Di Balik Kejayaan Musik Elektronik

Selalu ada sejarah panjang di balik berjayanya suatu kebudayaan di masa sekarang. Misalnya saja soal musik elektronik. Di hari ini, seminimalnya pasti kita pernah mendengarkan jenis musik tersebut, entah di angkutan umum, klub malam, atau bahkan di suatu festival berskala besar. Di Indonesia, musik elektronik rupanya bukan barang baru. Beberapa catatan mengatakan bahwa geliatnya sudah di mulai sejak tahun 1963. Melalui komposisi musik balet yang dipadukan dengan gamelan bernama Latigrak, Slamet Abdul Sjukur menancapkan benderanya sebagai pelopor musik elektronik di Tanah Air.

Pementasan Latigrak berlangsung di Paris, kota tempat Sjukur bertemu  GRM (Groupe de Recherche Musicale) yang didirikan oleh musisi eksperimental Pierre Schaeffer. Penggarapannya sendiri dilakukan pada studio milik kelompok tersebut. Tidak berhenti di Sjukur saja, pada 1970, muncul fenomena dimana musisi Indonesia banyak  yang memproduksi musik jenis tersebut. Hal tersebut dikarenakan pada saat itu alat musik elektronik semisal synth sudah cukup mudah diakses di Tanah Air.

Beberapa karya yang telah menyertakan sentuhan musik elektronik pada saat itu adalah Batas Echo (1978) yang dibuat oleh Harry Roesli, Saluang Pekan Komponis I (1979) ciptaan Otto Sidharta, dan Dilarang Bertepuk Tangan di Dalam Toilet dari Sapto Raharjo yang dirilis pada 1980.

Ekplorasi di ranah musik elektronik semakin berkembang pesat di dekade 1990an. Beberapa pemuda di era tersebut pun ada yang berinsiatif untuk membuat persekutuan, misalnya saja Performance Fucktory  yang didirikan oleh Marzuki Mohamad (Kill the DJ), Kus Widananto, Ari Wulu, Ugoran Prasad, dan Yosef Herman Susilo pada 1997 di Yogyakarta. Performance Fucktory  lalu menjadi embrio dari sebuah festival musik elektronik pertama di Indonesia yaitu Parkinsound yang namanya merupakan hasil penggabungan tiga kata: “park”, “in”, dan “sound”. Edisi pertama acara tersebut digelar pada tahun 1999 dan perhelatan terakhirnya berlangsung pada tahun 2004.

Dari sekelumit sejarah tersebut, maka musik elektronik di Indonesia pun mampu berkembang hingga kini. Beberapa nama musisi yang mengangkat jenis musik tersebut pada tiap karyanya pun tentu sangat sering berseliweran di berbagai kanal-kanal pemberitaan. Sebut saja Dipha Barus, Logic Lost, BAP, Homogenic, Kimokal, hingga Mantra Vutura,

Seakan merayakan kejayaan musik elektronik di masa sekarang, Ornaments, sebuah acara yang sudah dipastikan bakal digelar pada 15 November 2019 di Kuningan City Ballroom, Jakarta, menghadirkan sederet musisi elektronik yang hari ini namanya sering diperbincangkan banyak pihak karena dianggap mewakili zamannya.

Di lini lokal, acara tersebut akan dimeriahkan oleh penampilan BAP. Dan Gabber Modus Opperandi. Lalu di bagian penampil internasional lebih banyak lagi, ada nama-nama semisal Tzusing, Meuko! Meuko!, Scintii, Hyph11e, dan beberapa musisi lainnya. Sejumlah entitas tersebut akan berpadu-padan dalam menciptakan sebuah cerminan atas jayanya musik elektronik di Indonesia.

Catatan terakhir, semoga kalian memiliki kesempatan untuk dapat menghadiri acara tersebut. Lalu, mari kita jadi saksi atas hentakan musik elektronik yang mampu memberi nyawa pada setiap lantai dansa.

Teks: Rizky Firmansyah
Visual: esmadrid.com

Tentang Syukur dan Hidup yang Tak Tertebak di Lagu Terbaru Alahad

Beranjak menjadi solis, Alahad, moniker dari Billy Saleh yang sebelumnya dikenal sebagai gitaris dari band rock-alternative Polka Wars akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia melepas sebuah nomor tunggal teranyar...

Keep Reading

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Kolaborasi Selanjutnya Antara Yellow Claw dan Weird Genius

Duo Belanda Yellow Claw kembali berkolaborasi dengan Weird Genius mengusung lagu baru bertajuk ‘Lonely’ bersama finalis Indonesian Idol Novia Bachmid. Weird Genius dan Yellow Claw sebelumnya pernah berkolaborasi di lagu...

Keep Reading

Reruntuhan Akhir Dunia di Album Keempat Extreme Decay

Usai melepas beberapa materi pemanasan menuju album barunya, unit Grindcore kota Malang, Extreme Decay, akhirnya secara resmi melepas album keempatnya pada 29 April 2022 lalu yang diberi tajuk Downfall Of...

Keep Reading