Selain jadi tempat asal sastrawan paling besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, rasanya tidak banyak yang bisa dijadikan penanda bagi Blora, kota tandus di Jawa Tengah. Musik belum jadi hal yang super penting di sini. Kalaupun ada, didominasi oleh punk, metal dan hardcore.

Ada pemain baru yang patut diantisipasi. Namanya Sunlotus. Mereka baru merilis This Old House, debut EP yang diproduksi oleh Hema Label. Trio yang diperkuat oleh Made Dharma (gitar), DF Ahmad (gitar) dan Wiwit (drum) ini, memainkan musik yang beda dengan tiga genre yang sudah disebut duluan tadi.

Mereka merepresentasikan scene musik yang baru bergairah dan cenderung berkategori ranum. “Scene musik di Blora baru mulai getol muncul ke permukaan sekitar medio 2012 yang dimulai dari skena Metal dan Hardcore. Sepenglihatan saya saat ini, scene musik di Blora hanya didominasi oleh skena Metal dan Hardcore saja,” cerita Made Dharma.

Dari sisi fasilitas, Blora tidak spesial. Ia ada di deretan kota yang tidak menganggap penting keberadaan musik. Plus, bisa jadi, arah kehidupannya memang belum menuju ke sana. Tidak ada venue yang spesifik mewadahi musik, juga tidak ada cafe atau bar yang bisa memfasilitasi kebutuhan musik. Orang musik di Blora biasanya menyewa gedung olah raga atau gedung serba guna untuk menyelenggarakan pertunjukan.

Absennya genre musik lain di luar yang disebut di atas juga merupakan alasan Made untuk membentuk Sunlotus dan memainkan genre yang berbeda. “Saya kira kami satu-satunya band shoegaze di seputaran area sekitar Blora, seperti Pati, Kudus, Rembang, Grobogan, dll,” tuturnya.

Shoegaze adalah musik yang sebenarnya sederhana namun juga kompleks di saat bersamaan. Shoegaze memiliki estetika yang spesifik. “Dalam pengalaman saya, musik seperti ini dapat menghanyutkan dan membawa suatu perasaan nostalgia akan sesuatu. Baik suatu masa, tempat ataupun seseorang. Dan meskipun saat ini shoegaze sedang mengalami masa come back, saya kira shoegaze tetap akan menjadi musik yang asing untuk kebanyakan orang pada umumnya,” jelas Made lagi.

Sebelum kembali ke Blora, Made aktif di scene musik Jogjakarta. Ia bermain di beberapa band sekaligus, semisal Deadly Weapon, LKTDOV dan Warmouth.

Ketika pertama kali membentuk Sunlotus, hanya Made dan Wiwit Nugroho (drum) yang tinggal di Blora, DF Ahmad (gitar) sedang tinggal di Semarang untuk sekolah, namun hampir setiap akhir pekan pulang ke Blora.

DF Ahmad juga yang pertama mengenalkan dan mengajak Wiwit untuk mengisi drum untuk proyek ini. Di kebanyakan sesi hanya Made dan Wiwit yang bereksperimen di dalam studio. Saat rencana besar lagu sudah selesai, DF Ahmad baru ikut ketika bisa pulang Blora dan menyesuaikan diri dengan alur lagu yang sudah dikerjakan sebelumnya.

Ketika proses penulisan album sudah 75%, Wiwit mendapatkan panggilan kerja di Gresik. Awas dengan sinyal seperti itu, mau tidak mau mereka harus lebih berpikir keras untuk segera menyelesaikan penulisan album ini. Sunlotus menyelesaikan dua lagu terakhir dalam kurun waktu dua sesi latihan sebelum Wiwit cabut ke Gresik.

Made bertanggung jawab untuk pengerjaan This Old House. “Album ini saya produseri sendiri dengan mengajak Yudha Bable (Metallic Ass, Risky Summerbee And The Honeythief) untuk membantu tata suara. Albumnya direkam di Watchtower Studio di Bantul, Yogyakarta,” ceritanya. Album ini sendiri kelar direkam dalam empat bulan.

Sunlotus mengaku dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Ketika Made pertama kali memikirkan konsep band ini, dirinya mengaku terinspirasi oleh iklim di kota ini. Dalam hal ini, Blora yang tandus.

Blora adalah kota dengan hutan jati terbesar di Indonesia, tapi tanahnya sangat kering dan tandus di banyak wilayahnya. Hal ini disebabkan letak Blora yang berada di pegunungan kapur yang membentang sampai ke Pati.

Dengan memvisualkan hal-hal tersebut mereka mencoba berpikir bagaimana sound yang dikeluarkan dapat mempresentasikan kegersangan tersebut.

“Semacam kondisi synesthesia, dengan mendengarkan sound kami orang dapat memvisualkan atau merasakan kegersangan tersebut. Saya pikir terlalu banyak band atau pendengar Shoegaze yang mencoba memvisualkan musik mereka sebagai deru ombak yang saling bertabrakan, kami ingin mengambil jalan yang berbeda,” papar Made tentang bagaimana musik Sunlotus dirancang.

Sunlotus menggunakan banyak kombinasi ampli gitar di sesi rekaman dengan volume yang tinggi. “Kenapa volume gitar perlu setinggi itu, karena kami menginginkan sebuah sonic experience tertentu kepada para pendengarnya,” jelasnya.

Sound gitar di jenis musik seperti ini sebenarnya sudah bukan suara yang konvensional lagi. Banyak sekali modifikasi suara di dalamnya; modulasi, reverb, delay, fuzz, dll. Untuk mendapatkan sebuah pengalaman mendengarkan yang berbeda dari musik pada umumnya diperlukan volume tertentu untuk menangkap tekstur dari suara-suara itu.

Selain merekam semua instrumen dengan tuning 432Hz, Sunlotus juga bereksperimen dengan suara-suara ambience untuk membangun tensi, sampling audio juga field recording dalam merekam lagunya.

“Kondisi geografi Blora dengan sound yang dibawa oleh musik shoegaze menurut saya sinkron. Ketika mencari sound ini saya sedang memvisualkan kondisi geografi Blora yang kering tapi juga padat oleh hutan jati, jadi kami mencoba memulai eksperimen dengan patokan visual tersebut,” tambahnya.

Menariknya, sampai hari ini, Sunlotus belum pernah melakukan pertunjukan live. Cara mereka bertemu dengan Hema Label, yang merilis album This Old House, juga unik. Made dan Bagus Purwoko, pemilik label Hema Label, sendiri sudah saling kenal sejak bertahun-tahun lalu. Kalau Made ada jadwal pergi ke Solo biasanya mereka saling bertemu dan begitu juga kalau Bagus pergi ke Jogjakarta.

Nah, dengan dasar hubungan emosional yang sudah kadung ada, ketika Made baru memvisualisasikan dan merencanakan band ini, dia pun mulai bercerita dan mengobrol dengan Bagus. Dengan mengenal latar belakang label dan musik-musik kurasinya, plus tujuan label yang ingin mengangkat band dan musik dari daerah-daerah yang notabene dipandang sebelah mata, atau berasal dari wilayah yang di mana pergerakan musiknya belum dicap dewasa.

Sebelum memulai band ini, mereka berdua sempat brainstorming bersama tentang pandangan dan visi tentang Sunlotus. Begitu juga dengan Bagus, bagaimana band ini bisa masuk berdasarkan konsep yang diusung oleh label serta usulannya untuk membantu mengarahkan band ini secara visual sebagai seorang art director. Dan, terjadilah This Old House.

Seperti kebanyakan band pada umumnya pasca perilisan album, Sunlotus juga merencanakan tur.

“Kami sudah sempat membahas ini bersama usai menyelesaikan rekaman. Kami sadar tinggal di tiga kota yang berbeda memang sangat sulit untuk merealisasikan hal ini. Jadi bagaimana nanti ke depannya, sambil kita lihat, sambil kita cari celahnya. Ke depan juga label akan merilis versi kaset dengan bonus satu lagu ekslusif yang tidak ada di format CD dan digital,” tutup Made.

Album This Old House milik Sunlotus sudah bisa di streaming melalui kanal digital. Sementara format CD bisa dipesan melalui Hema Label. (*)

Teks: Indra Menus
Foto band: Journal of Karsa/ Cover album: Hema Label