Dilema Konser Virtual

Di masa yang tidak bisa berkerumun untuk menikmati sebuah hiburan pertunjukan musik, konser virtual adalah solusi yang terbaik saat ini. Benar kan? Bolehlah kiranya kita bersabar untuk menghadiri sebuah gigs. Walaupun beberapa bulan ke belakang sudah banyak yang menggelar berbagai macam konser luring, tapi alangkah bijaknya agar kita menahan diri dulu, sampai kondisi benar-benar stabil. Ironis memang, di satu sisi banyak musisi yang butuh panggung untuk mengisi bahan bakar roda kehidupan mereka, tapi di sisi yang lain juga banyak orang yang sedang bertarung melawan virus ini. Untunglah kita hidup di zaman serba teknologi, yang mana semua hal bisa diakali dengan sentuhan digital.

Tak bisa datang dan menikmati konser luring, konser virtual jawabannya. Salah satu kelebihannya adalah kita bisa menikmati penampilan musisi secara real time melalui layanan streaming. Tapi, bukan berarti bentuk seperti ini bisa dilakukan secara mudah dan gampang, seperti kita berkirim surat elektronik. Dan musuh utama dari konser virtual adalah jaringan yang tidak stabil. Seperti kita ketahui, layanan jaringan di negeri ini belum mencakup banyak daerah. Dan lagi kadang-kadang, sinyal yang ada juga tidak bagus.

Sekali lagi ditekankan, membuat konser virtual itu beban kerjanya lebih berat dibanding konser luring. Asli loh. Konser virtual sebenarnya bukanlah konsep yang sepenuhnya baru, tetapi kondisi pandemi yang ada saat ini telah memberinya kehidupan baru. Pada bulan April kemarin, salah satu ‘konser’ online besar pertama digelar di tempat yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, yaitu di dalam sebuah game bernama Fortnite. Konser virtual juga bisa dimanfaatkan banyak musisi dan para fans agar lebih dekat lagi selama masa penayangan, biasanya beberapa pertunjukan menghadirkan fitur interakasi. Contohnya ada di pertunjukan “Here Comes The Sun 2” yang digelar pada 31 Oktober sampai dengan 1 November kemarin. Dan lagi, musisi bisa sesuka hati mau berapa kali menggelar pertunjukannya, selagi tenaga dan ide tidak habis, sikat saja.

Tapi, namanya manusia pasti tidak ada puasnya. Masalahnya adalah, tidak ada satu pun dari banyaknya konser virtual yang digelar itu bisa memberikan pengalaman yang sama saat kita menonton pertunjukan asli. Sehebat apapun program dan fitur yang dihadirkan, esensi menonton sebuah pertunjukan sejatinya adalah datang langsung dan berbaur bersama penonton lainnya. Tetapi balik lagi ke persoalan, kalau kamu menyukai band tersebut dan ingin terus mendukungnya, sangat dianjurkan untuk terus menikmati apa pun yang mereka keluarkan. Lalu, mengerjakan sebuah konser virtual ini memerlukan proses yang berlapis-lapis dalam produksinya. Memang, urusan di awal kurang lebih hampir sama dengan yang luring, tapi itu tadi, bila biasanya setelah selesai urusan administrasi dengan musisi yang bersangkutan, lalu mereka datang untuk tampil, di konser virtual setelah tampil kita masih dihadapkan dengan kegiatan edit mengedit. Salah sedikit di dalam proses produksi, maka semuanya harus diulang kembali.

Bentukan konser virtual pada awalnya tidak mendapat perhatian atau investasi yang serius sebelum adanya pandemi ini. Hal ini juga terjadi karena konser luring masih memegang peranan penting di semua kancah musik di dunia. Baru pada kuartal ketiga di tahun inilah semuanya mulai sangat serius menggelutinya. Konser virtual adalah solusi sekaligus tantangan baru bagi kita semua. Diperlukan lebih dari sekadar pertunjukan luar biasa dan konten bagus untuk menjaga energi tetap mengalir. Bagaimana artis akan merasakan energi kerumunan saat mereka tidak tampil di depan penonton? Dan bagaimana perasaan penonton saat menari, bernyanyi bersama, dan bersuara keras ketika mereka mengisolasi diri?

Para musisi dan penonton pada awalnya mungkin sangat kesulitan untuk menemukan energi besar yang sama saat mereka peroleh dengan hadir secara langsung. Lalu, di konser virtual ini juga tidak boleh ada ruang untuk kesalahan sekecil apa pun, baik itu gangguan produksi, atau masalah konektivitas. Penonton menuntut audio yang sempurna, pencahayaan yang sempurna, dan efek khusus yang canggih. Peristiwa konser virtual ini harus sesuai – atau bahkan melampaui – harapan mereka. Tindakan yang biasa diperlukan agar semua berjalan lancar adalah mempekerjakan profesional yang sangat peduli dengan kesempurnaan. Terlepas dari sifat yang dilucuti dari banyak pertunjukan ini, penonton akan segera menuntut tingkat pengalaman konser yang mereka sukai. Audio yang sempurna, pencahayaan dramatis, pementasan dinamis, efek khusus yang eksplosif, dan pengaturan multi-kamera yang dapat menciptakan pengalaman yang lebih intim daripada menghadiri pertunjukan secara langsung.

Terlepas dari ketidakpastian kapan acara langsung akan kembali, masih ada banyak peluang. Streaming langsung dan konser virtual akan menjadi cara sempurna bagi artis di seluruh dunia untuk bekerja sama antara satu sama lain dan mereka juga bisa membuka banyak peluang penggalangan dana untuk banyak badan amal di mana saja, yang siap membantu mereka yang terkena dampak krisis ini. Intinya, selalu dukung musisi kesukaanmu, beli merchandise, beli tiket konser virtualnya, dengarkan musik mereka di berbagai layanan musik dalam jaringan.

Oh ya, sebentar lagi akan hadir Ride In Celebes loh. Ini adalah sebuah bentuk baru dari festival Rock In Celebes, bedanya kali ini adalah digelar secara virtual. Segera registerasi di soundstream.id dan catat tanggalnya, hanya 26 & 27 Desember.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Video Musik Bintang Massa Aksi .Feast

Abdi Lara Insani yang merupakan single utama dari album teranyar .Feast berjudul Bintang Massa Aksi ini ternyata masih memiliki keberlanjutan dengan dirilisnya sebuah video klip resmi di kanal YouTube .Feast (22/11/22). Video klip ini melibatkan...

Keep Reading

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading