Pelapak adalah salah satu dasar penting dalam keberlangsungan industri musik. Di Jogjakarta, nama Triaman atau yang lebih dikenal sebagai Sambrenk adalah sosok yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Ia merupakan pemilik Toko Musik Luwes yang sekaligus berfungsi sebagai Demajors Jogja serta dedengkot Jogja Records Store Club (JRSC), jaringan pelapak yang secara mandiri berjalan bersama-sama.

Ditemui di Toko Musik Luwes yang juga merupakan kediamannya di dalam kampung Krapyak Wetan, Sambrenk menceritakan lika liku mengenai perjalanan dirinya sehingga bisa berakhir di belakang lapak musik.

“Awal mula saya suka sama musik itu pas jaman SMA, suka-nya dengerin Hip Hop di radio kayak G-Tribe, kaset juga (dapat) referensi di majalah” ujar Sambrenk. “Era 2000an awal itu banyak dengerin Hip Hop sama tetangga kampung bahkan sempat bikin grup bareng namanya Crapper yang beberapa kali maen dari kampung ke kampung, acara tujuh belasan. Itu sekitar tahun 2003,” imbuhnya.

Crapper sendiri belum sempat menelurkan rilisan apapun hingga akhirnya Sambrenk keluar dan membentuk PsychotRAPhy tahun 2005. Di era ini Sambrenk berkenalan dengan Hellhouse ketika markas-nya masih berada di dalam kamar Negro (To Die, DPMB). Dengan PsychotRAPhy, Sambrenk merilis 2 single, Rap Wannabe dan Dear My Friend. Salah satu single unreleased-nya sempat dirilis via kompilasi kaset Records Store Day Yogyakarta yang digagas oleh JRSC dan kemudian mini album berwujud 3″ CDr via 10 PM Project yang dirilis berbarengan dengan Cassette Store Day bulan Oktober 2018 yang lalu.

Skena Hip Hop Jogjakarta sempat identik dengan fashion awul-awul, alias memberdayakan baju bekas impor yang awalnya banyak dijual di Pasar Sekaten. Bukan sembarang baju bekas impor tentunya karena ada beberapa brand yang dianggap identik dengan fashion kaum Hip Hop. “Waktu itu menonton video via YouTube lalu melihat rapper ini pake baju merk ini, gitu jadi tahu merk mana yang identik dengan Hip Hop,” jelas Sambrenk.

Tahun 2008-2012 Sambrenk mengalami masa di mana dia menjadi salah satu tim pemburu awul-awul yang kemudian menjual item temuan tersebut kepada lingkarannya. Merk seperti FUBU, Ruff Ryders, Dickies menjadi incaran kawula Hip Hop di era tersebut. “Untuk hoodie dan celana panjang Dickies gitu bisa laku 75-100 ribu. Tapi aku nyarinya di kota lain kayak Surabaya, Malang sambil tur ke sana. Juga karena di Jogja waktu itu udah banyak yang main (awul-awul),” ungkapnya.

Di tahun 2010, Sambrenk beserta beberapa kawan MC mendirikan Jogja Kembali Hip Hop Crew (JKH2C) yang beranggotakan sekitar 9-10 orang. JKH2C aktif di skena musik Hip Hop sampai tahun 2012 dengan membawakan lima lagu hasil ciptaan mereka. JKH2C sendiri sempat mengikuti event Jogja Biennale 2011 dalam membuat sebuah projek bertajuk Kaki Lima yang kemudian berlanjut dengan pameran berjudul sama yang bertempat di Kedai Kebun Forum.

Mereka juga pernah melakukan tur ke beberapa kota di Jawa Timur dan Jakarta hingga kemudian berhenti perlahan karena kesibukan masing-masing anggotanya termasuk Sambrenk sendiri, yang mulai tahun 2012 mengurusi toko Demajors Jogja. Toko Demajors Jogja kala itu terletak di area belakang gedung pertunjukan utama Jogja National Museum (JNM). Toko musik itu membuatnya harus melakukan dua pekerjaan sekaligus, sebagai penjaga toko musik Demajors Jogja dan admin JNM Art Shop yang menjual karya seniman.
Bagi kalian yang pernah berkunjung ke beberapa toko cabang Demajors di kota lain, Demajors Jogja kala itu terlihat berbeda karena selain menjual rilisan label Demajors, cabang ini juga menjual karya seniman dan musisi/band lain selain rilisan Demajors. “Menurutku toko musik kalo cuma menjual satu jenis rilisan dari sebuah label ya kurang variatif. Kalo ada alternatif lain dari label yang bermacam-macam tentunya akan menjadi pilihan yang bikin konsumen tertarik untuk datang dan membeli lebih banyak barang,” jelasnya.

Perjalanan berkembang. Bulan Juli 2018 lalu toko Demajors Jogja resmi pindah lokasi dan kini menjadi satu dengan Toko Musik Luwes.

Tidak hanya menjual rilisan baru, tokonya yang buka tiap hari mulai pukul 15.00-22.00 ini juga menyediakan banyak pilihan rilisan musik kondisi bekas. Mulai kaset, piringan hitam, CD, buku musik sampai merchandise musik bekas dari berbagai era dan negara bisa ditemui.

Sambrenk menjelaskan dari mana asal rilisan musik bekas ini, “Saya biasanya berburu rilisan second di pasar tradisional. Di Jogja kan ada beberapa pasar yang ramenya berdasarkan kalender pasaran Jawa. Ada Pasar Kliwon, Pon, Legi, Paing. Juga pasar tiban, pasar klithikan (pasar barang bekas) dan Sunday Morning di UGM dll. Nah di situ sering ketemu dan kenal sama penjual rilisan musik bekas yang tidak pernah terlihat di skena musik.”

Penjual rilisan ini memang murni berjualan rilisan musik di pasar atau bazaar festival untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beberapa menjualnya sebagai bagian dari barang antik dan tidak ada hubungannya dengan geliat skena musik saat ini. Beberapa kemudian sering diajak untuk berpartisipasi dalam acara lapakan musik yang diselenggarakan oleh JRSC.

Selain berkutat di jual beli rilisan, Sambrenk juga mengkoleksi rilisan Hip Hop, tepatnya yang berwujud kaset. Kaset Hip Hop yang mulai dikoleksi sejak 1998 ini kini berjumlah sekitar seratusan. Ketika ditanya kenapa memilih medium kaset, Sambrenk menjawab, “Ya karena musik Hip Hop di era itu (1990an akhir sampai 2000an awal) kebanyakan dirilis format kaset tapi jarang yang mengkoleksinya.”

Tidak hanya dari Indonesia, Sambrenk memilih mengumpulkan album rilisan grup Hip Hop dari area Nusantara yaitu Malaysia, Singapura dan Filipina dalam perpustakaan-nya.

Beberapa barang langka yang ada di deretan koleksinya adalah kaset album pertama Doyz-Perspektif (2002), X-CALIBOUR-Ini Baru (2005) dan kompilasi Perang Rap. Ketika ditanya, rilisan rare mana yang belum ada di koleksi-nya, Sambrenk menjawab masih mencari kaset Homicide split dengan Balcony-Hymne Penghitam Langit dan Prosa Tanpa Tuhan (2003) yang harganya bisa tembus sampai 500 ribu!

Sembari menjalankan keseharian, pencariannya belum berhenti. (*)

Teks: Indra Menus
Foto: Indra Menus