Cerita Berikutnya dari Settle

Datang dari Bali, Settle hadir dengan keunikannya dalam mengemas materi. Sebuah cerita besar yang diciptakan lalu diperkenalkan melalui potongan-potongan cerita yang  tersusun secara acak dalam EP perdana mereka, “Unpleasant Feelings” –Chapter 2, Chapter 7, Chapter 3, Chapter 6, dan Chapter 5. Usai bercerita tentang kekhawatiran dan perasaan cemas melalui 5 nomor dalam EP “Unpleasant Feeling”, unit yang memproklamirkan diri sebagai band alternative/emo ini kembali memperkenalkan materinya yang terbaru, diberi tajuk Chapter 8: ‘Eighteen-hundred Days’ materi ini merupakan narasi baru dari cerita besar yang dipersiapkan sejak awal terbentuk pada 2016 lalu.

Lagu tunggal teranyarnya ini masih dilingkupi dengan segudang misteri yang belum sepenuhnya terungkap. Menurut Settle, Chapter 8 dirilis sebagai pelengkap dari pasal-pasal terdahulu. Masih seputar hubungan antara Ileana (Chapter 2) dan pria pelaku utama yang hingga kini masih dirahasiakan identitasnya hingga mini album kedua rilis. Lewat karyanya ini Settle hendak  mengungkapkan kegelisahan Ileana tentang kesendirian, pemaknaan eksistensi diri, hingga penantian akan kembalinya pria pelaku utama sejak berpisah selama 1800 hari.

Pada saat penggubahan lagu, peran Eka Cipta pada gitar digantikan oleh Bayu Kribz, melanjutkan perjalanan bersama 4 personil lain: Indra Purnama (vokal), Yudi Septyan (bass), Agung Pranata (gitar), dan Gungde Yudistira (drum). Single terbarunya ini pula sekaligus menjadi tanda pembuka kerjasama Settle bersama Native Vision Records, label independen yang bermarkas di kota Depok. Dikabarkan, Bersama Native Vision Records, Settle juga bakal segera merilis mini album terbaru bertajuk “Unpleasant Feelings: Chapter Two”.

Di wilayah proses, penggarapan Chapter 8 dilakukan di dua studio rekaman berbeda, yakni Pizza Record dan di Rock the Beat Music, Denpasar. Sedangkan untuk mixing dan mastering dilakukan di Bandung oleh Yoni Gayot di Brokenboard Studio. Untuk wilayah visual sendiri Adi Dharma dan Dion Clarensa dipercaya untuk menggarap foto band dan sampul album.

Diceritakan oleh Settle melalui rilisan pers yang kami terima. Pergulatan skena musik emo bawah tanah Bali memang terlihat remang, dalam maksud sulit untuk melihatnya dengan mata telanjang kecuali jika kita memang menginginkan melihatnya. Ketika kita mampu melihatnya, maka perlahan kejutan akan berdatangan. Dalam skena musik yang remang itu ternyata penuh warna oleh beragam letup dan kejut para musisinya. Yang sering kali dikerdilkan bagi mereka yang malas melihat. Bukan soal besar, karena pasti semuanya kembali ke selera masing-masing. Tapi bagi kalian yang mau melihat dalam remang, akan menemukan hal ini. Termasuk menemukan Settle dengan segala ceritanya.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Settle

Fragmen Keinginan sheisjo di Nomor "OOE"

Solis asal Jakarta Chika Putri Bagaskara dengan moniker sheisjo telah melepas materi lagu berikutnya yang bertajuk “OOE” (15/08). Sedikit berbeda dari tiga single sebelumnya yang memiliki sound acoustic, “OOE” diracik...

Keep Reading

Inspirasi Film di Materi Teranyar Eastcape

Tahun 2021 lalu menjadi tahun yang bisa dibilang ‘manis’ bagi Eastcape karena di tahun tersebut mereka resmi memperkenalkan dirinya di kancah industri musik dengan menelurkan sebuah single dan Split EP...

Keep Reading

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading