Dialita Bercerita di Ruang Putih

Bandung mendapatkan kesempatan mendengarkan Dialita bercerita pada Rabu, 24 April 2019 yang lalu.

Dialita adalah paduan suara perempuan yang sebagian besar anggotanya mengalami langsung peristiwa kemanusiaan enam lima. Ada versi informasi yang bilang bahwa Dialita sesungguhnya adalah kependekan dari “Di atas lima puluh tahun” yang juga menunjukan usia kebanyakan anggotanya.

Dengan latar belakang yang nyaris sama, para perempuan ini memilih bernyanyi untuk menyuarakan cerita mereka. Status tahanan politik yang pernah melekat, bisa jadi hadir tanpa proses yang benar dan seringkali meleset dari fakta yang sebenar-benarnya terjadi.

Sore itu, sekitar pukul tiga sore, Ruang Putih sudah penuh dengan pengunjung yang antusias untuk mendengarkan cerita dan pertunjukan Dialita. Sebelum berbincang-bincang, mereka sempat sebentar melakukan gladi bersih yang bisa ditonton oleh pengunjung.

Usia menantang para pemberani ini untuk terus mewartakan kisah mereka, supaya tidak pernah terulang kembali di negeri ini. Kendati ada di fase lanjut, mereka masih bersemangat dan punya determinasi ketika mengisahkan kembali apa yang terjadi pada kebanyakan anggota paduan suara ini.

Rasanya seperti didongengi kisah yang pahit tapi berujung terang. Masa-masa sulit mengarsipkan karya, berkumpul dan kemudian curi waktu latihan untuk mengingat lagu-lagu yang dimiliki, dipaparkan dengan begitu gamblang.

“Zaman saat ini enak, semua serba ada. Ekspresi tidak dibungkam. Media penyampai karya sangat banyak. Beda dengan kami kala itu, tidak banyak cara bagi kami tahanan untuk mengekspresikan perasaan. Membuat (karya) pun cukup susah karena alat tulis saat itu benar-benar dilarang,” kata Uchikowati, biasa dipanggil Ibu Uchi, salah satu personil Dialita.

Hingga hari ini, Dialita sudah merangkum karya-karya mereka dalam dua buah album, Dunia Milik Kita (2016) dan Salam Harapan (2019). Di dalamnya, ada berbagai macam kisah pahit yang berbumbu macam-macam; rindu pada buah hati, perasaan marah karena kebebasan diberangus, harapan akan masa depan yang lebih baik dan beberapa hal lain.

Lagu-lagu ini jadi penanda, bahwa apa yang mereka alami, tidak boleh berulang kembali di negeri ini. Sejarah kelam yang pernah terjadi di Indonesia, apapun alasannya, tidak bisa terjadi lagi.

Ketika sesi bernyanyi bersama datang, penonton bukannya ikut tapi malah tertegun menyaksikan apa yang mereka lihat sekaligus meresapi lirik-lirik yang dinyanyikan. Para perempuan pemberani ini memberikan rasa tenang yang luar biasa lewat nyanyian mereka kendati secara kualitas banyak bagian di mana mereka terdengar bergetar dan tidak merdu karena faktor usia.

Cerita lebih penting dari segalanya. Jika ada kesempatan menyaksikan mereka di kotamu, pastikan tidak kelewatan. Dengarkan cerita mereka dan berjuanglah bersama, supaya kekerasan tidak punya ruang di Indonesia. (*)

Teks dan foto: Adjust Purwatama

Geliat Kreatif Dari Sulawesi Tengah Dalam Festival Titik Temu

Terombang-ambing dalam kebimbangan akan keadaan telah kita lalui bersama di 2 tahun kemarin, akibat adanya pandemi yang menerpa seluruh dunia. Hampir semua bentuk yang beririsan dengan industri kreatif merasakan dampak...

Keep Reading

Memaknai Kemerdekaan Lewat "Pasar Gelar" Besutan Keramiku

Di pertengahan bulan Agustus ini, ruang alternatif Keramiku yang mengusung konsep coffee & gallery menggelar acara bertajuk “Pasar Gelar” di Cicalengka. Gelaran mini ini juga merupakan kontribusi dari Keramiku untuk...

Keep Reading

Semarak Festival Alur Bunyi Besutan Goethe-Institut Indonesien

Tahun ini, Goethe-Institut Indonesien genap berusia 60 tahun dan program musik Alur Bunyi telah memasuki tahun ke-6. Untuk merayakan momentum ini, konsep Alur Bunyi tetap diusung, namun dalam format yang...

Keep Reading

Head In The Clouds Balik Lagi ke Jakarta

Perusahaan media serta pelopor musik Global Asia, 88rising, akan kembali ke Jakarta setelah 2 tahun absen karena pandemi pada 3-4 Desember 2022 di Community Park PIK 2. Ini menandai pertama...

Keep Reading