Indonesia kaya akan berbagai instrumen perkusi. Banyak instrumen musik tradisional Indonesia dari Sabang sampai Merauke berbentuk perkusi. Warisan kebudayaan itu punya tantangan besar untuk menjaga, memelihara dan mengembangkannya. Kesadaran dan tanggung jawab itu muncul di beberapa pemain dan pengguna instrument ini, sehingga diperlukan wadah tempat sebagai komunitas yang didedikasikan bagi pemain perkusi, peminat perkusi komunitas perkusi, musik perkusi dan berbagai praktisioner lainnya.

Total Perkusi didirikan ketika para inisiatornya merasa bahwa wadah untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai perkusi dan seluk beluknya, yang berasal dari Indonesia, itu terasa kurang memadai.

Ketika kebanyakan kelompok maupun komunitas perkusi lebih banyak melakukan aktivitas pertunjukan, konser dan apapun itu yang menitik beratkan pada keterampilan.

Maka dari itu Total Perkusi hadir dengan tujuan agar dapat menjadi pelengkap dan penyeimbang dalam dunia perkusi di tanah air sebagai komunitas yg berkonsentrasi pada kerja-kerja pendokumentasian, riset dan penyebaran informasi tentang perkusi.

Komunitas Total Perkusi juga memfasilitasi para pelaku perkusi melalui program-program kegiatan mereka seperti Berbagi Klik, Berbagi Kopi Manis, Kemah Perkusi, Album Kompilasi, pendokumentasian, dan Jogja Percussion Festival.

Siasat Partikelir mendapat kesempatan untuk berbincang dengan Total Perkusi mengenai proses kreatif dan seluk beluk komunitas ini.

Bagaimana lingkungan sekitar kalian mempengaruhi proses kreatif Total Perkusi? Apakah atmosfer kota Jogjakarta juga mempengaruhi kalian dalam berkarya?

Jogjakarta adalah kota di mana banyak orang datang dari berbagai tempat dan latar belakang serta profesi. Banyaknya kantong kesenian, peristiwa seni dan budaya yang terjadi di sini. Kotanya tidak besar sehingga menuju dari satu tempat ke tempat lainnya mudah. Kami merasa sangat beruntung lahir dan berkembang di Jogjakarta. Banyaknya bentuk seni dan budaya musik di kota ini menjadi semacam asupan penuh gizi buat pertumbuhan “tubuh bayi” kami.

Sebagian dari kalian juga menjadi musisi industri, baik solo maupun tergabung dalam sebuah band. Sebagai musisi, bagaimana kalian melihat industri musik di Indonesia saat ini?

Kami sendiri tidak begitu mengikuti perkembangan industri musik Indonesia. Hanya saja sekarang melihat bahwa di era sekarang setiap orang bisa memproduksi dan mendistribusikan musik jauh lebih mudah.

Okay, sekarang mengenai sistem promosi dan distribusi di industri musik Indonesia nih. Kalian pernah merilis album kompilasi perkusi, apa pandangan kalian sebagai musisi independen yang pernah merilis albumnya sendiri? Kenapa memilih merilis secara independen?

Kami memilih merilis album sebagai bagian dari pendokumentasian aktivitas kreatif. Kenapa merilis secara independen? Kami memerlukan itu karena diurus sendiri bukanlah hal yang sulit, kami dibantu dan bekerjasama dengan komunitas atau organisasi lainnya seperti teman teman dari Rekam Bergerak (rekaman keliling) yang banyak membantu proses perekaman. Hasil penjualan rilisan bisa membantu untuk mendanai program program Total Perkusi.

Berbicara tentang merilis album sendiri, cerita dong mengenai proyek album kalian, Drums Speak yang dirilis tahun 2016.

Ide awalnya adalah untuk mendokumentasikan karya-karya dari para drummer muda Indonesia dan mempublikasikannya. Kami merasa perlu untuk membuat proyek ini karena kami melihat bahwa sesungguhnya kawan-kawan drummer Indonesia juga memiliki potensi yang luar biasa dalam hal kekaryaan, sayang sekali kalau potensi mereka tidak dimunculkan ke permukaan. Dalam proyek ini para drummer diwajibkan membuat karya orisinil mereka sendiri. Untuk ide musikal, format musik, aransemen, metode latihan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan komposisi musik, kami serahkan sepenuhnya kepada para mereka (dalam hal ini sebagai komponis). Untuk proyek Drums Speak yang pertama memang kami mencari drummer yang ada di sekitar Jogjakarta. Alasannya agar lebih mudah untuk melakukan diskusi dan mempermudah untuk urusan teknis produksi. Kami memilih berdasarkan rekam jejak mereka sebagai drummer maupun komponis. Hampir semua drummer yg dipilih memang aktif dalam dunia komposisi dengan berbagai gaya yang khas. Setelah melalui proses diskusi akhirnya proses rekaman kami percayakan sepenuhnya pada tim Rekam Bergerak. Proses rekamannya live recording. Metode ini sengaja dipilih karena lebih dapat merepresentasikan ide musikal dari komponis dan koneksi musikal antar musisi tetap terjaga.

Selain menggagas rilisan kompilasi, Total Perkusi juga menyelenggarakan pertunjukan yang fokus tentang perkusi yaitu Jogja Percussion Festival. Festival yang mempertemukan para perkusionis dengan masyarakat ini sukses digelar sejak 2014 sampai kemudian berubah nama menjadi Festival Total Perkusi. Ceritakan dong seluk beluk mengenai festival ini.

Jogja Percussion Festival merupakan festival perkusi yang melibatkan perkusionis atau kelompok perkusi yang dipresentasikan ke dalam bentuk pertunjukan musik. Jogja Perkusi Festival merupakan perayaan tempat bertemunya perkusionis dengan perkusionis lainnya, tempat bertemunya musik perkusi dengan masyarakat. Festival yang kami adakan terakhir bulan Agustus kemarin dan Jogja Percussion Festival berubah nama menjadi Festival Total Perkusi (Festop). Proses kuratorialnya biasanya diputuskan dari hasil rapat bersama dilihat dari tema festival. Seperti contohnya Festival Total Perkusi 2018 di Taman Budaya Yogyakarta. Tema kami waktu itu adalah multiple perkusi. Jadi kami mencari perkusionis yang memang memiliki kemampuan untuk memainkan banyak alat alat perkusi dan juga meminta karya multiple percussion secara khusus ke komponis dan dimainkan oleh perkusionis. Untuk saat ini kami mengundang perkusionis atau kelompok perkusi secara langsung. Rencana kedepannya kita akan membuat “call for participant” selain undangan. Sehingga siapa saja bisa submit.

Total Perkusi banyak melakukan eksperimen atas bunyi mulai dari musik etnik hinggga marching band. Di ajang Salihara International Performing-arts Festival (SIPfest) 2016 di Komunitas Salihara 2016 lalu, kalian menampilkan konser perkusi layaknya sebuah orchestra. Apa yang melatarbelakangi konsep pertunjukan orkestra itu?

Sebenernya itu (konsep) bukan hal baru terutama di Jogjakarta. Kebetulan waktu itu kami diundang untuk mengisi slot di SIPfest 2016. Mereka mengundang Total Perkusi setelah kurator mendengarkan album Save Indonesian Rhythm yang kami produksi. Mereka tertarik untuk mementaskan karya-karya yang ada di album tersebut. Sebagai informasi, sebelum Drums Speak, kami pernah memproduksi album musik perkusi, di mana pada album itu kami mendokumentasi karya dari kelompok atau ensembel perkusi. Kembali ke SIPfest, sebenarnya Total Perkusi hanya mengelola dan memfasilitasi para musisi yang akan tampil. Karena karya-karya yang ditampilkan murni dari hasil kerja mereka.

Mari berbincang tentang konsep digital dan analog. Saat ini membuat komposisi sebuah musik sudah mudah dilakukan apalagi dengan software digital yang bisa menggantikan alat-alat analog termasuk juga perkusi. Apa yang membuat kalian masih ingin memainkan alat musik analog di era yang serba digital ini?

Sampai saat ini kami belum menemukan alasan yang tepat untuk meninggalkan keragaman budaya kayu, logam, kulit dan bambu peninggalan leluhur karena di dalamnya ada sejarah, ada identitas, ada energi, ada gestur dan visual ketika bersentuhan langsung dengan intrumen perkusi akustik atau objek sumber bunyi yang sifatnya perkusif. Instrumen perkusi bisa dimainkan dengan berbagai macam cara; dengan memukul, menampar, menggaruk, menggoyang. Bukan dengan cara menekan tombol lalu instrumen digantikan dengan gerombolan angka 0 dan 1 serta tombol-tombol plastik. Sepertinya jadi hilang esensi perkusi atau unsur perkusifnya. Bukan berarti kami anti dengan digital, tapi menurut kami semua perangkat digital dan software berfungsi untuk melengkapi, membantu dalam mencapai ide musikal yang tidak bisa dicapai oleh instrumen akustik. Perangkat digital dan software untuk memperkaya, dan membantu. Kami menentang konsep menggantikan instrumen dengan sampel atau software. Kalau mau suara sedetail mungkin atau menghadirkan bunyi instrumen semirip mungkin, lebih baik menggunakan instrumen aslinya. Beberapa waktu lalu kami juga membuat perangkat digital sendiri yg kami beri nama Total Modul. Total Modul merupakan perangkat instrumen elektonik dengan protokol MIDI yang dapat digunakan sebagai pemicu file audio sample. Kita bisa menggunakan alat alat atau benda benda di sekitar yang bersifat konduktif. Lebih lanjut bisa dilihat di: https://www.totalperkusi.com/instrumen-perkusi-elektronik-total-modul/.

Lalu seberapa penting faktor teknologi dalam proses berkarya di Total Perkusi?

Teknologi apa nih? Teknologi dalam hal ini sebagai alat bantu dalam proses penciptaan, perekaman dan dokumentasi, penulisan notasi, distribusi, dan promosi itu sangat membantu dan penting.

Total Perkusi sendiri berdiri sejak tahun 2013, dengan banyak talenta-nya yang sudah bergelut di bidang perkusi sebelumnya. Ada saran untuk musisi pemula yang ingin mendalami perkusi?

Mulailah dengan apa yg kalian inginkan. Sekarang banyak kursus musik, sekolah musik, internet, komunitas-komunitas yang didedikasikan bagi pemain perkusi, komunitas perkusi, musik perkusi dan praktek-praktek kultural yang berkenaan dengan perkusi.

Terima kasih atas waktunya. Mungkin bisa kalian promosikan beberapa rencana ke depan dari Total Perkusi.

Proyek ke depan membuat buku seri Total Perkusi jilid 2, membuat kelas perkusi yang saat ini berjalan adalah kelas gamelan untuk pemula, mempersiapkan Festival Total Perkusi tahun ini yang rencananya di bulan Agustus 2019. (*)

Info lebih lanjut mengenai Total Perkusi bisa diakses melalui: www.totalperkusi.com atau bisa berkunjung ke markas-nya di Jalan Bantul No.km 5, Jaranan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55188.

Teks dan wawancara: Indra Menus
Foto oleh: Priyo Penegak Pamor (Foto di badan tulisan), Iksan Bastian (Foto tema)