Di Balik Keberhasilan ‘Hamilton’ Mengajarkan Sejarah

Dalam menceritakan kembali kisah salah satu pendiri Amerika Serikat (AS) yang dengan berani memadukan musik hip-hop, showtunes, dan lagu-lagu pop, tampaknya Lin-Manuel Miranda berhasil mengubah pelajaran sejarah yang datar dan menjemukan menjadi tontonan yang menarik, segar sekaligus mengagumkan. Sebagai komposer soundtrack film itu, Miranda sempat menyatakan pula bila dirinya berharap kelak dapat meremake ‘Hamilton’ dengan musik latar yang lebih bernuansa tradisional.

Penggunaan aktor kulit berwarna untuk memerankan orang kulit putih juga menunjukkan film musikal ‘Hamilton’ yang diproduseri Miranda langsung itu hadir untuk menyuarakaan kembali pentingnya kesetaraan ras di saat perilaku rasis tengah marak di berbagai negara, terlebih di AS. Dan, bagi Miranda sendiri, film dari skenario yang ditulisnya dan terinspirasi buku Alexander Hamilton karya Ron Chernow ini ia harap mampu menyokong sepositif apa situasi dunia di masa mendatang. 

‘Hamilton’ sendiri, jika ingin dibagi, ada dua babak. Yang pertama memperkenalkan perintis Konstitusi AS itu sebagai seorang yatim dan piatu yang tinggal di pulau Nevis dan datang ke New York pada tahun 1776 saat Perang Revolusi sedang berlangsung. Di sana, ia bertemu Aaron Burr (Leslie Odom Jr.) dan beberapa orang lainnya. Di tempat ini pula ia dengan cepat dipandang sebagai pemuda berpengaruh, karenanya George Washington (Christopher Jackson) menawarinya posisi tangan kanan. Setelah diselingi beberapa adegan romantis antara ia dan istrinya, Eliza (Phillipa Soo), Hamilton kembali menuju medan tempur. Sempat ditahan karena ikut berperang, Washington lalu membawa Hamilton ke ‘the Siege of Yorktown’ atau Pengepungan Yorktown. Usai menang dalam pertempuran putra Hamilton, Philip, lahir. 

Babak kedua berkonsentrasi pada masa awal pemerintahan Hamilton, termasuk perannya yang berkaitan dengan tiga presiden terdahulu: Washington, John Adams, dan Thomas Jefferson (Daveed Diggs). Di scene ini, Jefferson diceritakan sebagai sosok yang narsis dan angkuh. Sementara perselingkuhan Hamilton tidak hanya merusak karir politiknya bahkan juga hampir menciptakan kehancuran dalam pernikahannya andai saja putra tertuanya tak tewas dalam peperangan. 

Sedangkan dari sisi sinematografi, meski ketika ditampilkan dalam bentuk panggung teaternya pada tahun 2015 di the Richard Rogers Theater terganggu dengan listrik padam, berbeda dalam drama dengan tanggal rilis di AS pada 3 Juli 2020 itu yang dikerjakan dengan tata kamera dan pengeditan yang bisa dikatakan sempurna, sehingga di durasi satu jam pertama penonton cukup dapat terbantu membayangkan bagaimana sisi lain di awal kehidupan karakter tokoh utama pada waktu meniti karir. Diproduksi untuk panggung teater ke bentuk film, ‘Hamilton’-nya Miranda itu bukan datang tanpa cela. Tapi walau begitu, melalui sebagian besar cast dan kru kamera yang sudah terbiasa terlibat dan piawai dengan drama musikal, hal ini malah menjadi kekuatannya dan lebih menegaskan ‘Hamilton’ sebagai film musik sejarah dibanding dokumenter yang biasa-biasa saja.

Sejarah yang diilustrasikan dalam format drama musik memang sekilas terkesan tak banyak memberikan informasi. Tapi tak demikian halnya dengan ‘Hamilton’ yang pernah meraih penghargaan Grammy Awards di 2016 untuk kategori Best Musical Theater Album kala masih dipentaskan dalam panggung teater itu. Walau yang hanya suka film biografi sejarah saja tanpa ditambah genre lainnya terganggu jeda lagu dan musik serta koreografi yang harus dimainkan di sebagian durasi, beberapa kritikus film menganggap ‘Hamilton’ mampu merunut, mengkreasikan, dan mendramatisasi data-data sejarah kehidupan nyata dari tokoh yang namanya juga menjadi judul film ini. ‘Hamilton’ sama seperti film biografi sejarah kebanyakan. 

Poster Hamilton

Bertolak dari itu, tak berlebihan kiranya jika di kemudian hari mungkin banyak peneliti menjadikan ‘Hamilton’ sebagai salah satu bahan rujukan sejarah. Terlebih, meskipun skenario yang dibuat kadang-kadang dapat memalsukan data sejarah, tapi Miranda berhasil menunjukkan sebagian besar adegan di film ini telah memberikan gambaran yang akurat tentang peristiwa di akhir abad ke-18 ketika negara baru merdeka itu tengah berjuang untuk menemukan pijakannya. 

Untuk itu dan karena sejumlah alasan lain, para kritikus film memandang gambar bergerak dengan sutradara Thomas Kail itu cocok ditonton buat mereka yang mengaku tahu dan bahkan kenal akrab dengan sang pendiri Negeri Paman Sam. Penyebabnya, sejumlah besar aktor dan aktris ‘Hamilton’ diperankan pemain teater ternama dari the Off-Broadway Public Theater, dan Miranda termasuk di dalamnya. Di waktu bersamaan, film ini dinilai mampu merangsang serta meningkatkan kembali ingatan tentang sosok bersejarah yang diceritakan itu. Sementara bagi yang belum atau bahkan tak tahu sama sekali seperti apakah gambaran pria yang wafat pada 12 Juli 1804 itu, ‘Hamilton’ bisa dijadikan tontonan pengantar. 

Teks: Emha Asror
Visual: Arsip Hamilton

Pesan Teddy Adhitya Dalam Ocean

Jika ingin mengenal sosok Teddy Adhitya, bisa dibilang ia adalah seorang storyteller, penyanyi, penulis lagu, produser musik, dan pengembara yang sudah melakukan petualangan bermusiknya sejak tahun 2008 silam. Di tahun...

Keep Reading

Scaller Meneruskan Perjalanan Dalam "Noises & Clarity"

Album yang ditunggu-tunggu akhirnya resmi dirilis. Adalah “Noises & Clarity” yang merupakan album studio kedua Scaller yang dirilis melalui Golden Robot Records & Archangel Records (23/09). Album ini diproduksi sendiri...

Keep Reading

Merayakan Festival Industri Kreatif Tahunan Selama Tiga Pekan

M Bloc Fest merupakan festival industri kreatif tahunan yang kali ini menampilkan beberapa bidang seperti musik, seni, desain dan literatur yang diadakan oleh M Bloc Entertainment. Ajang ini sekaligus merayakan...

Keep Reading

Album Naif Bocor?!

Dan terjadi lagi.. Ya, terjadi lagi kabar yang cukup mengejutkan: album dibocorkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal ini datang dari unggahan instastory mantan drummer Naif, Pepeng, yang menuliskan...

Keep Reading