Culture Project dan Cerita Pengkaryaan di Kota Palu

Siapa yang sudah pernah ke Palu? Kesan pertama saat tiba di kota tersebut pastinya keluhan akan cuaca yang super panas. Tapi tenang, itu hanya cuaca, orang-orang di sana sangatlah ramah. Apalagi bila berbicara perihal kolektif seni, jumlahnya tumpah ruah. Mulai dari seni musik, visual, hingga teater, semua ada pelakunya. Palu, sebagai Ibu Kota provinsi yang terletak di tengah pulau Sulawesi ini menyimpan banyak sekali hal-hal unik nan bagus di dalamnya. Kota ini memiliki bentangan alam yang sangat indah. Pegunungan yang berjajar dengan megahnya, serta hamparan pantai yang begitu cantik, menjadi daya tarik tersendiri dari  kota ini. Tidak berhenti di situ, bukan mainnya Palu ternyata menyimpan harta karun lainnya. Industri kreatif di sana, perlahan namun pasti mulai menanjak dan menonjolkan dirinya. Palu juga memiliki segudang talenta menarik di sana.

Tetapi ada duka yang diciptakan bencana yang menghampiri kota ini. Salah satu yang datang di 2018 adalah bencana gempa bumi serta tsunami yang menghajar Palu dan sekitarnya. Ada banyak kehilangan yang ditinggalkan. Pasca bencana yang terjadi, jelas banyak meninggalkan trauma serta kerusakan infrastruktur. Keresahan akan perkembangan kota selanjutnya dirasakan oleh banyak pihak. Salah satunya adalah Culture Project. Sekelompok orang yang lahir dan berkembang di kota Palu ini merasakan betul atas apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika tak dicegah dan diperbaiki, bukan tidak mungkin kota tercinta mereka akan mengalami kemunduran.

Lebih dari itu, mereka juga kerap kali mengangkat isu-isu panas yang ada di kota tersebut ke dalam karyanya. Sebut saja judul-judul seperti “Paludilupa”, “fe-NOmena”, dan “Darurat”. Di dalamnya memuat curahan hati, protes, dan solusi lanjutan untuk keadaan yang ada. Berkarya sejak 2008 hingga kini, mereka adalah salah satu yang bagus yang masih tetap ada dari kota tersebut. Culture Project adalah Umariyadi Tangkilisan (gitar), Zhul Usman (vocal), Ayub Lapangadong (bass), dan Riyan Fawzi (gitar/synthesizer). Program terakhir bernama “Restart” membuat kami semakin ingin berbincang panjang lebar dengan mereka. Akhirnya momen itu kejadian beberapa waktu lalu. Bersama ka Ady Tangkilisan, kami membicarakan banyak hal. Silahkan simak di bawah.

Pertama-tama, penikmat musik di Palu pasti sudah paham betul soal Culture Project. Tapi untuk yang di luar Palu mungkin sebagian belum kenal. Bisa ceritakan perihal awal mula Culture Project ada?

Awalnya hanya ingin meneruskan menghidupkan karya karya Hasan Bahasyuan. Karena dibentuk di HBI (Hasan Bahasyuan Institut) di tahun 2008, sebagai divisi riset karya musik beliau. Dalam prosesnya kita dapat tantangan yang tidak mudah, karena karya-karya itu terlalu paten utk dibongkar-bongkar aransemennya. Jadi kita memutuskan membuat karya sendiri saja, dan lalu dibentuklah proyek ini di tahun 2010. Momen pertama kali kita manggung bawa karya sendiri itu di Festival Teluk Palu 2010.

Siapakah sosok Hasan Bahasyuan ini, ka Adi? Budayawan asal Palu?

Beliau dikenal lewat karya lagu dan tarinya. Karya-karya lagunya adalah Tananggu Kaili, Palu Ngataku, dan lain sebagainya. Untuk tari, dirinya dikenal dengan karya tari pamonte, peulucinde, yang lahir dari eksplorasi tradisi di beberapa suku Sulawesi Tengah, Kaili, Banggai, Poso, dan lain-lain. Beliau meninggal di tahun 1987, di usia 57 tahun. Dan luar biasanya, beliau berproses dalam keterbatasan zaman kala itu.

Kenapa sampai perlu dibentuk divisi riset dari karya musik beliau?

Saat itu para pendiri pikir perlu mendata ulang karya-karya beliau, merekam kembali atau membuat aransemen baru. Kami sudah coba di awal-awal, dan dalam prosesnya justru menemukan bentuk lain yang kalau dipaksakan malah mencemari pola karya beliau yang sudah terlanjur lekat diterima dan populer itu. Dan kami malah keasyikan membuat komposisi sendiri, keterusan jadi proyek yang akhirnya lepas dari karya beliau. Waktu masih menggarap lagu “Tananggu Kaili” saat itu, lalu kemudian 2 kali dipentaskan, cukup menuai kritik dari para pengagum karya dari beliau, seperti tidak rela karya yg sudah sedemikan lekat di bongkar dengan versi kita. Karena merasa keliaran eksplorasi musikal kami dibatasi, akhirnya putuskan lanjut proyek karya sendiri. sosok Hasan Bahasyuan jadi influens kami, soal perjuangan dan proses berkarya. Zaman yg sulit, transportasi terbatas, bisa beliau lalui dengan produktif. Masa kita yang so canggih kalah produktif hehe.

Pada akhirnya menemukan ciri bermusik dari Culture sendiri ya. Tapi, pas di awal itu langsung dinamai Culture Project?

Iya, momennya waktu waktu pentas di Festival Teluk Palu 2010. Didirikan sama Zulkifli Pagessa, seorang seniman teater yang juga aktif di dunia arsitek. Saya juga hadir belakangan, waktu Culture Project dibuat di 2008 saya masih di Jogja, pentas awalnya pas saya sudah balik 2010, bertepatan ada momen Festival Teluk Palu, jadilah penampilan perdana kita.

Nah kalo kita mau bahas soal perbedaan zaman. Orang di masa dulu dengan segala keterbatasan yang ada bisa menghasilkan karya bagus yang tetap lekat dengan generasi sekarang. Tapi berbanding terbalik dengan yang ada sekarang, apa-apa serba canggih, tapi beberapa karya yang dihasilkan seperti biasa saja. Bagus, tapi jarang yang melekat dengan orang-orang. Kira-kira faktor apa yang terjadi?

Terlalu banya pilihan sekarang, bagus-bagus dan canggih secara tema, unik dan juga variatif. Itu satu faktor, fanatisme juga tidak seperti dulu, kalau sekarang cepat puas konsumen. Karena itu tadi, proses mendapatkan juga mudah, akses ke ide dan fasilitas yang murah bikin berkarya itu tidak ekslusif. Dulu lagu lagu bagus juga tidak selalu ori, ada yg juga dengan sengaja atau tidak, mempunyai kemiripan dengan karya lain, tapi susah dideteksi.

Kalo Culture sendiri, mengklasifikasikan musik yang dimainkan itu di jenis apa?

Masih populer, pop non pop hehe. Tadinya mau anti pop, cuman ternyata sudah bawah sadar ini pola-pola. Ada rasa nyaman memainkan bentuk lama yang masih enggan ditinggalkan. Sudah campuran bentuk yg masuk, kita hanya mengemas dalam bentuk yang jarang dipakai sama band luar Palu saja.

Seberapa kuat unsur budaya Kaili yang ada di musik Culture Project, menurut ka Ady sendiri?

Masih sedikit, secara bebunyian masih sekitar 25 persen saja. Begitu sudah campurannya, karena misi Culture Project bukan main musik tradisi. Masih mau tmbuh dan merespon kebiasaan masing-masing personil.

Karya lagu yang baik menurut ka Ady seperti apa? Zaman sekarang kan banyak sekali lagu nyeleneh, tapi penikmatnya banyak. Contohnya banyak bertebaran di mana-mana.

Karya yang bisa mewakili capaian pikir kita, bermain dan berkarya saya kira beda. Kadang bermain mengalir saja, sesuai kenyamanan. Kalau berkarya kadang tidak nyaman, apalagi kalau motifnya hanya untuk memenuhi kemauan orang lain yang tidak cocok dengan sikap hidup kita. Kalau untuk menjual lain lagi. Rumusannya dagang, ada hitungan ditujukan buat siapa. Kita perlu cari rumusan yang bisa diterima orang sekaligus tidak manipulatif terhadap diri sendiri. Kalau orangnya nyeleneh, karya jujurnya pasti nyeleneh, orang suka tanpa bikin siksa si nyeleneh tadi. Misal kami yang kalem, pemalu, tapi karena tren lagi nyeleneh, tiba-tiba rubah karakter sesuai tren, kita jadi palsu.

Berarti, penting memikirkan pasar/trend, atau mengikuti kata hati diri sendiri?

Contohnya mungkin bisa seperti berdagang makanan. Ada Chef yang seleranya tinggi, tau banyak jurus masak. Lalu pilih buka Mas Joko (sebutan untuk warung pecel ayam di Palu) karena pertimbangannya lebih laris. Pasti kita yang umum pikirnya “dia tidak yakin dengan kemampuannya, tidak yakin bakal menemukan orang yang mampu beli kalo dia buka restoran. Dia putus asa, sedang panik, takut tidak dapat rezeki lagi, atau mungkin dia Chef palsu.” Nah, jalan tengahnya, ya dia kombinasi, jualan Mas Joko dengan tingkat higienis dan racikan yang berbeda sesuai dengan kemampuan ilmunya. Jadi pasar juga penting, tapi pencapaian juga penting.

Aah betul, mesti dikombinasikan. Biar keinginan pasar dan idealisme terpenuhi

Iya tinggal pilih, pembeli sejuta orang tapi bikin kita jadi tumpul secara gagasan, tiada tantangan ide, jadi diri yg palsu. Atau pembeli seratus orang yang bikin kita makin hidup, kita makin kenal diri sendiri, menemukan jati diri. Culture Project sadari sejak awal hanya mencapai sedikit orang yang menerima kami. Tapi itu orang orang terbaik, pendukung yang sehat yang menghargai pencapaian, menghargai prosesnya. Menerima kita dalam keadaan apapun, baik itu keadaan vau nganga (bau mulut) atau abis nyalon.

Kalau untuk Culture Project sendiri, rumusannya lebih ke arah mana?

Sejak Juli 2019 kami putuskan untuk bidik industri, sedang tes-tes membuat beberapa karya yang dikemas lebih ringan dan kuat unsur pop, yang menarik penikmat Culture Project ada lintas generasi. Makin kemari kami tidak fanatik lagi ke bentuk aransemen, karena makin terbuka secara referensi. Yang kami pertahankan prosesnya, menjaga etika kerjanya, dan berusaha fair dalam keadaan apapun. Ibarat perjalanan seharian sejak bangun tidur, sampai bangun tidur lagi. Ada saatnya kami ketemu banyak orang, dikunjungi atau mengunjungi. Macam-macam kejadian, dari bicara nol ketawa-ketawa, baku gara (saling ledek), kadang marah-marah karena bahas hal sensitif, sedih karena lihat kondisi pengungsi, nyeleneh karena ide liar, jadi alim karena ba bahas spiritual, kadang maniso (genit) karena bahas artis seksi atau nyasar di portal gosip. Macam-macam. Keragaman emosi dan karakter itulah kami, sekarang tinggal pilih mana yang mau ditonjolkan. Yang pasti pengalaman yang beresiko membuat orang atau pendengar jadi buruk secara moril, pengalaman juga bisa membuat orang jadi tidak bertanggung jawab, tidak akan kita sebarkan menjadi karya yg dikonsumsi orang laen. Cukup dinikmati sendiri.

Berarti memang harus ada yang disimpan sendiri ya. Oh ya, Palu sendiri pernah ada di masa musiknya sedang dilirik oleh orang banyak di luar Palu. Kira-kira sekitar 2010-2015. Setelah itu redup lagi, tapi tetap berproses. Ada apa dengan para pengkarya ini menurut ka Ady?

Cepat puas, mudah kecil hati, terhimpit tagihan anak istri, gaya hidup mahal sementara band tidak punya income hahaha. Dan tidak ada target yang disusun dalam kerja manajemen. Tapi yang lebih mendasar di masa yang tidak pasti itu, orang bisa berhenti bermusik atau berkarya musik, bisa jadi karena musik hanyalah alat menyatakan tren. Ketika trennya hilanh, orang tersebut otomatis memudar dan hilang motif bermusik. Bagi saya dan Culture Project, musik adalah alat menyatakan gagasam, medium curhat pikiran dan lainnya. Selama masih punya gagasan, masih ingin berkomunikasi. Aktivitas musik kami tak akan berhenti sampai isi kantong terakhir hehe.

Berarti bentuk-bentuk inisiasi yang dijalankan CP beberapa waktu belakangan sampai sekarang itu, masuk di sistem kerja manajemen?

Iya sejak Juli, kami benahi jadi program “Restart.”

Wah menarik ini, bisa diceritakan detailnya, ka Ady?

Berat beban, kacau apa-apa. Jadi kita instal teman-teman baru untuk bantuk kerja di manajemen waktu, media sosial, dan program. Kita buang program berat yang bervirus, dapat momennya pas mau home concert. Rekaman 1 bulan 1 lagu, menyangkut di biaya, jadinya ditunda. Beban kerja yang numpuk, diurai kembali, bagi ke setiap orang. Ganti manajer yang mandek, fokus ke latihan, ngobrol masalah ekonomi. Karena kemarin kita dibebankan biaya sebesar 4 juta untuk setiap program live. Jadi stop dulu, nabung kembali.

Oh ya, konsep yang dibuat dari setiap peluncuran lagu itu menarik sekali, apa memang sengaja tiap lagu beda bentuk acaranya?

Iya, menyesuaikan biaya dan konteks karyanya. Bagaimana terus betahan tanpa adanya sponsor. Soalnya kami juga masih pilih dan cari sponsor yang setara.

Palu Dilupa – Darurat – fe-NOmena. Ketiganya apakah memiliki benang merah yang saling menyambung satu sama lain?

Sebenarnya untuk secara khusus tidak dibuat untuk bersambung. Kebetulan pas saja, karena yang digarap masih seputar ide yang sama. Palu soal keputusan, inisiatif, darurat soal pengungsi. fe-NOmena soal berusaha melihat utuh sebelum ambil kesimpulan.

Pemilihan tempat perilisan 3 lagu ini juga berkaitan erat dengan isi dari si lagu atau tidak, ka Ady? Yang di depan kampus Untad saat merilis single “fe-NOmena” itu unik menurutku.

Iya, yang di kampus itu karena, kampus terlanjur politis. akal sehat mesti ada di sana sebagai pabrik intelektual. Seperti yang tertuang di lirikny.

Akal sehat tak pernah mati
dia hanya pingsan krn jarang dilatih

Majulah lbh dekat
Naiklah lebih tinggi

Kesimpulan paling baik
Jangan cepat ambil kesimpulan

Fenomena kan terlihat lebih jelas
Nomena terbaca lebih utuh

Bisa dibilang fokus utama dari ide penciptaan lagu-lagu ini datang dari Palu. Menurut ka Ady, apakah Palu sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja?

Sangat tidak baik, kita tidak punya kendali atas banyak hal. Masih menunggu dan sekedar merespon apa tren di luar.

Bagaimana ka Ady memandang ranah musik saat ini? Khususnya di Palu

Makin mudah produksi, makin mudah manggung, apalagi sebelum pandemi ini ada. Secara kuantitas bagus. Pemahaman audio juga makin baik, akses ke operator soundsystem juga sudah ada. Tapi lagi-lagi bahan baku berkarya masih ambil dari permasalahan di luar diri para musisi. Kita lebih suka membicarakan kesuksesan orang lain, lebih menggali potensi luar daripada di sekitar Palu.

Pengalaman apa yang paling melekat sampai sekarang selama masa berkarya dari Culture Project?

Ady Tangkilisan: Workshop di kebun kawan di daerah Dolo. Kenapa perlu begitu? Karena tiga personil kami sangat aktif di reguler cafe dan event. Susah sekali dapat momen yang fokus bersama, intensitas ketemu hanya saat persiapan pentas, biasanya seminggu 3 kali saja. Itupun waktu yang sedikit, lebih banyak dipakai buat mengulang hafalan. Konflik sering muncul, suka kecil hati dan lain-lain. Akhirnya diputuskan buat kemping 2-3 hari, untuk workshop dan susun materi rekaman. Rencana hanya 3 hari, eh keterusan sampai 63 hari. Banyak sekali yang kami dapat, khususnya mengenal lebih utuh antar masing-masing personil di luar musik. Momen ini makin mendekatkan kita. Jadi lebih tau hal-hal yang sifatnya pribadi. Proses membuat karya juga jadi lebih guyub. Banyak cerita muncul, curhatan, kita dapat banyak pelajaran. Buahnya, kami jadi semakin kompak, tidak ada lagi curiga soal prioritas Culture Project atau lainnya, kecil hati dan lain-lain aman terkendali.

Uba: Pengalaman yang paling melekat saat berkarya bersama CP. Secara pribadi saya gabung dan jalan mengawali karir bersama CP itu mulai tahun 2012, pengalaman dan cerita yang paling berkesan waktu music camp selama lebih sebulan, sehingga menghasilkan lagu “Palu dilupa”, “Darurat” dan “fe-NOmena”. Di saat itu saya yang baru saja berduka karna kehilangan Ibu, dan juga lagi kekurangan biaya secara pribadi tapi tetap berusaha untuk bangkit dan fokus profesional sebagai musisi, saya belajar dari duka dan kuat dari musibah,, berbagai macam benturan dan perbedaan presepsi selama kami music camp sehingga mendapat cobaan lagi, player kami (drumer) harus mundur dari CP. Tapi itu semua saya jadikan pelajaran, Dan akhrnya kami sepakat untuk tetap lanjut.

Ryan: Pengalaman paling berkesan ialah, sejak bergabung di CP smpai hari ini. Semua berkesan. Bukan tende, tapi memang setiap momen berikan kesan dan pesan yangg melekat jadi tak ada pngalaman yg tidak berkesan menurut ane. Mungkin yang paling berkesan skali, ketika kita saling memahami satu sama lain, lebih kenal satu sama lain secara emosional di luar konteks bermusik. Sehingga dalam proses berkarya, itu berubah jadi energi yang makin kuat. Melekat. Dalam kondisi apapun, kita masih bersama0sama. Itulah pengalaman yg benar-benar berkesan.

Seru juga ye ka Ady

Asik Just, hidup di tengah aktivitas kebun dan tani. Tidur di pondok tanpa dinding. Kalau habis uang makan, yang lain turun mencari uang dari main di cafe-cafe di Palu. Tengah malam datang untuk bawa logistik. Saat di sana kami juga kehilangan sosok drumer dan manajer (seleksi alam selama 63 hari), hampir bubar saat masa jenuh. Fase ini hadir di minggu-minggu ketiga. Tapi, lagi-lagi kami dapatkan formulanya. Sekarang kalau ada sedikit konflik atau mengganjal hal kerjaan, sudah tidak ada saling simpan. Tidak ada lagi kebiasaan baku cerita di belakang. Selamat haha. Soalnya kan banyak orang bubar karena kebiasaan itu.

Ada yang mengganjal nda kalau menyoal perhelatan event di Palu?

Iya, kita semua masih menjadi alat marketing produk dengan harga yang tidak fair. Misal perusahaan rokok dengan omset triliunan, hanya bisa biayai acara kecil 5-7 juta. Itupun tidak dalam bentuk uang penuh, dana itu yang kemudian dikelola sama penyelenggara, dengan atribut iklan yang mendominasi area, dana itu juga yang dibagi untuk menghidupi pengisi acara. Berlangsung lama dan tidak disadari. Malah kawan-kawan enjoy menjadi agen perusahaan. Honornya cuma habis pake latihan, perusahaan besar loh. Kalau warung nasi kuning yang biayai masih bisa diterima hehe. Mestinya negoisasi dinaikkan levelnya, biar band juga termotivasi memberikan karya terbaiknya. Makanya banyak yang tidak bertahan, karena nombok terus jadi anak band. Ini di sisi event dari perusahaan ya. Di sisi lainnya, survive kawan-kawan mulai terbiasa buat gigs kecil sebagai ruang ekspresi, patungan atau sponsor internal (usaha kawan sendiri), geliat ini terus berlangsung sebelum masa pandemi. Kalau untuk sekarang kita mesti rubah strategi lagi kita.

Nah iya itu selalu jadi perdebatan, permasalahan begitu selalu berulang. Solusi baiknya apa ka Ady?

Memang ada masalah juga di kita, misal hanya menyajikan karya yang monoton. Tidak merasa jadi bagian untuk ikut mensukseskan acara, tidak mampu memikat penonton lebih banyak. Tentu itu jadi pertimbangan sampai sponsor hanya memberi seadanya. Standar itu akhirnya jadi penilaian kebijakan anggaran yang diajukan ke pusat. Solusinya bisa naikan branding tiap band, latihan lebih sering, buat karya yang bagus, konsep penampilan digarap, ajukan biaya produksi yang fair. Sesuai modal kera + modal gagasan yang kita bisa buat sendiri rumusannya. Kalau masih sulit juga, harus buka peluang dengan tim lain untuk siapkan acara sendiri, biar dapat kesempatan asah skill dan ketemu calon penggemar. Yang mudah sebenarnya invasi dari cafe ke cafe. Alat sudah ada, penonton sudah ada, tinggal garap sesuatu untuk tampil disela-sela home band. Lalu buat dokumentasi video untuk konten sebaran, tentu dengan kualitas yang amanlah. Tiap band harus pasang target, capaian jangka pendek, menengah, kalao sudah begitu teruji bagus, terus sponsor masih tidak membuka mata, boikot, itu rock hehe. Bukan hanya teriak lantang di panggung, tapi kalem di kenyataan hari-hari, gahar di atas panggung, tapi tidak bernyali menolak di keseharian.  Kalo kami di Culture Project sudah buat rumusan biaya produksi, untuk acara sosial, sponsor kecil lokal, sponsor besar lokal/nasional, dan bahkan siap gratis kalau acaranya memang non profit atau momen edukasi. Bisa juga barter prime time. Ada kesan kalau kita itu anti rokok, padahal nda mungkin anti, semua pemadat begini haha. Kita hanya miris indikasi tidak fair. Nah kembali lagi ke band, tujuannya mau untuk apa? Sekedar waktu luang, ikut-ikutan, cari uang, cari asik-asik saja, kejar populer atau profesi? Dari sana bisa ketahuan. Kalau hanya iseng, ya jangan tuntut macam-macam.

Haha iya, nah itu banyak band juga sering saya lihat di Palu yang sudah rilis album, trus dijadikan indikator agar pihak acara untuk membayar sesuai mau si band. Apa album memang menjadi senjata penting untuk meminta nominal besar?

Album juga adalah salah satu pencapaian. Tapi harus fair, sekarang buat album rekaman makin mudah dan rekayasanya juga makin tinggi. Kalau lagunya bagus, berkesan, dan memenuhi ekspetasi penonton, bisa jadi daya tawar. Kalo tida pasti cuma jadi bahan ledekan, “nuapa iko? (mau apa kalian?).” Kami sebenarnya termasuk yang jarang manggung, biasanya main lebih ke acara kawan, saling bantu. Kalau untuk ikut ekspetasi penonton, hanya sedikit yang suka. Naiknya Barasuara mungkin berdampak sebagian anak-anak jadi open minded terhadap karya kami. Nah anehnya itu, seperti yang saya bilang, kenapa nanti booming di luar sana, baru kita sadari ada potensi bagus di sekitar, kenapa harus tunggu orang lain suka, baru kita ikutan suka. Folk di sana, di sini semua ikut Folk. Kita makhluk yang mudah diombang-ambing, yang bahkan menentukan nasib sendiri, selera sendiri, harus menunggu dari orang lain. “Paludilupa, kita tidak punya kendali atas diri sendiri.”

Tapi fenomena ini dari dulu sudah ada, ketika Death Metal lagi naik di Palu, semua memainkan musik itu. Terus, muncul Hardcore dan sebagainya, kembali mengikuti.

Memang ada contoh buruk dari sejarah para tuaka (orang yang dituakan), mereka ini menunjukkan inferior syndrome. Misal ada kejadian saat tim di Jakarta di invasi investor, banyak dari mereka ikut teriak di medsos. Pas ada pengrusakan danau Poso cuman diam. Sepertinya hanya badan kita yang ada di ngata (kota) ini, roh kita hidup di tempat lain.

Apa harapan besar ka Ady buat industri musik di Palu?

Sangat yakin bisa besar. Ini yang buat saya dan Culture Project bertahan. Kawan-kawan band lain semoga begitu. Letak geograifs menunjang, teknologi sudah mempermudah. Saya ingat kota kecil Seattle bisa lahirkan genre musik yang khas. Boleh jadi rujukan harapan kita.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Culture Project

Penanda 17 Tahun GBS Berkarir

Gugun Blues Shelter kembali merilis single kedua setelah sebelumnya pada pertengahan tahun 2022 mereka merilis single Jingga. Kali ini, trio Gugun, Bowie & Fajar melepas Down & Dirty seperti yang...

Keep Reading

Tur Jepang Bangkutaman & Logic Lost

Bangkutaman, grup asal Jogja, melanjutkan seri TauTauTur mereka dengan edisi spesial. Mereka memutuskan untuk bertandang ke Jepang. Tur ini dimulai dari tanggal 27 – 30 November tahun ini. Bukan tanpa...

Keep Reading

Video Musik Bintang Massa Aksi .Feast

Abdi Lara Insani yang merupakan single utama dari album teranyar .Feast berjudul Bintang Massa Aksi ini ternyata masih memiliki keberlanjutan dengan dirilisnya sebuah video klip resmi di kanal YouTube .Feast (22/11/22). Video klip ini melibatkan...

Keep Reading

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading