Catatan Tur Stand A Chance Oleh Aldy Murphy Radio

Tidak ada kegiatan promosi yang lebih menyenangkan bagi pelaku seni selain melakukan tur. Mengapa tidak, lewat sebuah tur kita bisa jalan-jalan sembari memperkenalkan karya ke khalayak yang lebih luas. Lewat tur, kita bisa bertemu langsung dengan penikmat dan pencipta karya seni. Selain itu kita juga dapat merasakan pengalaman yang mungkin tidak didapatkan di tempat asal, seperti mencoba jajanan khas lokal, atau melihat monumen sejarah.

Begitulah sekiranya yang dirasakan oleh saya dan Murphy Radio (Samarinda), The Panturas (Bandung), dan Dhellet (Depok) saat kami menjadi bagian dari rombongan Stand A Chance (SAC) Tour leg Sumatra oleh Siasat Partikelir beberapa waktu yang lalu.

Banyak pengalaman menarik, yang paling utama tentu saja saat “berjejaring” dan mengenal orang-orang baru. Lewat kerjasama Siasat Partikelir bersama sejumlah pelaku kesenian di kota-kota yang dikunjungi, rombongan SAC Tour berkesempatan untuk menjalin silaturahmi secara personal dengan para penggiat seni. Contohnya di medan, lewat AFRONT (kolektif asal Medan) rombongan SAC Tour dapat bertemu dengan band unik seperti Psychotic Villager dan melakukan wawancara via podcast bersama OY-OY Radio. Begitu pula di kota-kota selanjutnya. Di Padang romobongan dapat berjejaring lewat 3AM Studio X 1000 Sumbart, PARK Space di Jambi, ASSICK di Palembang, dan Wanowan Space di Lampung.

Yang paling berkesan tentu saja rute perjalanan darat yang harus ditempuh dari satu kota ke kota lainnya. Contohnya Medan – Padang. Perjalanan memakan waktu kurang lebih dua puluh tujuh jam. Berangkat dari Medan kurang lebih pukul sembilan pagi, melewati Danau Toba dan jalur Padang Sidempuan. Kami berhenti di dua titik yaitu saat memasuki Danau Toba untuk makan siang dan berfoto, lalu pada pukul dua dini hari di sebuah penginapan daerah Padang Sidempuan. Rombongan akhirnya benar-benar sampai di Padang keesokan harinya kurang lebih pukul satu siang.

Pengalaman seru dalam rute panjang ini juga terjadi saat rombongan SAC berada di pertengahan jalan menuju Lampung. Sebelumnya perjalanan menuju Lampung memang direncanakan untuk dimulai sedini mungkin untuk menghindari aksi begal. Namun alih-alih begal, rombongan justru ditilang oleh polisi setempat untuk alasan yang tidak jelas. Memang cukup melelahkan, tapi justru inilah yang menjadi memori paling menyenangkan yang dapat kamu bagikan ke teman-teman di rumah.

Selain pemandangan alam, penat selama diperjalanan juga berkurang berkat semakin cairnya suasana antar rombongan. Kegiatan berbobot dan remeh pun dilakukan, mulai dari membahas caleg cantik, respon makanan dan minuman lokal, hingga kolaborasi lewat lagu di kota terakhir, Bandar Lampung. Salah satu kolaborasi yang kami pikir hanya akan menjadi wacana, ternyata benar-benar terjadi walaupun tidak persis seperti aslinya, namun tetap tidak menghalangi audience untuk stage dive dan teriak histeris. Ya, mungkin ini juga yang menjadi alasan kenapa kami harus berada dalam satu mobil yang sama selama sembilan hari. Agar terciptanya kedekatan yang organik. Terlebih kami bertiga secara kebetulan berada dalam fase yang sama, memperkenalkan diri. Bukankah kolaborasi itu simbiosis mutualisme?

SAC tour tidak hanya berbicara tentang seni, tetapi juga ekosistem yang mendukungnya. Di setiap venue selalu terdapat marketplace yang berisi barang jualan pelaku industri kreatif termasuk merchandise band lokal. Selain itu SAC tour juga menjadi sarana edukasi berkat sharing session yang diselipkan di setiap rundown. Event juga selalu berbentuk ticketingsebagai usaha untuk mengajarkan penonton tentang arti penting apresiasi dalam setiap karya seni.

Sebuah tur tidak akan lengkap tanpa adanya gangguan. Ada kondisi cuaca yang mengharuskan Murphy Radio memainkan tidak lebih dari tiga lagu, dan The Panturas yang harus tampil dengan set akustik saat berada di Palembang.

“ Tapi menurut gue itu pengalaman yang seru sih, karena pengalaman pertama bagi kami untuk tampil dengan set akustik, dan yang kedua walaupun main dengan set akustik ternyata masih banyak yang nungguin dan hafal lagu kita, yang pasti malem itu hangat banget sih,” tutur Bagus a.k.a Gogon dari The Panturas. Ya begitulah apapun yang terjadi dalam sebuah tur, baik maupun buruk pasti terdapat hikmah menyenangkan dibaliknya.

Secara keseluruhan SAC Tour menjadi pengalaman paling menyenangkan bagi kami, karena dalam tur ini kita berhasil berjejaring, merasakan kearifan lokal, berbagi pengalaman, dan belajar lewat sesama seniman.

Perjalanan tur kemarin merupakan bagian dari program Siasat Trafficking yang digagas bersama Go Ahead Challenge. Rewardnya, ya tentu jalan-jalan sekaligus tampil di luar negeri maupun di dalam negeri. Siasat Trafficking sendiri sudah berjalan selama dua tahun, banyak nama yang berhasil menjadi delegasi. Tahun ini kami kembali, kesempatan besar terbuka bagi siapa saja. Korea Selatan menjadi destinasi selanjutnya, datang mengunjungi Zandari Festa dan juga tampil di beberapa titik di negara ginseng ini. Selain Korea Selatan, kesempatan untuk tur berkeliling Indonesia juga terbuka, mari bersama kenalkan karya kalian secara luas. (*)

Teks: Aldy Yamin
Foto: Arsip Siasat Partikelir

Endgrave Merilis Ode Bagi Jiwa Yang Tidak Pernah Tenang

Endgrave adalah band yang terbentuk pada pertengahan 2022. Semua bermula saat Singgi dan Petra meramu musik dengan mengemas riff-riff gitar yang terbilang tidak biasa. Beragam karakter mulai dari Hardcore, Deathcore,...

Keep Reading

Single Dan Formasi Terbaru Pillhs Castle

Mengubah formasi dari duo menjadi kuintet, dan sebelumnya telah merilis single ‘Moment’, Pillhs Castle yang diisi oleh Nando Septian (vokal), Torkis Waladan Lubis (gitar), Tama Ilyas (gitar), Willy Akbar (bass),...

Keep Reading

Debut Album Resign Leader

Dari Makassar, unit punk rock Resign Leader belum lama ini merilis debut album ‘Sniffing Tears For The Other Bills’. Album yang digarap cukup panjang dan serius ini berisi 12 nomor...

Keep Reading

Single Teranyar eleventwelfth Yang Menuju Album Terbaru

eleventwelfth hanya membutuhkan satu bulan untuk merilis single terbaru yang diberi tajuk “every question i withhold, every answer you never told” setelah sebelumnya melepas “(stay here) for a while” dari...

Keep Reading