Denyut Kreativitas Di Garut. Hidup Segan Mati Tak Mau?

Alat ukur perkembangan sebuah daerah, tentu tak melulu soal seberapa pesat pembangunan infrastruktur atau seberapa besar promosi pariwisata alamnya, kalau akhirnya hanya merusak ekosistem, abaikan saja. Namun salah satu faktor penting penunjang dari perkembangan itu  bisa kita lihat juga dari seberapa banyak ruang kreatifnya, seberapa riuh geliat kreativitasnya, dan seberapa besar gaungnya. Garut terbilang kota yang sedang berkembang, berada di sisi selatan Jawa Barat, ber-tetangga-an dengan Bandung dan Tasikmalaya tentu tak menjamin geliat kreativitasnya serupa. Minimnya ruang alternatif untuk sarana berkreasi adalah satu persoalan yang mesti dipecahkan bersama. Meskipun peliknya menempuh ijin pertunjukan dan ormas yang sentimen adalah dua dari persoalan lainnya.

“Industri kreatif di Garut hari ini mulai berkembang, namun tidak dalam kecepatan seperti kota-kota lainnya (Bandung, Tasik,dsb), on the track tetapi lambat” tutur Yokeu, pegiat dari kolektif Humafield.

Hal serupa juga disampaikan oleh Umed dari Garut Creative Hub, bahwa kondisi industri kreatif di Garut saat ini belum begitu pesat seperti halnya di kota lain. Masih stagnan. Stagan dalam artian ranah kreatif sebagai industri. Pasalnya para pelaku kreatif di Garut masih belum tersimpulkan dengan baik. Banyak para pegiat yang akhirnya kelimpungan visi dan berakhir di tengah jalan. Hal-hal semacam ini biasa terjadi karena kurangnya inovasi. Dengan kondisi yang demikian tentu tak menyurutkan gelombang yang sudah ada.  Didasari dari kegelisahan dan pekerjaan rumah yang sama, riak pun bersambut. Beberapa pegiat kreatif pun muncul dan tersebar di banyak wilayah kota Garut. Namun sekali lagi, simpul-simpul yang tersebar itu masih belum terjalin dengan baik. 

Sebut saja salah satunya adalah kolektif Humafield yang kini sedang getol bikin program-program kreatif, mau itu gelaran pertunjukan ataupun acara sesi diskusi. Yang diangkat pun cukup beragam, dari mulai musik sampai dengan literasi. Dengan bermodal lingkar pertemanan dan berazaskan senang-senang, mereka pun berupaya untuk merespon dinamika yang terjadi. Badai bernama covid 19 yang melumpuhkan aktivitas dan memaksa kita untuk berjarak, tak membuat mereka patah arang. Mengakali hal itu, mereka bermigrasi ke dunia digital. Membuat podcast, diskusi daring, dan live music session di studio.

“Sejak 2018, Humafield berhasil menghelat kegiatan-kegiatan berbasis kreatif (meliputi musik, sastra, dan teater), melibatkan kreator lokal (sempat beberapa kali dari luar Garut) dan kegiatan ini tanpa sponsor”. pungkas Yokeu.

Bagi Humafield, strategi yang paling ampuh digunakan saat ini adalah sistem kolektif. Namun seperti yang biasa terjadi pada banyak kolektif, urusan finansial menjadi suatu kendala yang mesti dipikirkan juga. Tak sedikit ruang-ruang kolektif gulung bendera dengan urusan ini. Selain dari urusan teknis macam pendanaan, ruang untuk berkegiatan pun nyaris sama pentingnya. Pada banyak kegiatan, Humafield bergerilya dari kedai kopi ke kedai kopi lainnya. Skema pinjam-meminjam proyektor, sound ataupun alat lainnya masih sering dilakukan. Lagi-lagi modal pertemanan menjadi ujung tombak untuk keberlangsungan kegiatan.   

Perihal minimnya ruang alternatif juga menjadi sorotan para pegiat. Meskipun di Garut sendiri ruang alternatif mulai bertebar, namun ruang-ruang itu masih terkesan bersifat internal. Persoalan kubu-kubuan dengan segala semesta superioritasnya memang tak aneh terjadi di kota yang sedang berkembang. Khususnya Garut. Soal minimnya ruang alternatif ini tentu membuat para pegiat memutar otak dan megakalinya. Secret gigs di studio seperti yang sering dilakukan oleh kolektif Retas Asa atawa berkegiatan di kedai kopi yang biasa dilakukan oleh Humafield masih menjadi primadona di antara beberapa pilihan yang ada. Terlebih untuk para pegiat kreatif pra-sejahtera.

Umed yang juga eksponen dari IF Venue –ruang alternatif legendaris di Bandung- berkomentar juga perihal ini. Ia mengatakan untuk mengakali minimnya ruang alternatif ini adalah dengan menciptakan ruang itu sendiri. Ruang sekecil apa pun, ruang sebodoh apapun, tanpa harus bergantung dengan ide ataupun ruang milik orang lain. Seketika komentarnya satu frekuensi dengan apa yang dikatakan Jello Biafra (Dead Kennedys), “Don’t hate media, become media!”. 

Gaung kreativitas di Garut saat ini masih sayup-sayup terdengar. Meskipun banyak event yang bisa mendatangkan orang luar Garut, namun tak lantas orang yang datang tersebut melihat dengan seksama bagaimana industri kreatif di kota ini bekerja. Terlepas dari itu semua, Garut adalah kota yang haus akan acara. Panggung tak pernah sepi penonton. Kelompok musik, perupa, maupun pegiat kreatif lainnya terus beregenarasi. Kantung-kantung kreatif sudah ada. Tinggal mengambil keputusan, apakah mau pasang sabuk pengaman lalu melaju sekencang mungkin atau hanya memasang sabuk pengaman untuk menghindari tilang polisi?. 

Dengan segala kreativitas dan keterbatasannya, apakah kelak para pegiat ini mampu menghapus istilah “hidup segan, mati tak mau” kondisi industri kreatif kota Garut? Semoga. Kita nantikan saja.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip Dicki Lukmana

Catatan Perjalanan Rich Brian di Album Mini Brightside

Rapper, penyanyi serta produser asal Indonesia, Rich Brian baru-baru ini resmi merilis album mini terbarunya yang bertajuk Brightside. Lewat album mini berisi 4 lagu ini Rich Brian mengatakan bahwa Brightside merupakan...

Keep Reading

Keseruan Selanjutnya di Soundhead Gig Vol. 3: Parsing Echoes

Tak bisa dipungkiri, pandemi yang terjadi beberapa tahun terakhir telah berhasil meluluhlantakan berbagai lini industri hiburan, tak terkecuali industri pertunjukan musik. Namun, ditengah tantangan yang ada, para pelaku industri terus...

Keep Reading

Kisah Cinta di Balik Pertunjukan Musik dari The Rang-Rangs

Trio punk rock asal Bekasi, The Rang-Rangs, kembali melanjutkan cerita asmaranya yang tak konvensional. Dalam materi terbarunya kali ini The Rang-Rangs mencoba mengangkat cerita persoalan jatuh hati di arena pertunjukan...

Keep Reading

Album Tersembunyi Mendiang January Christy Akhirnya Dirilis

Di era ‘80-an, tak sedikit orang yang mengidolakan January Christy. January Christy merupakan penyanyi pop jazz Indonesia yang unik. Range vokalnya tidak lebar, namun suaranya yang berat memberikan kenyamanan dan...

Keep Reading