Band asal Palembang, Sumatera Selatan, Diroad, terpilih menjadi salah satu yang terbaik dari Gang of Folk, salah satu seksi penting Folk Music Festival 2018. Mereka tampil di Batu, Jawa Timur. Terbang jauh menembus batas pulau, dilakoni. Band yang mulai aktif sejak tahun 2016 ini membawa misi kebudayaan secara langsung ke dalam musik yang mereka mainkan.

Merilis single Pilumu Cinde pada 2017 silam membuktikan keseriusan mereka dalam bermusik dan membawa misi kebudayaan. Lagu ini berisi kepiluan, kesedihan, kekecewaan dan bentuk protes akan Pasar Cinde, salah satu situs bersejarah Kota Palembang yang kini telah tiada. Pasar Cinde sendiri bukan hanya sebuah pasar, namun sudah menjadi cagar budaya dan bukti penting sejarah kehidupan di kota mereka.

Selain single tersebut, Diroad sedang mempersiapkan album mereka. Debut yang menurut rencana akan diberi nama Halona itu punya arti keberuntungan. Niatnya baik, secara harafiah, mereka ingin siapapun yang mendengarkan bisa mendapat keberuntungan. Rencananya lagu-lagu yang terdapat di album nanti akan berjumlah 9 lagu. Jumlah 9 menggambarkan Batang Hari Sembilan, sebuah bentuk tradisi yang ada di Palembang.

Diroad saat tampil di Folk Music Festival

“Itulah kenapa kami memilih nama Diroad yang berarti di jalan, memakai pakaian adat jumputan dan kenapa musik kami begini, semua sudah kami pikirkan untuk memperkenalkan kebudayaan Palembang ke khalayak luas,” jelas Riyan Koeswara, gitaris dari Diroad.

Selain Riyan, Diroad juga beranggotakan Hendy Hidayat pada cello serta dua orang penyanyi, Indah Rizky Heryana dan Hafiz Riswandi.

Diroad saat tampil di Folk Music Festival

Band ini juga dibentuk atas dasar rasa cinta yang sama dengan musik tradisi yang harus dilestarikan. Termasuk diturunkan pada pemilihan alat musik yang menurut mereka mengalir begitu saja.

Musik mereka folk. “Itu bahasa musik rakyat dan kami adalah rakyat. Keresahan kami setiap hari bisa ditulis. Ketika kita bicara soal folk, itu tidak melulu soal matahari dan senja saja. Masih banyak keresahan yang dialami semua orang untuk bisa dituangkan ke dalam lirik,” jelas Riyan lagi.

“Kesulitan dalam bermusik tradisi sudah pasti ditemui, mulai dari orang-orang yang tidak terlalu akrab, kurang mengerti dengan bahasa daerah yang dibawakan, dan lain sebagainya. Cara mensiasatinya adalah dengan menggabungkan musik tradisi dengan musik modern namun dengan tetap mengutamakan unsur tradisi didalamnya.”

Diroad saat tampil di Folk Music Festival

Diroad, jelas belum punya banyak jejak. Tapi, perjalanan mereka sudah dimulai. Pergi tur ke Jawa dan kemudian membawa musik mereka ke panggung yang lebih besar, adalah sebuah upaya untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru yang bisa saja makin melebar ketika Halona dirilis satu hari nanti.

“Kami punya tujuan untuk memperlihatkan kepada orang-orang bahwa musik tradisi itu keren, jangan pernah malu untuk memainkan musik tradisi. Sebab musik tradisi adalah akar dari kehidupan kita sehari-hari. Hal itu sangat membanggakan jika kita bisa membawa identitas asli kita kemanapun kita berada,” lanjut Riyan lagi.

Bicara soal Batang Hari Sembilan, yang mereka jadikan referensi besar dalam menggarap album, ini merupakan tembang sastra tutur tadut. Dalam pengertian umumnya, Batang Hari Sembilan adalah kebudayaan yang berbasis pada sungai. Ini merupakan tradisi kebudayaan agraris yang selaras dengan alam. Musik yang diekspresikan dari budaya ini bernuansa romantik, melonkolik dan naturalistik. Kebudayaan sungai ini dapat ditunjukkan dari pola pemikiran masyarakat asli yang berjajar di pinggir sungai. Angka 9 sendiri menggambarkan pertemuan dari 9 sungai yang ada di Palembang dan setiap sungai memiliki sastra tutur  yang berbeda-beda.

Untuk sebuah perkenalan awal, menarik, bukan? (*)

teks: Adjust Purwatama
foto/dok: Adjust Purwatama