Cara Unik Rock Saws Abadikan Warisan Nirvana

Untuk pertama kalinya, sampul depan Nevermind dan In Utero alias dua album klasik yang membawa nama grup musik legendaris asal Wahington, Amerika serikat, Nirvana, dikenal penikmat musik dunia akan dikonversi menjadi mainan puzzle. Meski tanggal resmi perilisannya 4 September mendatang, tapi dua mainan menyusun gambar berteka-teki yang dibuat produsen Rock Saws Zee Production itu saat ini sudah bisa dipesan dengan skema pre-order di webnya. Rencananya, industri pembuat mainan asal Inggris itu akan memproduksinya sebanyak 500 buah untuk In Utero dan 1000 potong untuk Nevermind, di mana masing-masingnya berukuran 390 x 390 mm. Adapun harga per puzzlenya adalah 17.99 poundsterling atau setara sekitar Rp 349 ribu. Sedangkan di bulan berikutnya, 10 Oktober, sampul depan beberapa album milik Nirvana lainnya seperti Incesticide, MTV Unplugged in New York, From the Muddy Banks of the Wishkah akan dirilis pula. “Puzzle bergambar sampul dari sejumlah album Nirvana ini adalah cara unik kami untuk mengabadikan warisan-warisan band yang dibentuk 1987 itu,” kata pihak Rock Saws seperti dikutip dari situs mereka.

Desain sampul In Utero dan Nevermind sendiri dibuat oleh Robert Fisher, seorang direktur seni dan direktur kreatif di Flying Fish Studio, sebuah agen yang bergerak di bidang desain kreatif yang berkantor di Los Angles. Dalam pengerjaannya, saat itu ia ditunjuk dan mendapat intruksi langsung dari sang vokalis, Kurt Cobain. Pada sampul album yang disebut pertama, Fisher membuatkan desain tubuh maneken yang transparan dan bersayap malaikat. Sementara untuk Nevermind, Fisher mendesain sampulnya dengan gambar balita telanjang yang tengah berenang menuju uang kertas dolar AS. Sampai sekarang, desain dua sampul album hasil kaya Fisher untuk band beraliran grunge itu menjadi salah satu gambar paling ikonik di antara sekian sampul album musik rock dunia.

Sejak didirikan pada awal 2019 lalu, Rock Saws tak cuma mengeluarkan puzzle seri Nirvana. Setidaknya, sampai saat ini mereka telah menciptakan puzzle yang terinspirasi sampul album dari berbagai band ternama dunia, mulai dari Iron Maiden dan Motorhead hingga Metallica, Rush, Queen, dan Guns N ‘Roses. Bulan lalu saja bahkan mereka memproduksi puzzle untuk delapan album milik grup musik hard rock berkebangsaan Australia AC/DC, dan perilisannya akan jatuh bersamaan dengan puzzle untuk Nirvana pada bulan September mendatang. Belum lama ini mereka juga mengeluarkan puzzle terbaru untuk David Bowie, Alice Cooper, dan Def Leppard.

Puzzle Rock Saws Nirvana Nevermind

Sementara itu, menurut sejumlah sumber, Nevermind merupakan album studio kedua yang dibuat Nirvana, dan dirilis pada 24 September 1991 oleh DGC Records. Album ini juga menjadi rilisan pertama Nirvana di bawah label DGC Records, di mana perusahaan rekaman yang didirikan pada 1990 dan dibentuk oleh pebisnis asal Amerika Serikat David Lawrence Geffen bersama dengan industri musik global Universal Music Group itu ialah pionir yang mendukung lahirnya genre alternatif rock di dunia. Di sisi lain, pada waktu keluarnya Nevermind jugalah penabuh drum mereka Dave Grohl pertama kali tampil, usai sebelumnya Nirvana hanya digawangi Cobain dan Krist Anthony Novoselic sebagai pembetot bassnya.

Diproduseri oleh musisi dan penulis lagu Bryan David “Butch” Vig, Nevermind laku keras di pasaran di tahun pertama rilisnya ketika itu. Pada puncaknya, album ini terjual sekitar 300.000 kopi dalam seminggu di sekitar Januari 1992. Pada bulan Maret 1999, kelarisannya itu hingga mendapat piagam ‘diamond’ dari the Recording Industry Association of America (RIAA), dan karenanya sampai-sampai sang produser dijuluki “the Nevermind Man”. Hingga kini, kira-kira Nevermind telah terjual lebih dari 30 juta kopi di seluruh dunia, menjadikannya salah satu album terlaris sepanjang masa, serta membawanya masuk di antara album paling terkenal dalam sejarah musik. Kesuksesan album ini di pasar musik ikut mendorong grunge dan rock alternatif lainnya ke audiens arus utama dan mengakhiri dominasi genre hair metal.  

Adapun dari lima lagu yang ditulis di album ini, di antaranya Cobain terilhami oleh band-band macam the Melvins, R.E.M., the Smithereens, dan the Pixies. Dari sini, Cobain berani mencoba hal baru dengan berhasil mengombinasikan chord pop dan riff gitar yang sejatinya tak seirama. Menurut Cobain, hal itu ia lakukan agar albumnya terdengar seperti The Knack dan the Bay City Rollers yang mana lagu-lagu dua band itu sering dilecehkan Black Flag dan Black Sabbath. Di album berikutnya, In Utero, ialah album studio ketiga sekaligus jadi yang terakhir bagi Nirvana, yang dirilis pada 21 September 1993 di bawah label yang sama dengan Nevermind. 

Puzzle Rock Saws Nirvana In Utero

Gaya bermusik Nirvana pada lagu-lagu In Utero sama sekali berbeda dengan Nevermind. Pada awal tahun 1992, dalam satu kesempatan Cobain mengatakan bahwa In Utero akan menampilkan dua sisi ekstrem dari suaranya. “Album ini akan lebih liar di beberapa lagu dan lebih banyak nada pop yang manis pada beberapa lagu lainnya. Tidak akan menjadi satu dimensi sebagaimana Nevermind,” kata dia yang dikutip sejumlah media saat perilisannya itu. Untuk mendapatkan rekaman suara yang lebih alami, Nirvana menggandeng seorang musisi rock yang juga engineer Steve Albini. Untuk merekam In Utero yang dikehendaki Cobain, Albini menghabiskan waktu dua minggu pada Februari 1993 di Pachyderm Studio di Cannon Falls, Minnesota. 

Lirik dan kemasan albumnya sendiri sebagian besar menyampaikan pandangan Cobain tentang kehidupan pribadi dan saat ia bersama bandnya. Segera setelah rekaman selesai, rumor beredar di media bahwa DGC mungkin tidak akan merilis In Utero dalam keadaan aslinya, karena label rekaman itu merasa bahwa hasilnya tidak layak secara komersial. Meskipun Nirvana secara terbuka membantah pernyataan tersebut, tapi kenyataannya mereka setuju untuk membuat remix di sebagian albumnya. Ketika Albini menolak untuk mengubah lebih jauh album yang ia bantu pembuatannya itu, Nirvana beralih menyewa produser rekaman yang pernah bekerja untuk band rock R.E.M., yakni Scott Litt. Demi memenuhi tuntutan, Scott lantas membuat perubahan kecil dan meremix single “Heart-Shaped Box” dan “All Apologies”.

Setelah dirilis, album ini mendapat banyak pujian karena berhasil menjadi pembeda dari album terdahulunya Nevermind dan disebut sebagai salah satu album terbesar sepanjang masa. “Heart-Shaped Box” dan “All Apologies” yang telah diremix itu bahkan memuncaki nomor urut paling wahid di tangga lagu Billboard Alternative Songs di masanya. Saking terpukaunya atas kesuksesan dan keberanian Nirvana memasukkan unsur pop pada In Utero, jurnalis musik majalah Time Christopher John Farley saat itu menulis, meskipun ada ketakutan dari beberapa penggemar musik alternatif, di album ini Nirvana belum menjadi bagian band musik arus utama. “Walaupun In Utero sangat memungkinkan sekali memaksa pecinta musik arus utama untuk mendengarkan Nirvana,” tambah Farley dalam reviewnya berjudul To The End Of Grunge di majalah Time yang dipublish hingga dua kali, yakni pada 20 September 1993 dan 23 Agustus 2010.

Teks: Emha Asror
Visual: Arsip Zeeproductions

Sebuah Pertanyaan Residensi, Mengapa Jalan-jalan untuk Seniman itu Penting?

Seperti apa sebenarnya peran residensi seni, dan bagaimana dampak sebuah kunjungan sementara terhadap proses kreatif seniman? Karena makin ke sini istilah residensi jadi template untuk sekadar program plesir yang dilakukan...

Keep Reading

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Tahun ini, Synchronize Fest Balik Lagi Secara Luring!

Penantian panjang akhirnya terjawab sudah! Synchronize Fest memastikan diri akan digelar secara offline pada 7, 8 , 9 Oktober 2022 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Mengusung tema “Lokal Lebih Vokal”,...

Keep Reading

Mocca Gelar Konser di Metaverse

Di ranah musik, kini istilah blockchain bukan lagi suatu hal yang asing. Sebelumnya, penjualan karya lewat NFT sudah banyak dilakukan oleh musisi, kini konser musik di metaverse pun menjadi salah...

Keep Reading