Bottlesmoker Memvisualkan Kerusakan Alam

Duo Bottlesmoker yang terdiri dari Anggung Suherman (Angkuy) dan Ryan Adzani (Nobie) dikenal luas dengan musik instrumental elektronika eksperimental yang mereka ciptakan. Terlebih, semua musik yang mereka hadirkan banyak terinspirasi dari bebunyian khas Indonesia dan juga Asia Tenggara. Menggabungkan techno dengan tribal, suasana pasifik, psychedelic hingga musik ambient. Mereka pun sering tampil di festival internasional, dari mulai Laneway Festival, Transmusicales, Big Mount Music Festival, Zandari Festa dan masih banyak lagi. Setelah beberapa waktu lalu sukses menggelar sebuah konser khusus untuk tanaman, kini mereka hadir lagi dengan suguhan terbarunya.

Kali ini, Bottlesmoker secara resmi melepas sebuah videoklip untuk lagu “Tortuga” yang merupakan materi pertama mereka untuk album penuh kelimanya yang akan diberi judul “Puraka”. Lagu ini sendiri banyak menceritakan perihal kondisi alam yang kini sudah banyak dirusak oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Padahal nih ya, Indonesia dikenal luas sebagai paru-paru dunia, karena memiliki hutan yang sangat lebat. Dan sudah seharusnya hutan terus dijaga kehidupannya. Bagi keduanya (Angkuy dan Nobie), hutan harusnya menjadi rumah bagi manusia, hutan tidak hanya berfungsi sebagai rumah, lebih dari itu telah menjadi sebuah sumber kehidupan bagi semua mahkluk hidup.

Pengerjaan materi ini sendiri telah dilakukan oleh mereka sejak tahun 2019 kemarin. Di mana saat keduanya sedang mempelajari banyak hal tentang Forest Healing, yang mana alam adalah bagian dari manusia. Dari pembelajaran ini, mereka juga menemukan bahwa tubuh kita ternyata memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alam. Nah, karena banyak menemukan hal-hal menarik seputar alam dan manusia, Bottlesmoker menjadikan hal ini sebagai tema besar dari album “Puraka” nantinya, dan single ini adalah awal dari semua hal yang berkaitan dengan eksplorasi mereka terhadap alam dan musik.

Lagu “Tortuga” juga menjadi satu-satunya lagu dari Bottlesmoker yang memiliki lirik dan vokal yang ditulis sendiri. Porsi mereka berdua tetap seperti pada biasanya, untuk urusan vokal, mereka menyerahkannya ke seorang Esya Swasti Sukmatia. Sang vokalis ini tidak hanya menghadirkan jenis satu vokal, tapi dirinya memasukkan ragam penggabungan notasi dari beberapa budaya. Selain itu, hal unik lainnya yang terdapat di lagu ini adalah adanya penggunaan lirik dari bahasa Zufrasi. Ini adalah sebuah bahasa buatan hasil cipta olah frasa Rully Shabara (Senyawa, Zoo, Setabuhan dll). Rully pun terlibat dalam penerjemahan lirik yang ditulis oleh Nobie. Videoklip dari Tortuga menggambarkan tentang 2 sisi yang menyiratkan Ibu Pertiwi sedang bersedih dan menceritakan kegelisahannya kepada manusia. Video ini disutradarai oleh Ihsan Achdiat yang sudah sering bekerjasama dengan Bottlesmoker.

 “Saya sangat senang sekali memiliki video musik yang melibatkan banyak orang dan mereka tergerak berdasarkan pesan baik yang ada di lagu ini. Semacam siklus yang bersumber dari saling terinspirasi” tutur Angkuy.

 “Banyak hal yang terjadi di sekitar yang akhirnya masalah ala mini memiliki energi yang tinggi untuk saya tulis di lirik. Proses memahami lirik dari Bahasa Zufrasi ini akan melatih proses kita juga untuk mengerti kondisi alam di sekitar kita” Tutur Nobie.

Kata “Tortuga” diambil dari Bahasa Spanyol yang berarti kura-kura. Dalam budaya Cina, kura-kura disimbolkan sebagai animal spirit dan memiliki umur panjang. Di beberapa suku, Tortuga dijadikan sebagai personifikasi untuk “Mother Earth”. Semoga lagu dan video Tortuga bisa memberikan energi bagi manusia untuk kembali ke hutan, atau hutan yang datang ke kota dan terus menjaga keseimbangan hidup.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Bottlesmoker

Cerita Iblis dan Manusia di Album Kedua Parakuat

Ranah musik elektronik di Indonesia selalu menarik untuk di simak, terlebih geliatnya di arus pinggir. Banyak seniman bunyi muncul dengan coraknya sendiri dan membawa hasil eksperimentasinya masing-masing. Ranah ini terus...

Keep Reading

The Jansen Persembahkan Album Ketiga

Usai melepas nomor “Mereguk Anti Depresan Lagi” yang cukup mencuri perhatian, The Jansen, trio punk rock dari kota hujan Bogor akhirnya meluncurkan album ketiganya bertajuk “Banal Semakin Binal” (29/7) dalam...

Keep Reading

EP Who Suffer?, Jalan Keluar Defy dari Kekacauan Pandemi

Grup metallic hardcore dari kota Palu, Defy, baru-baru ini telah meluncurkan sebuah album mini bertajuk Who Suffer?. Perilisan album ini juga sekaligus sebagai tanda berjalannya kerja sama antara Defy dan...

Keep Reading

Menuju Album Kedua, Modjorido Rilis Nomor "Bebal"

Usai memperkenalkan album perdana self-tittled di tahun 2021 lalu, grup musik dari Bali, Modjorido akhirnya kembali merilis karya teranyar. Kali ini unit yang dihuni oleh Rico Mahesi (Vocal & Guitar),...

Keep Reading