Deretan Musisi yang Jual Karya dalam Bentuk NFT

Non-Fungible Token (NFT) sedang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Teknologi dalam cryptocurrency ini memungkinkan jaminan akan kepemilikan resmi seseorang terhadap suatu aset digital, semacam sertifikat keaslian data digital (metadata). Lalu, jika aset digital tersebut diperjualbelikan, transaksinya akan tercatat di blockchain, dan si pemilik metadata awal akan tetap diketahui.

Karena itu, kalangan seniman termasuk musisi tertarik dengan hal tersebut. Keadaan layanan streaming yang tidak begitu menjanjikan menjadikan NFT seperti jalan keluar untuk musisi, khususnya, menjual karyanya agar dapat lebih dihargai. Sistem royalti yang dimungkinkan blockchain juga membuat mereka tetap dapat menghasilkan biarpun sudah dijual oleh orang berkali-kali.

Berikut beberapa musisi yang menjual karya dalam bentuk NFT.

1. Belave

Walaupun Kings of Leon hampir menjadi band pertama yang merilis album sebagai NFT, Belave mendeklarasikan diri lebih cepat. Proyek dari Devon Welsh dan Matthew E. Duffy yang juga merupakan bentuk reuni Majical Cloudz ini merilis album mereka Does the bird fly over your head? sebagai sebuah karya NFT pada 3 Maret lalu.

Does the bird fly over your head? sebenarnya telah dirilis doleh Belave September tahun lalu. Selumnya, duo asal Kanada ini telah merilis Darlet on the Brush (2014), Indigo, Streams, Lash (2016), dan the world is rain. (2017).

2. Kings of Leon

Biarpun kalah cepat menjadi band yang merilis musik sebagai NFT, setidaknya album baru Kings of Leon ini memang baru dirilis pada 5 Maret, menjadikan album dirilis sebagai NFT di hari yang sama dengan tanggal mereka benar-benar dirilis. When You See Yourself memang masih dirilis di layanan musik digital, namun Kings of Leon memberikan beberapa tawaran menarik dalam versi NFT-nya.

Mereka menawarkan tiga paket token dalam serial NFT Yourself. Paket pertama menawarkan paket album spesial, paket kedua menambahkan keuntungan untuk menonton konser live, dan paket ketiga menyelipkan karya audiovisual eksklusif. Selain itu, YellowHeart, persuhaan yang mencoba memberikan nilai pada musik sekaligus membantu Kings of Leon dalam perilisan ini, juga merilis semacam golden ticket untuk mendapat keuntungan saat datang ke konser Kings of Leon mendatang seperti tempat terdepan seumur hidup dan bertemu dengan para personel sebelum acara dimulai. Ini juga menandakang pertama kalinya tiket acara dijual secara resmi melalui NFT.

3. Mike Shinoda

Mike Shinoda juga merilis single-nya, “Happy Endings”, melalui teknologi NFT. Hasil kolaborasinya bersama Iann Dior dan UPSAHL tersebut ia rilis awal tahun lalu. Salah satu pionir Linkin Park tersebut melelang versi NFT lagunya melalui Zora. Beberapa dari sepuluh bagian yang dilelang bahkan menembus harga $6000 (Rp85 juta). Hasil dari lelang disumbangkan ke ArtCollege of Design. Orang yang beruntung memenangkan lelang juga mendapatkan karya cetak orisinil yang ditandatangani oleh dirinya dan seniman kontemporer, Cain Caser.

4. HolyKillers

Bukan hanya dari luar negeri, unit metalcore asal Tengerang, HolyKillers, juga mengikuti trend ini. Band yang dibentuk pada 2010 tersebut merilis dua NFT sekaligus, Squalor Iron Frame dan Squalor Boxset. Bukan hanya dalam bentuk NFT, pembeli juga dapat mengklaim dan mendapatkan aset fisik dari NFT yang telah dibelinya.

Squalor sendiri merupakan album perdana dari kuartet yang berisikan Reza (vokal), Zethria Okka (gitar, synthesizer), Stefanus Dicky (bas) dan Febriyanto (drums) ini. Sebelumnya, mereka sudah melepas dua nomor terlebih dahulu, yaitu “Jenggala” dan “Masif Subversif”.

5. Harlan Boer

Ada beberapa musisi Indonesia sebenarnya yang telah merilis karya NFT selain HollyKillers, salah satunya Harlan Boer. Ia melepas klip video untuk lagunya “Siapa Saja Merekam Pop” sebagai NFT. “Video dapat dimiliki/disimpan, terbatas 33 edisi,” tulisnya di keterangan salah satu unggahan Instagramnya.

Harlan sendiri diperkenalkan dengan konsep NFT oleh sutradara yang mengerjakan klip “Siapa Saja Merekam Pop”, Cycojano. Cycojano lah yang akhirnya membuat Harlan memutuskan untuk merilis video musik dari trek kedua dari Penembak Bayaran itu dengan bantuan blockchain.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Harlan Boer (@harlan_boer)

Teks: Abyan Nabilio
Visual: Kumpulan dari beberapa sumber

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading