Setelah sukses menggelar Gelombang Cinta Mini Tour Vol. 1 ke Jakarta, Sukabumi dan Bandung beberapa bulan yang lalu, dua band asal Lombok, Sundancer dan The Dare melanjutkan perjalanan tandang untuk mengenalkan musik yang mereka mainkan. Tur pendek akhir pekan berjudul Gelombang Cinta Mini Tour Vol. 2 ini mampir ke bagian tengah Pulau Jawa; Jogjakarta, Solo, Semarang dan Magelang. Ini cerita yang ditulis oleh Timmy Adhipa, manajer The Dare.

Ada yang aneh ketika kami mendarat di Bandara Adi Sucipto, Jogjakarta. Penampakan berbeda terjadi di sepanjang area kedatangan, ada sekitar lima ratus orang duduk dan menanti bermodalkan spidol dan kertas. Saya sempat berpikir, “Bisa jadi publikasi yang kami sebar di media sosial berhasil. Orang-orang ini datang untuk kami. Sekaligus juga bertanya, ‘Apakah secepat ini The Dare dan Sundancer memiliki basis fans yang besar? Padahal baru setahun ini menjajal dunia musik.’” Ternyata setelah dicari tahu salah. Kebetulan, di saat yang mirip-mirip ada sebuah band Korea yang datang ke kota itu. Haha. Sudah besar hati saja.

Di kota tempat Om Robo, frontman Sundancer, menghabiskan bertahun-tahun hidup ini, agenda langsung padat. Begitu tiba, kami langsung menuju Radio Geronimo untuk wawancara. Selain bermain langsung, dua band ini juga punya sejumlah agenda untuk berpromosi di media. Provoke Magazine juga mewawancarai kami hari itu. Cara berpromosi ke media, masih efektif untuk digunakan dalam tur promo antar kota seperti yang kami lakukan. Mereka sangat membantu untuk menyebarluaskan informasi pertunjukan yang akan kami lakukan.

Di Jogjakarta, Gelombang Cinta Mini Tour Vol. 2 dimainkan di kantor Provoke Magazine. “Saya nervous banget ini,” kata seorang personil The Dare. Malam itu, pertunjukan dibuka oleh tuan rumah Grrrl Gang kemudian Good Gestalt, Fashion Statement dan The Dare serta Sundancer.

Kami menangkap ada rasa penasaran yang besar pada musik The Dare. Pada saat lagu Fameinkiss baru mulai dimainkan, gemuruh kecil terdengar dan mulai membesar ketika kami mengkover lagu Dunia Belum Berakhir milik Shaden. Puncaknya terdengar ketika Inthrovvvert dinyanyikan. Sungguhlah sebuah pembuka yang epik untuk The Dare.

Sundancer main sebagai penutup acara. Beberapa kerabat lama Om Robo datang untuk melihat langsung kembalinya ia ke peradaban musik Indonesia. Ia tidak punya keraguan untuk main di depan ‘rumah’ masa lalunya. Sound bising berbalut fuzz yang menusuk-nusuk telinga, seolah membakar panggung saat itu.

“Kita nggak pernah punya ekpetasi sih tiap kota bakal gimana crowdnya. Intinya ya, senang-senang,” kata Om Robo mengonfirmasi bahwa Jogjakarta merupakan awalan yang menyenangkan untuk tur ini.

Dari rancangan yang dibuat, tur ini semakin progresif. Semakin datang dari segi promo dan penjadwalan. Termasuk sejumlah kunjungan media yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari perjalanan kami. Kendati jadwalnya padat.

Selepas Jogjakarta yang sangat menyenangkan, kami langsung kembali ke penginapan untuk rehat menjelang perjalanan ke kota selanjutnya, Solo.

Salah satu hal yang diantisipasi menjelang berangkat ke tengah Jawa adalah makanan khas tiap kota yang dikunjungi. “Enaknya tur itu begini, makan-makan,” kata Om Robo. Setiap kota, selalu ada agenda khusus untuk menyantap makanan yang spesial.

Perjalanan dari Jogjakarta ke Solo makan waktu agak lama, sekitar 2.5 jam. Sesampainya di Solo, kami langsung menujur Radio Rapma untuk wawancara sebelum pergi ke venue untuk soundcheck dan beristirahat di penginapan.

Pertunjukan di Solo dibuka oleh teman-teman dari Project Salto, Electric Kool dan Barmy Blokes yang kesemuanya memukau serta mampu menaikkan gairah audience yang datang malam itu.

The Dare tampil malu-malu memulai setnya di Solo. Penonton pun sama; nampak malu-malu bergoyang santai di awal lagu. Tensi menaik seiring makin banyaknya lagu yang dimainkan. Di akhiran set, semuanya nampak makin seru dan panas.

Sundancer dinantikan dengan sangat oleh publik Solo. Seketika, ketika mereka naik panggung, seolah-olah penonton menjadi lautan api dan tidak terkendali. Mereka bergelantungan kesana-kemari pada besi panggung. Sangat liar. Solo dipecahkan oleh Sundancer.

“Solo! Bajingan! Udah dah!” teriak Decky Jaguar, vokalis Sundancer. Ia kehabisan kata-kata untuk mengekspresikan apa yang ia dan bandnya sebabkan malam itu.

Ketika ditemui setelah beraksi, ia mengungkapkan bahwa sebenarnya malam itu tetap ada tantangan berarti yang harus ia temui. “Nervous sih tetap. Apalagi ada kendala di sound microphone saya yang sempat bermasalah. Sempat bingung,” ujarnya. Toh, semuanya berakhir baik-baik saja.

Setelah selesai urusan di venue, seluruh rombongan menjajal makanan khas Nasi Liwet. Agenda pindah kota menanti di keesokan harinya.

Selanjutnya, Magelang adalah kota ketiga yang harus dikunjungi. Sebelum beranjak meninggalkan Solo, rombongan masih sempat melakukan wawancara dengan media lokal dan merasakan Tengkleng Pak Manto yang sekaligus jadi pengalaman perdana merasakan nikmatnya masakan itu. Rasanya terngiang di perjalanan.

Magelang sebenarnya tidak ada di rencana awal tur. Lima hari menjelang perjalanan dimulai, kesempatan datang dan baik The Dare maupun Sundancer mengiyakan tawaran ini. Untuk mencapai Magelang, kami menghabiskan empat jam perjalanan darat yang ditemani bukit-bukit indah serta hujan deras.

Hujan deras juga tidak kunjung selesai sesampainya kami di venue. Kecemasan muncul di raut wajah panitia dan beberapa dari kami. Acara diputuskan tetap berjalan. Beberapa teman yang membuka pertunjukan di Magelang membuat suasana jadi hangat. Sundancer main duluan kali ini.

Ketika memainkan lagu Musibah, Decky Jaguar membuat penonton menjadi liar. Ia menjadi pemandu stage dive yang baik.

The Dare menjadi penutup di Magelang. Hujan semakin membesar ketika masing-masing personil naik panggung. Di sisi lain, penonton makin padat dan berhimpitan. Sembari bersiap, Riri menyapa penonton. Sorakan keras langsung tersaji dari penonton. Lagu pertama dimainkan, suasana sudah berantakan. Orang-orang diarak, tiga-empat tubuh sekaligus mengudara. Seolah ada gelombang manusia lengkap dengan keringat bergesekan.

Malam itu, pertunjukan memakan korban satu monitor panggung sebagai penanda kebrutalan yang menyenangkan di Magelang.

Selepas pertunjukan, ritual cari makan enak kembali dilangsungkan. Kami makan sup kacang merah untuk menstabilkan suasana panas yang menyita energi tadi.

Destinasi berikutnya adalah Semarang. Kami berangkat pagi-pagi karena harus mengejar waktu soundcheck yang telah ditentukan. Venue pertunjukan kali ini adalah Gedung Marabunta yang legendaris. Rasa lapar yang menyertai kami di sepanjang perjalanan otomatis hilang ketika melihat gedung tersebut.

Tidak banyak yang dilakukan sembari menunggu pertunjukan malamnya. Malam itu, pertunjukan dibuka oleh Noirless yang juga sedang menjalankan tur mereka. The Dare kembali bermain sebelum Sundancer. Penonton cukup santai menikmati dan crowd surfing kecil menjadi penutup yang manis.

Tapi tidak dengan Sundancer yang selalu punya level energi tinggi. Mereka nampak tidak pernah lelah menghajar seluruh pertunjukan yang ada. Marabunta mendadak makin panas dan semua berdansa bersama. Single Musim Bercinta menjadi lagu terakhir yang berkumandang di Marabunta malam itu. Gelombang Cinta Mini Tour Vol. 2 berakhir.

Keesokan harinya, kami berpacu dengan waktu untuk kembali ke Jogjakarta demi mengejar penerbangan pulang ke Lombok.

“Next tour Jawa Timur ya bulan Juli,” kata Om Robo sesampainya kami di Lombok. (*)