Coronation: Dilema Pandemi dan Kemanusiaan

Ada seorang kurir yang tengah bolak-balik mengirim bantuan pokok untuk penduduk yang tak diizinkan bertolak ke mana-mana, juga ada seorang pekerja bangunan yang terpasung dalam ketidakpastian hidup usai kehilangan sumber penghidupannya: mereka semua muncul dalam film dokumenter garapan Ai Weiwei, “Coronation”. Dalam film Coronation yang hendak menampilkan sudut gelap di belakang suksesnya China “menyapu bersih” corona di sebuah kota di timur Provinsi Hubei, Wuhan, sang sutradara yang merupakan seniman visual dan seorang exile itu sampai memakai 15 kameramen untuk menangkap sudut pandang berbeda-beda. 15 kameramen itu ia intruksikan dari kejauhan, dari Jerman, tempat ia diasingkan. Dari 500 jam materi video yang dikirim 15 kameramennya itu, 95 persennya ia potong-potong, dan yang disuguhkan kepada kita hanya 113 menitnya. Tak panjang untuk ukuran film dokumenter. “Saya punya tim yang terbiasa bekerja cepat. Mereka tahu apa yang saya inginkan,” kata dia.

Sebuah pencapaian mengagumkan betapa Negeri Tirai Bambu itu memang kuasa memaksa corona harus bertekuk lutut di hadapan mereka. Dari data statistik dunia menunjukkan sampai detik ini orang-orang yang dibawa ke liang lahat akibat corona di China tak lebih 4.600 sekian dari total 85.372 kasus yang terindikasi tertular. Berbeda jauh dengan angka kematian di Amerika Serikat atau di Brasil, misalnya. Di negaranya Donald Trump itu mencapai 175.000 orang yang meregang nyawa, sementara negara yang disebut kedua ada sekitar 113.000 jiwa. Padahal, kita tahu, usai 1 Desember 2019 pasien pertama terendus di Wuhan, China kemudian menjadi episentrum dunia Covid-19. Dalam benak Ai Weiwei, keberhasilan tempat lahirnya itu adalah sebuah misteri, pasti ada upaya penanganan corona yang ditutup-tutupi. “Penduduk dunia harus paham kalau ini adalah China,” kata dia lagi.

Adegan “Coronation” dimulai dengan sepasang suami istri yang sedang berkendara pulang menuju pinggiran Kota Wuhan. Mereka berdua mau tak mau melewati beberapa pos pemeriksaan kesehatan. Juga mengalami kesulitan saat mengisi tangki mobil mereka di tengah derasnya salju malam itu. Di sela durasi film Coronation yang dibuat dari 23 Januari hingga 8 April itu, ditampilkan pula pemandangan luar biasa, yang membuat kita berbisik kagum sesaat: pembangunan rumah sakit hanya dalam hitungan hari lengkap dengan ruang perawatan intensif, iring-iringan bus pengangkut lebih 40.000 pekerja medis, respons cepat tanggap militer mengulurkan bantuan pengendalian virus. Begitu mengesankan, memang. 

Tapi getar kagum itu lekas berhenti seiring film mempertunjukkan ada relawan sempat-sempatnya tidur di mobil yang ia parkir setelah dipaksa bertugas penuh seharian; seorang pria repot mondar-mandir meminta pihak berwenang menyerahkan guci berisi abu jenazah ayahnya – sesuatu yang mana mungkin dibolehkan lantaran takut hal itu dapat mencetus amarah publik pada pemerintah pusat, sebab akan dianggap telah membiarkan virus corona yang dikira menempel di abu jenazah bisa menjalar ke mana-mana; mantan kader partai berkuasa di China berseru menagih komitmen bekas partainya itu yang katanya enggan memakai sistem militeristik dalam menghadapi corona; ada gemuruh teriakan yang meluncur deras, melempar kritik terhadap negara yang bisa-bisanya beralasan ingin memantau penyebaran virus dengan menyadap telepon genggam tiap warga. Semua ini menyentak ingatan kita, sebagaimana Ai Weiwei mengatakan: “Ternyata di balik segala yang mengesankan di atas tadi ada ‘ongkos’ kemanusiaan yang dihamburkan.”

Ai Weiwei memang tak jarang mencari tahu masalah sensitif di China kemudian mengumbarnya ke publik lewat film. “One Recluse”, misalnya. Bertanggal rilis 2010, film dokumenternya ini menelusuri alasan dan motivasi Yang Jia, seorang tunakarya, yang harus bertanggung jawab atas terbunuhnya enam anggota kepolisian di Distrik Zhabei (tahun 2015 wilayah ini diintegrasikan ke Distrik Jing’an). Menurut otoritas dan media Tiongkok, pria penyendiri itu melempar delapan bom molotov ke depan gerbang markas besar polisi di Zhabei sekitar jam 9:40, 1 Juli 2008, tepat saat ulang tahun berdirinya Partai Komunis China. Ia kemudian menikamkan pisau ke penjaga keamanan yang mencoba menghentikannya. Yang berjalan ke dalam gedung. Secara acak ia menusuk sembilan petugas polisi yang tidak bersenjata, empat di lobi dan ruang tugas dan lima lainnya saat berjalan ke lantai 21, sebelum polisi berhasil menundukkannya. 

Enam polisi menderita luka tusuk di paru-paru, hati, dan leher. Mereka mati kehabisan darah. Selain pisau dan bom molotov, Yang membawa palu dan semprotan merica sambil mengenakan masker. Yang didakwa dengan pembunuhan terencana. Di “One Recluse”-nya itu, Ai Weiwei menyelidiki proses persidangan Yang. Dalam batin Ai Weiwei, putusan pengadilan itu meragukan. Apalagi, usai tragedi berdarah itu ibu Yang dilaporkan menghilang misterius. Kata Ai Weiwei, di film ini ia hendak memberikan gambaran sekilas tentang realitas sistem peradilan di China yang kerap dikendalikan pemerintah, dan dampaknya terhadap kehidupan warga di sana.

Sementara itu, sebelum terpaksa menyiarkan ke publik, China berkali-kali membantah perihal keberadaan virus menular itu, menyembunyikan jumlah pasien, juga memidana staf medis karena membeberkan informasi tentang corona. Sekarang, mata dunia boleh jadi terbelalak terpana melihat sukses China memberangus corona. Tetapi sepertinya aroma karantina yang tercium di China sebetulnya ialah alat pembungkaman. Ada yang menunggangi keadaan pandemi dengan politik kendali di sana. Pemerintah, dalam hal ini. Karantina serupa momok seram bagi kebebasan pribadi, mengontrol setiap sendi kehidupan warganya sendiri. Ruang pribadi terasa kian terhimpit. Mungkin, di satu sudut, karantina merupakan upaya positif mengurangi penularan. Tapi, di sudut berbeda, ia adalah cara gugup pemerintah menghadapi wabah yang sebenarnya hampir pasti terjadi di tiap seabad sekali. Karantina ialah sebuah upaya yang rapuh dan usang. Jika karantina terus menerus dibuat cara unggulan dalam menghadapi wabah, apapun ia bentuknya termasuk corona, maka ia mesti akan mempertaruhkan kebebasan individu juga kemanusiaan, sebagaimana di China. Corona, karantina, dan kemanusiaan jadi dilema. 

“Jangan terkejut bila di China hari-hari ini muncul masyarakat pistanthrophobia, ketakpercayaan mereka terhadap pemerintah makin hari makin menjadi semacam fobia. Ini muncul akibat China tak jujur, tak menghargai kebebasan juga kemanusiaan. Pada akhirnya kita menghadapi pertanyaan yang lebih eksistensial: dapatkah peradaban bertahan hidup tanpa kemanusiaan? Bisakah negara berdiri tegak tanpa warganya yang tak lagi punya kepercayaan?,” ujar Ai Weiwei. “China memiliki pandangan yang sangat jelas: begitu Anda kehilangan kendali maka kekacauan mengikuti. Karantina di China ala caranya sendiri adalah upaya mereka membentuk kendali.”

Menyoal kritik keras Ai Weiwei terhadap pemerintah China lewat “Coronation”, film dokumenternya yang keduapuluh tiga itu telah ditolak tayang di beberapa festival film, termasuk Festival Film New York, Festival Film Independen Toronto, serta Festival Film Internasional Venesia. Sementara Netflix dan Amazon pun melakukan hal yang sama. Festival Film Internasional Venesia menolak berkomentar, sedangkan Festival Film Independen Toronto dan Amazon bergeming. Yang lain membantah bahwa ada intervensi politik dari pemerintah China. Seorang juru bicara Netflix berdalih pihaknya sedang mengerjakan sendiri film dokumenter tentang corona, sementara Festival Film New York mengatakan tak ditayangkannya “Coronation” bukan karena ada tekanan politik, tapi murni tak masuk penilaian kurator. “Padahal, mereka semua sempat tertarik sebelumnya,” kata Ai Weiwei menanggapi.

Teks: Emha Asror
Visual: Arsip Ai Weiwei

Menyajikan Lebih Dari Musik!

Familiaxshow telah sampai pada seri ke-7 yang akan digelar pada 18 September 2022. Gig 3 bulanan sekali ini pertama kali digulir 6 Maret 2020 dengan fokus memberikan ruang bagi lineup...

Keep Reading

STUC Merepresentasi Mood Yang Acak Dalam 'Spin'

Kuartet math-rock dari Bandung yang mantap digawangi Dida (Drum), Wisnu (Gitar), Ades (Gitar), dan Ojan (Bass) merilis single kedua bersama Humané Records pada tanggal 26 Agustus 2022 dengan tajuk ‘Spin’....

Keep Reading

Geliat Kreatif Dari Sulawesi Tengah Dalam Festival Titik Temu

Terombang-ambing dalam kebimbangan akan keadaan telah kita lalui bersama di 2 tahun kemarin, akibat adanya pandemi yang menerpa seluruh dunia. Hampir semua bentuk yang beririsan dengan industri kreatif merasakan dampak...

Keep Reading

Memaknai Kemerdekaan Lewat "Pasar Gelar" Besutan Keramiku

Di pertengahan bulan Agustus ini, ruang alternatif Keramiku yang mengusung konsep coffee & gallery menggelar acara bertajuk “Pasar Gelar” di Cicalengka. Gelaran mini ini juga merupakan kontribusi dari Keramiku untuk...

Keep Reading