Jurnal Bunyi: Mengalami dan Mengenai Seni Bunyi

Sekitar tujuh tahun yang lalu, di sebuah ruang alternatif bernama Galeri Gerilya, Bandung (Galeri tersebut sempat berganti nama menjadi Ruang Gerilya lalu Gerilya Artist Collective, dan cukup disayangkan karena saat ini ruang fisiknya sudah tidak bisa diakses). Sebuah pameran bertajuk 05 Seniman Suara Ruang (bisa juga dibaca 5 seniman, 5 suara, 5 ruang) dibuka, tepatnya tanggal 20 Desember 2013. Pameran tersebut, sesuai judulnya, melibatkan 5 seniman: Bagus Pandega, Etza Meisyara, Fajar Abadi, Ferry Nurhayat, dan Haikal Azizi. Dalam teks kuratorial, saya mengutip pernyataan William Hellermann, kurator pameran Sound/Art (1983) di Sculpture Center, New York, yang berbunyi, “hearing is another form of seeing.”1 Mengangkat eksplorasi artistik dengan medium bunyi dan kaitannya dengan ruang, 05 Seniman Suara Ruang adalah perkenalan awal saya dengan sound art, atau seni bunyi (?).

Apa itu sound art? Tidak sulit mencari definisi-definisi sound art di internet, salah satu contohnya terdapat di laman “art terms” dalam situs resmi milik salah satu institusi seni asal Britania, Tate. Dalam laman tersebut, sound art didefinisikan sebagai “art which uses sound both as its medium (what it is made out of) and as its subject (what it is about).”2 Dalam konteks pameran, kita bisa menelaah pernyataan seorang sejarawan dan kurator asal Indonesia, Aminudin TH Siregar, yang mengungkapkan bahwa:

Sound art bukanlah musik, tetapi ‘seni’ tentang sound itu sendiri sebagai medium yang pada gilirannya menempatkan sound sebagai subjek utama. Unsur ‘bunyi’ pada sound art bisa diperoleh melalui spoken word juga alat-alat elektronik atau segala sesuatu yang akan mengalihkan persepsi pendengaran kita.3

Pernyataan Aminudin di atas merupakan bagian dari teks kuratorial pamerannya bersama kurator asal Amerika Serikat, Koan Jeff Baysa, di Galeri Soemardja Institut Teknologi Bandung bertajuk Good Morning: City Noise!!! Sound Art Project (2007). Masih banyak upaya-upaya pendefinisian sound art lainnya yang mungkin saja tidak sependapat. Setidaknya kedua referensi di atas menyepakati bahwa sound art merupakan sebuah aktivitas artistik yang mengolah dan menempatkan bunyi sebagai subjek utamanya.

 

(Publikasi pameran 05 Seniman Suara Ruang di Galeri Gerilya tahun 2013, dok: Gerilya)

Perkenalan dengan medium sound art di pameran 05 Seniman Suara Ruang setidaknya memicu ketertarikan saya untuk melakukan penelitian lanjutan. Hingga tahun 2016, saya melakukan penelitian akademik yang meninjau karya-karya berelemen bunyi yang diproduksi oleh seniman-seniman seperti Bagus Pandega, Duto Hardono, Heri Dono, dan Jompet Kuswidananto. Di tahun 2015, bersama Duto Hardono, Haikal Azizi, dan Riar Rizaldi, kami membentuk sebuah platform bernama Salon yang bertujuan untuk memfasilitasi pelaku-pelaku eksplorasi bebunyian. Platform yang mencakup aktivitas pertunjukan dan diskusi ini setidaknya telah berhasil menyelenggarakan 7 perhelatan hingga tahun 2018 di Bandung dan Jakarta. Salon menjadi kanal lain bagi saya untuk menelusuri ranah seni bunyi yang seringkali disebut beririsan dengan bentuk seni lainnya, dalam hal ini musik. Lantas mengapa sound art justru lebih banyak dipresentasikan dalam ruang seni rupa? Meskipun eksplorasi sound art juga bisa muncul dalam ruang pertunjukan dalam bentuk performans bunyi, medium ini juga banyak diolah dalam bentuk instalasi. Oleh karena itu, ruang galeri (setidaknya hingga saat ini) cukup representatif untuk menampilkan karya-karya instalasi bunyi (dan juga performans bunyi).

(Perhelatan pertama Salon di Platform3, Bandung, tahun 2015, dok: Platform3)

Pengalaman menelusuri jejak-jejak seni bunyi membawa saya pada sebuah kesempatan yang diberikan Selasar Sunaryo Art Space di pertengahan tahun 2016. Melalui program Hibah Riset Kuratorial Selasar Sunaryo Art Space yang juga bekerja sama dengan SAM Dana untuk Seni dan Lingkungan, saya difasilitasi untuk melakukan penelitian lanjutan terkait medium sound art yang (setidaknya) terangkum dalam penyelenggaraan Bandung New Emergence (BNE) Volume 6 dengan subjudul Listen!. Terinspirasi oleh pemaparan seorang penulis bernama Brandon LaBelle, melalui bukunya berjudul Acoustic Territories: Sound Culture and Everyday Life (2010), gagasan kuratorial BNE 6 mencakup pemahaman bunyi dalam tiga area/kategori berbeda: Bunyi Subversif, Bunyi Keseharian, dan Bunyi Esensial.

Sebanyak 14 seniman muda dilibatkan dalam penyelenggaraan BNE (yang merupakan program dua tahunan Selasar Sunaryo Art Space) edisi keenam, atau edisi perdana yang mengangkat spesifik satu medium. Berkaca pada pameran Good Morning: City Noise!!! Sound Art Project di Galeri Soemardja yang mayoritas memanfaatkan teknologi headphone, BNE 6 memicu banyak opini terkait berbaurnya ragam bunyi dalam ruang pamer. Hanya satu karya yang menggunakan headphone dalam perhelatan BNE 6, selebihnya, bebunyian karya dibiarkan berinteraksi dengan ruang. Saya dibantu oleh seorang pengajar dan peneliti sound design, Dr. Jack Arthur Simanjuntak, untuk memaksimalkan output dari masing-masing karya. Para seniman yang terlibat pun dibekali dengan rangkaian diskusi tertutup dengan narasumber seperti Bagus Pandega, Chabib Duta Hapsoro, Duto Hardono, dan Jompet Kuswidananto.

(Perhelatan Bandung New Emergence Vol 6: Listen! tahun 2016, dok: Selasar Sunaryo Art Space)

Gagasan ‘melepas’ bebunyian dari kurungan headphone di atas merupakan salah satu upaya penelusuran hubungan erat antara bunyi dan ruang. Sebagaimana Marshall McLuhan membedakan antara visual space dan ear world/acoustic space.4 Dunia visual memiliki sifat saling berhubungan dan terkoneksi, sementara dunia akustik bersifat membaur dan selalu berubah. Kondisi membaur dan selalu berubah yang memunculkan banyak tantangan terkait mempresentasikan karya-karya sound art. Apakah karya sound art harus benar-benar diisolasi untuk dapat diapresiasi secara maksimal? Atau justru membiarkan bunyi membaur dengan karakter akustik ruangan dan juga bebunyian yang dihasilkan pengunjung. Auditorium dan ruang konser dikondisikan untuk fokus pada penampil di panggung, beberapa dikondisikan selayaknya ruang bioskop (black box) dengan memaksimalkan teknologi audio dan akustik beserta ragam peredam dan material pengontrol bunyi. Tidak semua karya sound art, terutama dalam format instalasi, berhasil dipresentasikan secara maksimal dalam ruang-ruang tersebut.

Ruang galeri atau museum seni rupa setidaknya dianggap lebih representatif dengan karakteristik ruang kosong dan (diupayakan) netral (white cube). Meskipun begitu, ruang galeri pun bukan tanpa cela dalam hal presentasi karya sound art. Ketika gagasan white cube menekankan apresiasi maksimal untuk karya visual dengan penempatan yang fokus dan kontemplatif, bukan pekerjaan mudah untuk mempresentasikan karya aural yang netral dari bebunyian lain. Mengutip Caleb Kelly dalam bukunya Gallery Sound (2017), “…art galleries contain sound and therefore are never silent,”5 maka bukan pekerjaan mudah menghadirkan karya bunyi dengan kondisi terbebas dari bunyi lain di dalam ruang galeri yang ‘netral’ sekalipun.

Dua tahun pasca penyelenggaraan Bandung New Emergence Volume 6: Listen!, saya berkesempatan untuk melakukan kerja sama dengan beberapa venue dalam penyelenggaraan Soemardja Sound Art Project (2018). Salah satu proyek ambisius saya dalam memunculkan ragam kecenderungan eksplorasi bunyi. Dimulai dengan gagasan dualisme sound art (performatif dan instalatif) dalam perhelatan Double-coding Sonic Art di Lawangwangi Creative Space, Bandung. Karakteristik bebunyian yang membaur dan bersifat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh tubuh dan material dalam Immersed in Sonic Flux di auditorium Institut Francais Indonesia (IFI), Bandung. Hingga keterkaitan antara bunyi dengan ruang (baik ruang fisik maupun kontekstual) dalam Perceiving the Omnipresent Sound di Spasial, Bandung. Ketiga gagasan tersebut kemudian terangkum dalam eksplorasi dan eksperimentasi bunyi dan ruang di Galeri Soemardja ITB melalui tajuk besar Soemardja Sound Art Project. Pemilihan judul Soemardja Sound Art Project merupakan bentuk respons terhadap penyelenggaraan Good Morning: City Noise!!! Sound Art Project sebelas tahun sebelumnya. Berbeda dengan perhelatan di tahun 2007 yang memanfaatkan headphone, Soemardja Sound Art Project bereksperimen dengan membangun bilik untuk setiap karya dengan area tengah sebagai pusat membaurnya bebunyian.

Eksperimentasi ruang yang dilakukan dalam Soemardja Sound Art Project tidak sepenuhnya berupaya mengisolasi bunyi secara menyeluruh, melainkan untuk menghadirkan pengalaman baru mengalami bebunyian dalam konteks ruang galeri. Tulisan (yang kali ini lebih banyak memaparkan pengalaman pribadi) ini akan membuka rangkaian tulisan-tulisan berikutnya terkait bunyi, atau secara spesifik medium artistik sound art, di waktu mendatang.

Teks: Bob Edrian
Visual: Arsip Dari Berbagai Sumber

Nada Siasat: Pekan Pertama Februari

Sampailah kita di penghujung pekan pertama bulan Februari. Harapan-harapan terus tumbuh di tengah situasi yang belum membaik sepenuhnya. Meskipun situasi masih belum jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, namun para musisi...

Keep Reading

Seniman Roby Dwi Antono Gelar Tiga Pameran Sekaligus di Jepang

Seniman Indonesia yang satu ini memang kerap membuat pameran di luar negeri. Lewat karya-karyanya yang memukau, nama Roby Dwi Antono kian dikenal oleh para pelaku mau pun kolektor seni Internasional....

Keep Reading

Nada Siasat: Meretas Tahun Penuh Harapan

Tak terasa sudah 2 tahun kita berdampingan dengan pandemi, selama kurun waktu itu pula kita terus bertahan dari terpaan yang ada. Kini, nyaris semua sektor perlahan kembali pulih. Adaptasi adalah...

Keep Reading

50 Lagu Indonesia Favorit Siasat Partikelir 2021

Berikut adalah 50 lagu yang menjadi favorit Siasat Partikelir, yang sering kami dengarkan di berbagai situasi dalam rentang waktu tahun 2021.

Keep Reading