Orang-orang berbalut pakaian hitam berkerumunan di hadapan pintu utama menuju venue. Adzan Isya masih terdengar bersahut-sahutan saat antrean semakin memanjang. Malam itu, 27 April 2019, Rumah Mesra mengadakan hajatan Intimate Showcase Dialektika, kolaborasi ciamik antara Dialog Senja x Suar & Temaram. Keduanya adalah band lokal Sukabumi yang sedang diperbincangkan di skena lokal.

Selagi kami mengantre, terdengar sayup-sayup suara panitia yang sedang memberikan brief terakhir sebelum pintu dibuka. Hampir berbarengan dengan teriakan jargon panitia, lampu venue menyala, lalu pintu pun terbuka. Perlahan antrean pun surut, orang-orang yang berkerumun mulai masuk dan memenuhi venue. Rumah Mesra terlihat berbeda malam itu, hampir seluruh set panggung berwarna hitam. Tepat di depan panggung, terdapat dua kain transparan yang menggantung. Lampu kuning temaram terpancar dari sudut kiri dan kanan panggung. Mereka menerangi sebagian panggung dan menyisakan sebagian besar lainnya tetap menjadi misteri bersama fungsi kain yang menggantung.

Saat para penonton masih menerka fungsi kain tersebut, terdengar seseorang menyambut kedatangan melalui pengeras suara, Ia adalah Malik, orang yang bertanggungjawab atas berjalannya pertunjukan ini, perwakilan dari mesinsuara. Ia mengajak para penonton untuk mengumpulkan perhatiannya di sudut lain. Di sana sudah terjajar beberapa kursi kosong, beberapa artwork dan video respon dari beberapa artis lokal dan internasional yang terlibat.

Malik mengajak semua penonton dan beberapa media yang datang saat itu untuk menyimak konferensi pers Dialektika yang akan berlangsung sesaat lagi. Terlihat semua personil Dialog Senja x Suar & Temaram yaitu James, Raden, Rivhal dan Virza mulai mengisi kursi-kursi yang kosong, dan konferensi pers pun dimulai. Rasa penasaran para penonton pun mulai terpuaskan secara perlahan ketika kedua band yang mereka nantikan mulai menjelaskan satu per satu seluk-beluk Dialektika sebagai sebuah album kolaborasi. Dimulai dari pemaparan wacana kolaborasi, tahap produksi, lirik, artwork hingga rencana ke depannya dari kolaborasi ini.

Tanpa buang waktu, closing statement konferensi pers yang diberikan oleh para personil kedua band tersebut menandakan bahwa sesaat lagi pertunjukan akan dimulai. Semua lampu perlahan meredup dan kemudian mati. Terlihat proyektor menyala, menembakkan cahayanya pada kedua kain transparan yang menggantung di hadapan panggung. Kini, para penonton mengetahui fungsi kain tersebut dengan munculnya berbagai macam visual dan potongan lirik dari lagu yang ada dalam album Dialektika.

Saat perhatian penonton masih terfokus pada sajian visual yang diberikan, terlihat siluet para penampil yang memposisikan dirinya dengan instrumen masing-masing sudah siap memulai pertunjukkannya. Visual mapping, dan intro dari pengeras suara tiba-tiba berhenti, lampu menyala, dan dengan segala kegaduhan yang dibuat oleh para penonton, pertunjukan pun dimulai dengan lantunan lagu pertama yaitu Kalam Jiwa.

Malam itu, kami menyaksikan sosok-sosok yang biasanya berfungsi sebagai teman nongkrong berubah menjadi orang asing. Di atas panggung, yang mereka pancarkan hanyalah rasa percaya diri dan kualitas entertainer yang tidak kami kenali. Kami menyaksikan sebuah momen monumental saat kedua band itu sudah melewati masa pubertasnya menjadi pribadi yang siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang diberikan dunia. Mereka sudah sangat-sangat siap. Hanya itu yang terlintas di benak kami. Layaknya pemuda-pemudi yang beranjak dewasa, mereka sudah siap untuk merantau. Kota ini dan malamnya yang dingin terasa terlalu kecil untuk menampung energi yang mereka luapkan saat itu.

Satu per satu, di setiap sela-sela lagu, mereka menceritakan perjalanan mereka hingga Dialektika. Seperti tuan rumah yang baik, mereka mengajak kami berbincang dan merasa sungkan jika kami tidak bersenang-senang. Bantuan visual berbentuk lirik yang ditembakkan di atas kain mempermudah kami untuk menikmati setiap lagu yang dibawakan. Tak terasa lagu demi lagu dibawakan dengan apik, hingga akhirnya pertunjukan tiba di lagu terakhir yang ada pada setlist mereka yaitu Layar Merah yang merupakan single yang terlebih dahulu dirilis sebelumnya. Para penonton kembali mendapatkan energinya untuk berteriak dan berdansa setelah delapan lagu terlewati. Lagu yang sudah cukup familiar di telinga ini menjadi amunisi terakhir yang ditembakkan oleh Dialog Senja x Suar & Temaram.

Saat pertunjukkan terlihat akan diakhiri, seruan encore mulai merajalela. Dialog Senja x Suar & Temaram tak ayal menjawab seruan tersebut dengan mengajak seluruh penonton yang ingin bernyanyi bersama untuk naik ke atas panggung dan mengajak seluruh teman-teman yang ada untuk menggantikan mereka bermain instrumen.

Mereka memainkan lagu Bersuka Ria dan Layar Merah untuk kedua kalinya di panggung itu. Virza dengan gitarnya mulai menyeruak ke tengah penonton dan melompat untuk melakukan crowd surf, Ia biasa melakukan hal tersebut di setiap pertunjukkan Suar & Temaram. Namun, malam itu, bukan cuma Virza yang melakukannya. Rivhal, sang vokalis pun pada akhirnya melompat ke arah penonton setelah sebelumnya menyerahkan Bass yang Ia gunakan pada orang lain.

Malam itu, Dialog Senja x Suar & Temaram menyuguhkan penampilan yang luar biasa. Jika Dialektika yang dimaksud adalah tentang pilihan-pilihan yang diambil manusia, maka malam itu seluruh penonton yang memilih untuk datang dapat dipastikan melakukan proses dialektik dengan hasil akhir terbaik dibanding pilihan lainnya. (*)

Teks: Riki Rinaldi