Cabang Seni yang Banyak dalam Hidup Prihatmoko Moki

Lingkungan seni di Jogjakarta adalah barometer bagi banyak orang yang punya minat untuk hidup di dalamnya. Di kota ini, kerja lintas disiplin dan kepentingan bisa terjadi dengan mudah. Iklim kota yang matang, memungkinkan itu bisa terjadi dengan natural. Di Jogjakarta, peluang untuk mengejar segala macam ketertarikan bisa diikuti. Tentu saja, tidak pernah mudah. Tapi, mungkin terjadi.

Salah satu orang yang menghidupi lebih dari satu cabang disiplin seni adalah Prihatmoko Moki. Sejauh ini, catatan karyanya sangatlah panjang. Medium yang pernah Prihatmoko Moki gunakan di antaranya komik, mural, drawing, cetak hingga lukisan. Juga harus ditambahkan ke dalam daftar itu, kontribusinya di scene musik Jogjakarta dan proses main-mainnya ke ranah sastra.

Di cabang seni rupa, Moki, panggilan akrabnya mendirikan Krack! Studio pada 2012 bersama Malcolm Smith. Ini merupakan kolektif yang fokus pada seni cetak silkscreen. Mereka memiliki studio dan ruang pamer yang cukup konsisten menyelenggarakan program.

Di seni rupa, Prihatmoko Moki pernah melakukan dua pameran tunggal, Melancholic Ego in the Colorful Song of Agoni, Jakarta (2010) dan Power of the Sun, Yogyakarta (2012). Catatan itu bertambah dengan kolaborasinya dengan seni musik.

Sejak 2006, ia terlibat dalam sebuah proyek seni multi disiplin yang diinisiasi oleh Danius Kesminas bernama Punkasila. Seringkali, format yang mereka kedepankan adalah band dan segala logika bermain musik di baliknya.

Sampai hari ini, kisah Punkasila masih terus berlangsung. Kendati tidak intens dan sering naik panggung.

Kemampuannya sebagai seorang drummer juga dipertontonkan di Airport Radio. Band yang sering diberi label triphop ini, telah menghasilkan dua buah album. Album terbarunya, Selepas Pendar Nyalang Berbayang, dirilis di penghujung tahun 2018 yang lalu.

Ia menjelaskan, “Pengaruh musik ke seni rupa sangat besar, nggak bisa bikin karya seni rupa kalau tidak ada musik, begitupun sebaliknya. Semua saling mempengaruhi. Kalau disuruh milih antara seni rupa dan musik? Aku milih dua duanya.”

Mengaduk-ngaduk irisan disiplin juga ia perankan dengan baik. Moki adalah orang di balik pengerjaan desain edisi reissue album Re-Anamnesis milik Melancholic Bitch. Karya itu merupakan sebagian dari proyek poster musik yang ia buat dan pameran di LIR Space pada 2011. Ia juga menjadi salah satu kolaborator reguler Jogja Records Store Club pada acara pameran tahunan Toko Musik Podomoro di Kedai Kebun Forum. Ia menjadi jembatan konsep pameran dengan dagang yang biasa dilakukan para pelapak musik.

“Karena memang seharusnya begitu. Iklim musik lokal di Jogja untuk bertahan dan berjalan, perlu saling support satu sama lain. All the best, wangun bareng-bareng,” katanya.

Di ranah sastra, lain lagi. Karya yang sedang aktif dikerjakannya saat ini adalah proyek berjudul Prajurit Kalah Tanpa Raja. Ini merupakan proyek kolaboratif antara ia dan sastrawan sekaligus seniman teater Gunawan Maryanto. Bentuknya komik dan cerita bergambar yang merekam situasi Jogjakarta saat ini dengan mengambil sudut pandang sejarah kesultanan.

Dari sana, mereka mencoba mengembangkan projek ini ke medium lebih luas lagi, yaitu medium pertunjukan. Idenya adalah membuat pertunjukan cerita komik, yang mengadopsi pertunjukan wayang beber. Di pertunjukan ini medium yang dipakai menjadi lebih beragam, mulai dari musik, tari, tembang macapat sampai instalasi. Ada beberapa seniman dari lintas disiplin yang tergabung dalam pertunjukan ini, yaitu: Sandi Kalifadani, Octo Cornelius, Kikiretake, Devi dan Tere.

Ketika iseng ditanya tentang cabang seni apa yang ingin dikuasai tapi belum kesampaian, ia menjawab jahil, “Bikin patung dan relief kayak di candi-candi.”

Karya Moki bisa dilihat di https://mokiprihatmoko.wordpress.com/ atau melaui Instagram di @prihatmokomoki. (*)

Teks dan foto: Indra Menus

Sebuah Pertanyaan Residensi, Mengapa Jalan-jalan untuk Seniman itu Penting?

Seperti apa sebenarnya peran residensi seni, dan bagaimana dampak sebuah kunjungan sementara terhadap proses kreatif seniman? Karena makin ke sini istilah residensi jadi template untuk sekadar program plesir yang dilakukan...

Keep Reading

Universal Iteration, Pameran Selanjutnya dari Salihara

“Ragam aktivitas di dunia maya tidak hanya menghasilkan keuntungan berupa kemudahan akses informasi serta terbukanya peluang-peluang baru di berbagai bidang. Pada kenyataannya, aktivitas-aktivitas virtual menghasilkan emisi berupa jejak karbon secara...

Keep Reading

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Tahun ini, Synchronize Fest Balik Lagi Secara Luring!

Penantian panjang akhirnya terjawab sudah! Synchronize Fest memastikan diri akan digelar secara offline pada 7, 8 , 9 Oktober 2022 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Mengusung tema “Lokal Lebih Vokal”,...

Keep Reading