Di Agustus ini, Goethe-Institut Hadirkan Ragam Program Lanjutan

Di bulan Agustus ini, secara spesial Goethe-Institut Indonesien akan menyiarkan banyak program virtualnya secara langsung di ragam kanal media sosial milik mereka. Pembahasannya pun sangat beragam, yang dimulai dari musik hingga bagaimana pengembangannya untuk kehidupan sosial banyak orang. Diantaranya adalah workshop dan penampilan dari komposer asal Pontianak yaitu Nursalim Yadi Anugerah, perbincangan bersama duo artis Irwan Ahmett (Iwang) & Tita Salina tentang karya penampilan paling baru dari mereka yang berjudul “Apocalyptic Smile” dan juga sebuah seminar dengan mengangkat tema “Data + Culture” bersama Fariz Darari (peneliti) dan Raisha Abdillah (Wikimedia Indonesia). Program-program tersebut antara lain; Alur Bunyi, Seminar Daring Retas Budaya, dan Bingkis.

Di Alur Bunyi edisi terbaru ini, Goethe akan menghadirkan sebuah workshop yang menjelaskan banyak hal perihal praktik-praktik musik kontemporer bersama komposer terkemuka Nursalim Yadi Anugerah. Dalam durasi satu jam nanti, topik yang akan dibahas bersama Yadi akan berfokus pada tema “Pengembangan tradisi & wacana desentralisasi dalam lanskap musik”. Program Alur Bunyi mendatang tahun ini—yang telah menjadi bagian dari seri #MusicTalk—akan berlanjut di bawah arahan kuratorial produser musik Harsya Wahono dan akan berformat diskusi satu lawan satu yang condong ke arah topik-topik edukatif mengenai praktik-praktik alternatif dalam bunyi dan musik. Nursalim Yadi Anugerah merupakan komposer dan multi-instrumentalis asal Pontianak yang mengambil inspirasi dari kosmologi, sonologi, dan budaya penduduk asli Kalimantan Barat. Ia dikenal karena pendekatan inovatifnya terhadap instrumentasi dan komposisi. Sebagai komposer dan etnomusikolog swadaya, Nursalim banyak melakukan eksplorasi-eksplorasi dan juga bentuk kolaborasi bersama para musisi indigenous, untuk kepentingan pengarsipan serta melestarikan dan menginterpretasi ulang musik mereka melalui komposisi baru. Selama enam tahun terakhir, ia aktif sebagai direktur musik Balaan Tumaan Ensemble, sebuah grup dan laboratorium kreatif pelaku musik di Pontianak.

Untuk program BINGKIS sendiri, Goethe secara khusus akan menghadirkan perbincangan bersama Irwan Ahmett (Iwang) & Tita Salina tentang karya performans teranyar mereka “Apocalyptic Smile”. Dalam episode ini, Iwang, Tita dan kurator Mark Teh akan menelaah kembali konteks pembuatan “Apocalyptic Smile” sambil menyoroti aspek “saksi” performans tersebut. Perbincangan akan berlangsung dalam bahasa Inggris dan disiarkan live secara simultan lewat kanal YouTube, Facebook dan Twitter Goethe-Institut Indonesien. Sebelum diskusi, performans ini dapat disaksikan terlebih dahulu di kanal YouTube Goethe-Institut Indonesien.

“Apocalyptic Smile” dilatarbelakangi oleh pengalaman masa kanak-kanak Iwang dan Tita saat menyaksikan gerhana matahari total pada tanggal 11 Juni 1983 dan propaganda pemerintah seputar gerhana tersebut. Gerhana itu berlangsung singkat, namun meninggalkan kesan mendalam pada Tita dan Iwang, terutama karena dikatakan bahwa menatap langsung gerhana dapat mengakibatkan kebutaan selama sisa hidup mereka.Performans ini terbagi ke dalam lima tahap, yaitu Sun, Mourning, Inclusion, Linguistic, Evidence (Matahari, Duka, Inklusi, Linguistik, Bukti). Dengan dukungan berbagai bentuk arsip, objek, alat bantu visual, dan rekaman video, Iwang dan Tita menyoroti gestur senyum yang kita biasa temui sebelum pandemi dan mempertanyakannya melalui lensa peristiwa sejarah, informasi, dan mitos seputar represi dan eksploitasi. Karya ini terealisasi berkat dukungan ROH Projects dan Goethe-Institut Jakarta.

Lalu di program selanjutnya yaitu Seminar Daring Retas Budaya, Fariz Darari (peneliti dan dosen lektor di Universitas Indonesia) dan Raisha Abdillah (staf teknologi Wikimedia Indonesia) akan memperkenalkan Wikidata sebagai pusat data warisan budaya yang dapat menautkan informasi dan arsip kultural yang kini tersebar di seluruh internet. Mereka juga akan menjelaskan bagaimana data terstruktur berperan dalam merekam warisan budaya; pentingnya data warisan budaya dijadikan data terbuka, terstruktur, dan tertaut; dan bagaimana institusi GLAM (galeri, perpustakaan, arsip, museum) mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari ekosistem data terbuka dan tertaut dalam merekam warisan budayanya.

Program Retas Budaya merupakan kerja sama antara Goethe-Institut Indonesien, Direktorat-Jenderal Kebudayaan, Wikimedia Indonesia, Asosiasi Game Indonesia, dan PT Elex Media Komputindo. Puncak program ini adalah festival data budaya terbuka yang dijadwalkan berlangsung pada bulan November dan akan menghubungkan institusi GLAM dan publik guna mentransformasi data budaya menjadi kreasi baru, seperti cerita, game, dan karya seni. Untuk informasi lebih lanjut mengenai lokakarya, silakan kunjungi situs resmi dari Goethe-Institut Indonesien ya.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Goethe-Institut Indonesien

Endgrave Merilis Ode Bagi Jiwa Yang Tidak Pernah Tenang

Endgrave adalah band yang terbentuk pada pertengahan 2022. Semua bermula saat Singgi dan Petra meramu musik dengan mengemas riff-riff gitar yang terbilang tidak biasa. Beragam karakter mulai dari Hardcore, Deathcore,...

Keep Reading

Single Dan Formasi Terbaru Pillhs Castle

Mengubah formasi dari duo menjadi kuintet, dan sebelumnya telah merilis single ‘Moment’, Pillhs Castle yang diisi oleh Nando Septian (vokal), Torkis Waladan Lubis (gitar), Tama Ilyas (gitar), Willy Akbar (bass),...

Keep Reading

Debut Album Resign Leader

Dari Makassar, unit punk rock Resign Leader belum lama ini merilis debut album ‘Sniffing Tears For The Other Bills’. Album yang digarap cukup panjang dan serius ini berisi 12 nomor...

Keep Reading

Single Teranyar eleventwelfth Yang Menuju Album Terbaru

eleventwelfth hanya membutuhkan satu bulan untuk merilis single terbaru yang diberi tajuk “every question i withhold, every answer you never told” setelah sebelumnya melepas “(stay here) for a while” dari...

Keep Reading