Selain musik, Indonesia juga banyak melahirkan penulis-penulis handal. Jumlahnya sangat banya, dan yang tidak mungkin dilewatkan adalah Sapardi Djoko Damono. Di usianya yang kian senja saat ini, bukan mainnya beliau masih saja terus produktif untuk melahirkan puisi-puisi yang lebih banyak lagi. Beliau lahir di Solo pada 20 Maret 1940, hari ini usianya telah menginjak di umur 80 tahun, beliau adalah sesungguhnya yang patut dijadikan panutan dalam kancah literasi Indonesia, sebab begitu banyaknya penghargaan dari dalam dan luar negeri yang beliau dapatkan.

Sapardi Djoko Damono tidak hanya dikenal dari banyaknya puisi yang telah diciptakannya. Beliau juga telah menerbitkan sejumlah buku puisi, esai, fiksi, bahkan menerjemahkan karya sastra sejak 1969. Tidak jarang beliau menyuguhkan puisi yang romantis dan menyentuh hati. “Yang Fana adalah Waktu” menjadi salah satu puisi romantis dari Sapardi yang begitu populer. Di ulang tahun beliau yang ke-80 hari ini, kami akan merekomendasikan 4 buku karya beliau yang bisa menjadi teman di masa-masa saat ini.

Ayat-Ayat Api

Di buku ini, seperti biasa beliau menuliskan sajak-sajak penuh makna dalam bubuhan kalimat yang sederhana. Pemilihan kata – kata yang sederhana dtapi sarat akan makna mampu membuat puisi-puisi yang ada menjadi sangat tidak biasa. Puisi-puisi yang mencerminkan tentang persoalan hidup, perasaan dan kematian ini dibagi ke dalam tiga bagian. Hal tersebut mampu membuat pembaca menjadi lebih menikmati dalam mendalami makna dari tiap – tiap puisi dalam buku ini

Hujan Bulan Juni

Buku ini adalah satu dari novel trilogi dari beliau yang paling banyak dicari dan disukai. Kisah yang ada dalam buku ini memuat tentang pahit-manisnya perjuangan cinta antara Sarwono dan Pingkan. Kisahnya dituangkan oleh beliau dengan sangat penuh makna. Saking populernya, buku ini tidak hanya diproduksi hanya sebatas kumpulan kata saja, lebih dari itu, buku ini juga turut diadaptasi ke layar lebar dengan judul serupa. Sebelum menjadi sebuah novel, karya ini terlebih dulu terbit sebagai sebuah kumpulan puisi yang lalu disisipkan ke dalam sebuah novel.

Duka-mu Abadi

Seperti buku-buku yang lain, judul ini pun tak luput dari incaran para pecinta literasi yang ada di Indonesia. Buku yang berisikan kumpulan 43 puisi karya beliau pada tahun 1967-1968 ini menjadi salah satu yang juga turut diterbitkan kembali pada tahun 2017 silam bersama buku lainnya seperti, Ayat-ayat Api, Pingkan Melipat Jarak, Ada Berita Apa Hari Ini, dan banyak lainnya. Buku ini pun juga turut di dalamnya sebuah cd berisikan musikalisasi puisi yang dibawakan oleh beliau sendiri.

Sepasang Sepatu Tua

Di dalam buku ini terdapat sekitar 19 cerita pendek yang disatukan menjadi buku setebal 114 halaman. Beberapa cerita yang ada diantaranya bercerita tentang personifikasi benda-benda yang ada di sekitar kehidupan kita. Personifikasi tersebut terdapat pada cerpen Sepasang Sepatu Tua, Rumah-Rumah, serta Daun di Atas Pagar. Dalam cerita tersebut, beliau menuliskan bahasa sederhana nan apik yang menjadikan benda-benda tersebut menjelma menjadi pencerita yang piawai dengan akhir kisah yang sarat dengan makna.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber