Perayaan Synchronize Festival selesai digelar pada tanggal 5,6,7 Oktober 2018 di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat. Festival musik tahunan ini sudah menginjak tahun ketiga. Tahun ini, 118 band/ penyanyi solo tercatat di dalam daftar pengisi acara. Area Gambir Expo disulap menjadi kota kecil. Di dalamnya pengunjung dimanjakan dengan berbagi booth yang punya banyak fungsi; mulai jualan merchandise band-band yang main, jajan kuliner, ruangan nonton film, perniagaan pendukung model rekaman dan lapak seniman serta minuman favorit Indonesia, Anggur Merah.

Tahun ini, selain lima buah panggung yang telah digelar sejak penyelenggaran pertama, Synchronize Festival menambah satu panggung baru bernama XYZ Stage. Ia melengkapi lima panggung lainnya yang dipertahankan; Forest Stage, Gigs Stage, District Stage, Lake Stage dan Dynamic Stage.

Festival ini jadi salah satu tolok ukur bahwa musik adalah alat pemersatu bangsa. Anak-anak muda seperti melepaskan gairah atas permasalahan hidup yang melanda di ruang personal. Semua urusan ditinggal di rumah, seolah ada gelas kosong yang dibawa dan siap diisi kesenangan di festival ini.

Highlight pertama di hari pertama datang menjelang magrib. Danilla, Rara Sekar dan Sandrayati Fay yang tergabung dalam DARAMUDA project berhasil menghipnotis para penonton yang hadir di XYZ Stage. Ini adalah panggung ke dua mereka setelah Folk Music Festival beberapa waktu yang lalu.

Sehabis magrib, Jiung Band berhasil menghibur para penonton dengan atraksi panggungnya. Band asal Jakarta ini, seperti biasa, berhasil membuat penonton tertawa karena aksi panggung mereka. Nuansa budaya Betawi yang kental, jadi katalis untuk menghibur. Jiung berhasil membawa musik mereka yang bernuansa acara 17an ke panggung semegah dan semeriah Synchronize Festival.
Koil, Sore, The Upstairs, Endank Soekamti, Barasuara, Vira Talisa, Pure Saturday, Maliq & D’Essentials, Mesin Tempur, Mooner dan beberapa nama lainnya membuat seluruh panggung bergemuruh karena penampilan mereka di hari pertama.

Pada hari kedua, suasana semakin padat meriah dengan hadirnya dua legenda musik tanah air, Godbless dan Rhoma Irama. Dua nama legenda ini juga jadi ajang pembuktian bahwa Synchronize Festival berhasil mempersatukan semua jenis aliran musik dan lintas usia. Selain itu, nama-nama seperti Jason Ranti, Sisitipsi, Kunto Aji, Zat Kimia, Westjamnation, Pijar dan banyak lainnya, juga main di hari ini. Highlight terbaik adalah Rhoma Irama dan Soneta di Dynamic Stage. Siapapun sulit untuk mengendalikan hasrat untuk berjoget. Kalau dengar Rhoma bernyanyi, badanmu otomatis akan bergoyang juga, bukan?

Di hari terakhir pengunjung terlihat sama membludaknya. Nonaria dan Logic Lost membuka hari terakhir dengan riang disusul Endah N Rhesa Extended. Menjelang sore Candra Darusman and Friend memukau penikmat musik yang hadir. Sore di hari ketiga ditutup dengan menggairahkah oleh, Nasida Ria, yang sayangnya tidak bermain panjang.

Gelaran berlanjut sampai malam. Penonton dalam kebahagiaan bernyanyi bersama. Jamrud sukses menyatukan nyanyian para penonton dengan musik mereka mainkan. Begitupula Padi yang menawarkan suasana nostalgia. Fstvlst, SID dan The Adams mengajak penonton meggoyangkan badan. Tidak hanya penonton, banyak pula musisi yang bertemu langsung dengan pendengarnya di lantai dansa. Dewa 19 feat Ari Lasso dan Once Mekel menutup Synchorize dengan lagu-lagu cinta mereka. “Ahmad Dhani gak usah jadi politikus, reunian Dewa aja terus,” teriak salah satu penonton di sekitar. Sementara, di panggung sebelah, Diskopantera menutup Synchronize Festival dengan mengajak penonton berdisko di District Stage.

Synchronize Bukan Sekedar Festival Musik
Penyelenggara terus menerus mengkampanyekan slogan “This is not just a festival, it’s a movement”. David Karto selaku penggagas sekaligus Festival Director Synchronize Festival membenarkan hal tersebut. “Gue happy karena bisa bertemu teman-teman dan keluarga baru di Synchronize Festival. Dari masing-masing band, mereka mempunyai massa, punya fanbase, gerakan yang ingin kita tuju adalah untuk memperkuat fondasi, infrastuktur musik Indonesia,” ujar David Karto. “Dalam kehidupan berbangsa, kita sudah berbeda satu sama lain, gerakan inilah yang ingin kita tularkan dan adopsi dalam musik.”

Tahun ini, Synchronize Festival sudah selesai, euforia sudah berlalu. Pertanyaan selanjutnya apakah yang bisa menjadi faktor pembeda Synchonize Festival di tahun depan? Haruskah melebarkan sayap ke kota-kota lain? Atau bagaimana? Kita tunggu saja dan sampai berjumpa di Synchronize Festival 2019. (*)

Teks: Rio Jo Werry
Foto: longwaytonowhere