Cara Senyawa Menandai Dasawarsa Pertama

Dalam sebuah dokumenter arahan Vincent Moon berjudul Calling the New Gods (2012), dua sosok yang tergabung dalam grup musik eksperimental bernama Senyawa, Rully Shabara dan Wukir Suryadi, melakukan serangkaian pertunjukan di beberapa lokasi di Yogyakarta. Di pinggir jalan kecil pesawahan, pintu rel kereta api, di sore hari menjelang pasar malam, hingga Alun-alun Kidul Yogyakarta, kedua musisi sesekali terlihat berjalan sambil menyeret perlengkapan musiknya dari satu tempat ke tempat lain. Delapan tahun pasca dokumenter singkat tersebut, atau satu dasawarsa usia Senyawa (pertama kali dibentuk pada tahun 2010), Rully dan Wukir memutuskan untuk merayakan perjalanan karier mereka di tiga tempat: Jakarta, Bandung, dan Majalengka.

Secara berturut-turut pada tanggal 17 (Aula Gudskul, Gudskul Ekosistem, Jakarta Selatan), 18 (Bale Handap, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung), dan 19 (Jebor Hall, Jatiwangi Art Factory, Jatiwangi) Januari 2020, menandai sebuah pencapaian bertajuk Senyawa: Dasawarsa Pertama. Dalam perhelatan kedua di Bale Handap, Selasar Sunaryo Art Space, perayaan sepuluh tahun pertama Senyawa dibuka oleh sebuah kolektif performans/eksperimental asal Bandung: A Stone A. Tidak hanya perihal usia perjalanan karier yang lebih panjang (pertama kali dibentuk pada tahun 2003 oleh almarhum Andry Moch.), malam itu A Stone A juga tampil dengan set panggung yang nampak lebih ramai apabila dibandingkan dengan sang penampil utama.

Mufti Priyanka (atau populer dengan nama Amenkcoy) melakukan performans serupa live-drawing (yang diamplifikasi) di atas kanvas dan kemudian berpindah membacakan novel erotik sambil diselimuti kain bak jubah misterius. M. Akbar duduk di bagian belakang menghadap laptop seolah memantau dan mengontrol pertunjukan sekaligus menampilkan visualisasi A Stone A. Erwin Windu Pranata tampil memegang alat petik found object serupa gitar (yang sekilas nampak mengapropriasi Garu-nya Wukir Suryadi), dan kemudian beberapa kali berpindah, mulai dari live-typing puisi tentang sembelit, hingga dengan piawai duduk memainkan drum elektrik. Ketiga personil A Stone A sukses memanaskan panggung dengan bentuk-bentuk eksperimentasi rupa-bunyi-noise-musik-sastra-teater. Sebuah pertunjukan yang gegap gempita.

Sekitar pukul 20.40 WIB, selepas pertunjukan A Stone A, yang dinantikan akhirnya muncul. Senyawa merayakan usia sepuluh tahunnya dengan juga menampilkan nomor-nomor dari rilisannya yang termutakhir: sebuah rekaman berisi delapan lagu bertajuk Rehearsal Session 06/11/2019. Nomor-nomor terbaru seperti Air dan Kap Tanoh melengkapi setlist Senyawa yang tampil selama lebih dari satu jam. Area Bale Handap, Selasar Sunaryo Art Space, dipenuhi oleh penonton yang tidak hanya duduk ataupun berdiri mengelilingi panggung, tetapi juga berteriak dan bertepuk tangan di sepanjang pertunjukan Senyawa malam itu. Antusiasme yang sangat besar nampaknya bukan sesuatu yang mengherankan mengingat Senyawa jarang sekali tampil di Bandung. Di tengah-tengah pertunjukan, Rully mengungkapkan bahwa malam itu adalah kali pertama mereka tampil di Bandung (meskipun sebenarnya mereka juga pernah tampil di Braga Festival 2013).

Senyawa adalah sebuah grup musik yang cukup sering disalahartikan sebagai duo musisi yang mengolah musik tradisi. Pemahaman tersebut bisa jadi muncul dari kombinasi nuansa bebunyian yang dihasilkan Wukir Suryadi melalui instrumen-instrumen buatannya (yang kebanyakan berbahan dasar bambu) dan juga olah vokal ritualistik dan pilihan kata-kata dalam lirik Rully Shabara yang memanfaatkan ragam bahasa tanah air. Terlepas dari material instrumentasi serta olahan bahasa yang ‘khas Indonesia,’ musik Senyawa merupakan sebuah bentuk eksperimen yang seharusnya diterima sebagai upaya melahirkan dobrakan-dobrakan musik Indonesia. Bukan sekadar menampilkan eksotisme musik tradisi. Amplifikasi senar dan bambu/kayu Wukir yang melewati teknologi pengolah sinyal (efek-efek stompbox) berkali-kali memunculkan suasana pilu, mencekam, sekaligus transendental. Sementara tarian serta gesture tegap menatap (sesekali melotot) Rully mampu memperkaya intensitas bisikan, teriakan, hingga gumaman lirik-liriknya yang sekilas terdengar dekat bagi telinga orang Indonesia, tetapi juga terasa misterius dan asing. Keduanya seolah benar-benar mengamalkan dan mengamini istilah senyawa yang memang bermakna gabungan dua unsur atau lebih dalam pemahaman keilmuan kimia. Sebuah kombinasi unsur-unsur bunyi dan kata yang menghasilkan musik Senyawa.

Sebelum memberikan encore, pertunjukan Senyawa di Bale Handap ditutup dengan sedikit sambutan dari salah satu dewan kurator Selasar Sunaryo Art Space sekaligus Guru Besar Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Prof. Bambang Sugiharto. Beliau menyebut eksplorasi musikal Senyawa telah melampaui batas-batas yang membuat mereka pantas disebut sebagai jenius. Kombinasi pertunjukan A Stone A dan Senyawa malam itu setidaknya telah berhasil menunjukkan potensi-potensi garda depan musik Indonesia. Prestasi Senyawa dalam kurun waktu 10 tahun (dan A Stone A, 17 tahun) diharapkan dapat melahirkan ragam eksperimentasi baru lainnya di Indonesia, setidaknya di Kota Bandung.

Setelah sehari sebelumnya diselenggarakan di Jakarta Selatan, pertunjukan Senyawa: Dasawarsa Pertama masih akan berlanjut keesokan harinya di Jatiwangi Art Factory, Jatiwangi, Kabupaten Majalengka. Rangkaian tur (terhitung pendek) yang tentunya tidak mengecilkan perjalanan panjang Senyawa sebagai salah satu eksponen musik eksperimental tanah air.

Teks: Bob Edrian
Visual: Arsip Bob Edrian

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading

Themilo Rangkum Perjalanannya di Nomor "Flow"

Dua dekade berlalu dan Themilo tetap berjalan dengan syahdu. Pada akhir Juli 2022, unit shoegaze dari Bandung yang berdiri sejak 1996 ini baru saja merilis single terbaru mereka berjudul “Flow”....

Keep Reading

Semeti Medley, MV The Dare Besutan Allan Soebakir

Pantai! Lombok! Apa yang pertama terlintas di benak kita mendengar dua kata diatas. Tentunya hamparan garis pantai nan panjang lengkap dengan pasir putih, ombak yang riang dan air laut yang...

Keep Reading