”, “Buyar Seketika”, dan “Adiksi Atensi” sebelum nomor baru ini. Bedanya, jika ketiga nomor sebelumnya ia kerjakan sendiri, dalam “Öcknut Aparäm” ia dibantu seorang coproducer, Rarya Lakshito.

Mari Rayakan Akhir Pekan Di M Bloc Fest 2022

M Bloc Space merayakan ulang tahunnya yang ke-3 dengan membuat beragam keriaan: The Writers Festival (24 – 25 September), M Bloc Music Week (25 September – 2 Oktober), Pasar Wastra...

Keep Reading

Sad But True Menggurat Kisah Sedih

Kuartet Sad But True, unit heavy pop-punk, kini solid digawangi oleh Anisham (vokal), Hery (Gitar), Ryan Fakk (Bass), dan Kicot (Drum) tidak ingin berlama-lama untuk menjadi pasif. Langkah konkret yang...

Keep Reading

Persembahan Dhira Bongs Pasca Pandemi

Dhira Bongs, solois pop asal Bandung yang makin melebarkan gaung dengan merilis album studio baru bertajuk A Tiny Bit of Gold in The Dark Ocean. Album penuh ketiga setelah My...

Keep Reading

Kejutan Dari Bas Boi Yang Menggandeng Feel Koplo

Melangkah tanpa henti, Basboi kembali merilis materi yang sudah beberapa kali iya bawakan sebagai kejutan di konser-konsernya berjudul U DA BEST. Sebelumnya, solois ini sukses menggelar tur albumnya di enam...

Keep Reading