Brandon Hilton: Kami Menolak Untuk Mati

Lima tahun terakhir, keluhan di beberapa daerah hampir nyaris sama, yaitu tidak adanya tempat untuk menggelar sebuah acara. Jika di daerahmu juga terdengar keluhan yang sama, tenang saja, kita tengah dibentuk untuk tidak manja. Hal ini juga berlaku buat para pegiat musik dengan modal besar dan bersponsor yang tidak serta merta dimudahkan langkahnya dalam menggelar acara musiknya.

Bicara soal gigs, di kota ini (Makassar) punya banyak penggagas. Sebut saja Roostereast Familia, Wildpunx Kolektiva, Makassar Bersatu (yang di setiap perayaannya menghadirkan seratus band), Brother For Brothers dengan Hardcore Fest yang sudah memasuki perayaan keempat, juga Makassar Metal Syndicate yang terbilang cukup rajin mengadakan berbagai gigs. Beberapa yang saya tahu, juga ada Makassar Metal Madness, Maximum Noise, Makassar Underground, Bleeding Sound, Party Ero’-Ero’, Grindhouse Fest, dan masih banyak lagi. Tahun keemasan bagi kancah musik “underground” nan bising di Makassar berada di tahun 2008 hingga 2013, namun bukan berarti saat ini masa tersebut sudah digadaikan kemudian jatuh tempo dan akhirnya dilelang. Sekarang lebih ke strugglenya yang sangat terasa.

“Bagi saya REF itu bukan cuma sebuah komunitas tapi sebuah keluarga yang bisa saling mendukung, mengarahkan dan juga membimbing satu sama lain. Juga, di REF itu bukan cuma musik tapi sama ji dengan komunitas-kounitas lain yang sama-sama belajar berbagai hal.” Ujar Hasyim (REF dan juga gitaris dari Discern Middle).

“Gigs pertama yang dibuat teman-teman REF adalah October Noise pada tahun 2015. Menurut saya masih banyak sekali kekurangan yang harus dibenahi di gigs tersebut. Menurut saya sendiri, masih banyak oknum yang mengatasnamakan dirinya sebagai metalhead, anak harkor, anak punk tapi tidak tau tata tertib di area mosh phit dan akhirnya ricuh. Jelas mereka tidak menghargai kerja keras teman-teman penyelenggara gigs.” ungkap Yoma (REF dan vokalis dari Discern Middle).

“Tahun 2005-2006 gigs underground benar-benar sepi untuk sekitaran kota Makassar. Karena hal itulah beberapa teman yang biasa nongkrong di Baji Ateka ini sepakat untuk mulai membuat gigs secara mandiri dan kolektif. Pertengahan tahun 2006, event “Bleeding Sound” hadir, gigs ini didukung penuh oleh Psychosm, label milik Idol Blasphemy (Critical Defacement). Setelah itu, gigs-gigs yang dibuat lebih spesifik ke gigs metal.” Ungkap Wawan Ndo (gitaris dari Frontxside).

Untuk terjadinya sebuah gigs, apapun itu, yang mendasarinya adalah intensitas nongkrong. Akan tetapi, ide-ide cemerlang yang ada sering kali menemui beberapa masalah mendasar, misalnya seperti venue dan dana. Permasalahan minimnya fasilitas tempat acara di atas justru berbanding terbalik dengan banyaknya grup musik yang bermunculan. Band-band baru bermunculan, beberapa band lama justru keterusan hibernasinya. Tidak sedikit juga band yang baru terbentuk lalu jadi grup gogon (gosip-gosip andergron) di kalangan komunitas musik itu sendiri.

“Asli susah banget sekarang dapat venue di Makassar, namun kami anak-anak Makassar Metal Syndicate menanggapinya dengan santai, tapi berfikir juga bagaimana caranya biar dapat venue yang pas.” Ujar Idol Blasphemy (vokalis dari Critical Defacement).

“Susahnya selain budget, juga kepercayaan dari pihak pengelolah yang kadang miris. Tapi ya kembali kepada audiens untuk sedikit lebih smart kalau sudah di arena mosh pit untuk bisa saling menjaga dan menghormati pihak penyelenggara.” Tambah Fuad, vokalis dari High Voltage.

Alasan paling utama dari para pemilik tempat acara mempersulit adalah kebiasaan penonton yang suka rusuh. Di Makassar, nyaris di setiap acara musik berskala besar atau kecil ada saja pengunjung dengan bakat silat yang tidak jarang “rusuh” dan mengganggu jalannya acara. Hal seperti ini bisa kamu jumpai nyaris di setiap gigs di kota ini. Dari beberapa venue, Rockfort termasuk yang punya cara khusus untuk meredam orang-orang yang berniat rusuh. Jika kalian ingin mencari tahu perihal pegiat kancah musik di kota ini, Rockfort adalah tempat pertama yang wajib didatangi.

Segala hal pasti akan bertemu masa susah dan jalan buntu. Namun, dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Sekarang hanya ada dua pilihan, memilih atau tidak memilih sama sekali. Untuk kami di kota ini? Kami menolak untuk mati.

Teks: Brandon Hilton
Visual: Arsip El Musaid

Terhubung Langsung di Collabonation Creative City Edisi Bandung

Setelah mengunjungi Makassar, Medan, dan Malang, Collabonation Creative City kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini Bandung yang menjadi titik pemberhentiannya. Collabonation Creative City hadir membawa semangat baru melalui rangkaian kegiatan salah...

Keep Reading

Program Menarik Bernama Women Composser Weekend

Merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh di tanggal 8 Maret lalu, untuk pertama kalinya, Yayasan Bandung Philharmonic berkolaborasi dengan Komunitas Perempuan Komponis: Forum & Lab untuk meluncurkan dua program webinar...

Keep Reading

Libatkan Seniman Lokal, SOCA Wheels Luncurkan Program Luring SOCA Spinning Wheels Vol.1

Tak bisa dipungkiri, pandemi yang sudah terjadi selama lebih dari dua tahun ini sudah berhasil membuat repot semua lini, termasuk lini hiburan. Selama dua tahun itu pula kita disuguhi dengan...

Keep Reading

Bandcamp Resmi Bergabung dengan Epic Games

Bagi yang menggandrungi musik, tentu gak bakal asing dengan platform pemutar musik digital bernama Bandcamp. Dengan adanya platform tersebut para musisi bisa dengan mudah mendistribusikan karyanya, lewat platform itu pula...

Keep Reading