Desa Potato Head yang Mendefinisikan Bali

OMA baru saja menyelesaikan Desa Potato Head, sebuah hotel yang didedikasikan untuk para tamu dan masyarakat setempat. Terletak di Seminyak, Bali, desain dari bangunan  tersebut diolah oleh David Gianotten, sedangkan yang bertindak sebagai arsitek proyeknya adalah Ken Fung.

Dengan bekerjasama bersama Katamama dan Beach Club, Potato Head Studio membentuk Desa Potato Head. Terinspirasi oleh konteks lokal dan lingkungan alami Indonesia yang bukan main indahnya, proyek ini menampilkan komponen tradisional dari elemen arsitektonik Tanah Air.

“Inti dari Bali terletak pada interaksi antara berbagai budaya. Desain kami untuk Potato Head Studios menawarkan kamar dan fasilitas pribadi, dan ruang publik untuk mendorong pertukaran antara berbagai jenis pengguna. Ini menantang tipologi khas resor Bali yang menyoroti eksklusivitas,” kata David Gianotten.

Ada pula keterlibatan konsultan desain lokal Andra Matin yang menciptakan suatu tekstur unik pada beberapa dinding beton. Terinspirasi oleh Tika Bali, para arsitek membayangkan penafsiran ulang kalender ramalan di bagian depan koridor kamar tamu.

“Di Desa Potato Head kami tidak berusaha mengubah industri, kami ingin membuat model yang sama sekali baru untuk itu. Jika kita menyatukan orang di momen yang menyenangkan, tetapi menawarkan mereka hal yang tidak terduga, itu akan membuka pikiran mereka. OMA dikenal untuk membangun ruang publik, seperti museum dan institusi, dan itu adalah ide kami untuk Desa: untuk menciptakan jenis institusi budaya yang memadukan publik dengan wilayah privat, tamu dengan penduduk setempat, dan pemikiran modern dan pengrajin tradisonal” kata Pendiri Potato Head, Ronald Akili.

OMA adalah firma internasional tersohor bukan main di bidang arsitektur, urbanisme, dan analisis budaya. Bangunan dan masterplan OMA di seluruh dunia menuntut bentuk-bentuk cerdas sembari menemukan kemungkinan baru sebagai konten dan penggunaan sehari-hari. Dipimpin oleh 9 mitra diantaranya Rem Koolhaas, Ellen van Loon, Reinier de Graaf, Shohei Shigematsu, Iyad Alsaka, David Gianotten, Chris van Duijn, Ippolito Pestellini Laparelli, dan Jason Long, tersebar di kota-kota seperti Rotterdam, New York, Beijing, Hong Kong, Doha and Dubai.

Teks: Rizki Firmanysah (melansir dari designboom.com)
Visual: Arsip Potato Head Studio

 

Cerita Iblis dan Manusia di Album Kedua Parakuat

Ranah musik elektronik di Indonesia selalu menarik untuk di simak, terlebih geliatnya di arus pinggir. Banyak seniman bunyi muncul dengan coraknya sendiri dan membawa hasil eksperimentasinya masing-masing. Ranah ini terus...

Keep Reading

The Jansen Persembahkan Album Ketiga

Usai melepas nomor “Mereguk Anti Depresan Lagi” yang cukup mencuri perhatian, The Jansen, trio punk rock dari kota hujan Bogor akhirnya meluncurkan album ketiganya bertajuk “Banal Semakin Binal” (29/7) dalam...

Keep Reading

EP Who Suffer?, Jalan Keluar Defy dari Kekacauan Pandemi

Grup metallic hardcore dari kota Palu, Defy, baru-baru ini telah meluncurkan sebuah album mini bertajuk Who Suffer?. Perilisan album ini juga sekaligus sebagai tanda berjalannya kerja sama antara Defy dan...

Keep Reading

Menuju Album Kedua, Modjorido Rilis Nomor "Bebal"

Usai memperkenalkan album perdana self-tittled di tahun 2021 lalu, grup musik dari Bali, Modjorido akhirnya kembali merilis karya teranyar. Kali ini unit yang dihuni oleh Rico Mahesi (Vocal & Guitar),...

Keep Reading