Campur Baur Emosi di EP Perdana Beijing Connection

Musisi sering kali menggunakan judul lagu pendek untuk membuat lagu mereka mudah diingat pendengar. Namun, itu tidak berlaku bagi trio asal Makassar, Beijing Connection. Unit yang mengusung musik midwest emo tersebut baru saja merilis sebuah EP berjudul You Are the Best Thing to Come Out of the End of the World for Me.

“From Best Friends to Lover, from Lovers to Strangers”, “You Call Me Possesive, I Call It Fear of Losing You”, “The Last Amazing Grass”, dan “It Is the Reality in Which We’re Apart that Hurts” merupakan isi dari album mini You Are the Best Thing to Come Out of the End of the World for Me.

Judul lagu ditambah album total 50 kata, cukup untuk membuat paragraf sebelumnya terlihat penuh. Jika dilihat Panic at The Disco dan Arctic Monkeys juga sempat membuat formula judul semacam ini di album-album awal mereka.

Beijing Connection

You Are the Best Thing to Come Out of the End of the World for Me diisi dengan empat trek dengan nuansa naik turun. Beijing Connection  mengibaratkan album mini mereka ini seperti “STMJ (Susu, Telur, Madu, Jahe)”.

“Susu untuk lagu ‘From Best Friends to Lovers; from Lovers to Strangers’ yang terdengar manis seperti japanese pop. ‘You Call It Possessive, I Call It the Fear of Losing You’ mewakili telur yang sifatnya versatile bisa dimasak-rebus- goreng seperti track ini yang mencampurkan progresi midwestern emo dan punk. Selanjutnya, balutan akustik serta lirik yang radio-able pada lagu ‘The Last Amazing Grass’ menggambarkan madu yang manis dan terakhir adalah jahe untuk track ‘It Is the Reality in Which We’re Apart that Hurts’, yang menggandeng Brandon Hilton (kolumnis multi talenta asal makassar) guna menambah sifat kelam, sesak, dan pahit,” jelas Beijing Connection dalam siar persnya.

Dalam pengerjaan album ini, nyatanya Beijing Connection tak sendiri. Selain melibatkan Brandon Hilton untuk vokal di nomor “It Is the Reality in Which We’re Wpart that Hurts”, mereka pun dibantu oleh berbagai nama, Beijing Connection melibatkan music produser Cinda Mahendra (ex-gegabah), sedangkan untuk cover album dibantu oleh Yoga Pratama. Untuk proses mixing dan mastering sendiri dikerjakan oleh Sofi di Orgasm Records, sebuah rumah rekaman dari Sulawesi Tenggara yang memiliki portofolio menarik.

Beijing Connection tampak begitu produktif tahun ini. Sebelum merilis EP dengan judul panjang ini, mereka juga telah merilis dua nomor tunggal lain pada Februari dan April lalu dengan judul yang tidak kalah panjang, “Nowadays, Burger Is Not My Favorite Food Anymore” dan “We Should’ve Leave Our Hearts in The South Where They First Met”.

Teks: Abyan Nabilio
Visual: Arsip dari Beijing Connection

Meramu Crossover Hardcore Ke Tahap Terbaru

Dari Sidoarjo, unit Crossover Hardcore yang tergabung dalam Voorstad akhirnya merilis mini album terbaru dengan tajuk Self-titled melalui label Greedy Dust Records. Ini merupakan rilisan kedua Voorstad setelah pada awal...

Keep Reading

Penegasan Warna Terbaru I Punch Werewolf

Penegasan eksistensi I Punch Werewolf melalui video klip lagu terbaru dengan judul Broken. Unit ini terus menggebrak kancah musik dengan beragam rilisannya. Untuk lagu ini sendiri dibuat lebih mengayun, namun...

Keep Reading

Metal Kecil Versi Paling Mutakhir Powerslaves

Powerslaves adalah nama legendaris dalam kancah musik rock tanah air. Unit rock ini baru saja melepas Metal Kecil (Remastered) (13/11/22). Single versi teranyar ini merupakan tindak lanjut dari “Semarang (Remastered)” yang...

Keep Reading

Hadiah Ulang Tahun Pernikahan

Vlaminora, unit musik baru asal Bali, melepas singel perdana bertajuk “Kemarau Rindu” bersama label rekaman asal Jakarta, demajors. Singel tersebut hadir di berbagai platform streaming digital mulai 12 November 2022....

Keep Reading