Jurnal Bunyi 2: Relasi Musik dan Sound Art

Pertanyaan yang sering muncul ketika menghadapi karya bebunyian di sebuah ruang pamer (atau galeri) baik dalam bentuk instalasi maupun performans adalah “apakah ini musik?”. Akan terlalu terburu-buru untuk menyebutkan bahwa segala bebunyian yang dipresentasikan dalam galeri disebut sebagai sound art. Sama gegabahnya dengan menyebut segala apapun yang berbunyi adalah musik. 

Ketika Luigi Russolo (seorang pelukis Futuris Italia) mengajukan bahwa segala bebunyian dan kebisingan bisa dipersepsi sebagai musik melalui manifesto L’arte dei Rumori (The Art of Noises, 1913), Edgard Varese (seorang komponis berdarah Prancis) kemudian mengungkapkan bahwa apapun yang baru dalam musik seringkali disebut sebagai noise, maka, apalah musik jika bukan kebisingan yang tertata. Varese lantas menyebut aktivitas musikalnya sebagai bebunyian yang tertata (organized sound), sebuah istilah yang tidak diterima begitu saja oleh John Cage (seorang komponis asal Amerika Serikat). Cage setidaknya menghormati pemahaman Varese yang, beririsan dengan gagasan Russolo, membuka kemungkinan musikal bagi beragam fenomena bebunyian. Meskipun begitu, Cage menolak superioritas musik terhadap dunia bebunyian.1 Apakah penolakan Cage merupakan sebuah celah, atau peluang, bagi munculnya bebunyian yang diapresiasi sebagai seni bunyi, tetapi bukan musik? Sound art?

(Salah satu karya Julian Abraham ‘Togar’ dalam pameran tunggalnya bertajuk IIINNNGGG (2018) di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, Yogyakarta, menunjukkan relasi musik-seni-bunyi-galeri, dok: penulis)

Melalui pemahaman di atas, pertanyaan berikutnya muncul, apakah sejarah sound art dimulai dari musik? Meskipun penelusuran seni bunyi atau sound art seringkali memunculkan nama-nama di ranah musik seperti Edgard Varese dan John Cage di atas, istilah sound art sendiri konon baru populer digunakan ketika sebuah pameran bertajuk Sound/Art diselenggarakan pada tahun 1983/1984 di SculptureCenter, New York. Dikuratori oleh William Hellermann dan disponsori oleh The SoundArt Foundation miliknya, pameran tersebut dianggap sebagai cikal bakal penggunaan istilah sound art. Perlu dicatat bahwa pada dekade 1960-an, seorang musisi bernama Max Neuhaus, kemudian mempopulerkan istilah instalasi bunyi (sound installation) atau patung bunyi (sound sculpture). Istilah yang mungkin saja berkaitan dengan karya seniman Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI), Bonyong Munni Ardhi, berjudul Patung Suara (1979).

(Replika karya Bonyong Munni Ardhi berjudul Patung Suara, dok: Serrum)

Pasca pameran Sound/Art, Alan Licht (seorang musisi dan jurnalis) dalam tulisannya berjudul Sound Art: Origins, development, and ambiguities (2009) untuk jurnal Organised Sound mengungkapkan bahwa pertengahan hingga akhir dekade 90-an menandai maraknya penggunaan istilah sound art. Ia melanjutkan dengan menyebut tahun 2000 sebagai tahun yang penting bagi perkembangan sound art dengan diselenggarakannya tiga pameran besar: Sonic Boom: The Art of Sound, dikurasi oleh David Toop di Hayward Gallery, London; Volume: A Bed of Sound, dikurasi oleh Elliott Sharp dan Alanna Heiss di PS1, New York; dan I Am Sitting In A Room: Sound Works by American Artists 1950–2000, dikurasi oleh Stephen Vitiello sebagai bagian dari pameran American Century, Whitney Museum, New York.2 Penulisan sejarah sound art tidak hanya beririsan dengan musik, tetapi juga seni rupa?

Dalam sebuah video yang diproduksi oleh Sound and Music asal Britania berjudul Sound in Context, David Toop (seorang musisi dan penulis yang menjadi kurator untuk salah satu perhelatan penting sound art di Britania bertajuk Sonic Boom: The Art of Sound di tahun 2000) menyebut bahwa sound art merupakan medium yang masih mencari ‘rumah’-nya. Toop mengungkapkan bahwa sound art tidak berada di ranah musik maupun seni rupa.3 Mungkin saja Toop mengindikasikan bahwa medium sound art merupakan fenomena baru yang seharusnya membangun ‘rumah’ ataupun sejarahnya sendiri. Pernyataan tersebut tentunya memicu banyak perdebatan mengingat banyak upaya-upaya penulisan sejarah sound art yang hampir selalu beririsan dengan setidaknya ranah musik dan seni rupa. Terlepas dari pernyataan Toop, pameran yang ia kurasi di tahun 2000 berjudul Sonic Boom: The Art of Sound (salah satu pameran yang juga dianggap signifikan dalam perkembangan sound art menurut penulis Alan Licht) melibatkan seorang seniman asal Indonesia, Heri Dono. Sebelum dipamerkan di pameran Sonic Boom, karya Heri Dono berjudul Watching the Marginal People telah lebih dulu dipamerkan di perhelatan Biennale IX Jakarta (1993-1994), sebuah perhelatan yang sedikit banyak memperkenalkan publik seni rupa Indonesia pada seni instalasi. 

(Karya Heri Dono berjudul Watching the Marginal People, dok: Heri Dono)

Heri Dono menyebut aspek bebunyian dalam karya instalasinya sebagai bentuk pemurnian dari cabang kesenian di luar rupa, dalam hal ini musik. Upaya pemurnian dari beberapa cabang kesenian digagasnya untuk memperkaya eksplorasi kekaryaan rupa-nya. Unsur bunyi dalam karya Heri Dono menggambarkan bagaimana musik kemudian menginspirasi olah medium seni rupa. Lantas, apakah Heri Dono, atau Bonyong Munni Ardhi, adalah sound artist? Atau dalam bahasa seorang kritikus Indonesia, Hendro Wiyanto, seorang peseni bunyi?4

Pertanyaan-pertanyaan terkait kapan seseorang pantas disebut sebagai sound artist, atau (misalnya) dibedakan dari gelar ‘musisi,’ atau lebih luas lagi, kembali ke pertanyaan awal, apa yang disebut sebagai sound art dan apa yang bukan sound art, juga dibahas dalam sebuah artikel The Wire yang ditulis oleh Yan Jun (seorang komponis asal Cina) berjudul Perhaps I’m (Not) A Sound Artist. Jun mengkritisi bahwa ada tendensi yang menunjukkan bahwa gelar sound artist nampaknya dianggap ‘lebih menjual’ meskipun bentuk-bentuk olahan artistik yang dilakukan sebenarnya masih termasuk ke dalam kategori eksplorasi musikal, atau setidaknya tertulis dalam sejarah perkembangan musik. Ia menunjukkan banyak kecurigaan terhadap upaya penulisan sejarah sound art hingga upaya pengkategorisasian eksplorasi artistik tertentu dengan mengungkapkan:

Of course, some would say that in the 1950s there was sound art before the term sound art came into existence, that once we invented this term we could abolish musique concrète or at least place it into a sub-genre. So can we do the same with sound poetry? Luigi Russolo, part of Xenakis’s work, and why not Satie? Indeed, since the late Ming Dynasty there have been whistles tied beneath the wings of pigeons and on top of kites. Were these not early, local, pre- and authentic sound art?!5

Artikel di atas menunjukkan beberapa tegangan yang terjadi dalam pemahaman sound art, atau relasinya dengan seni musik dan bentuk-bentuk olahan artistik seperti seni instalasi. Bahasan terkait keterikatan antara sejarah musik-seni rupa dan sound art memang cukup rumit untuk dibongkar. Apakah benar-benar ada aktivitas sound art yang benar-benar terpisah dari pemahaman musik dan seni rupa? Atau juga irisannya dengan cabang kesenian lainnya semisal sastra dan teater? Nantikan di artikel berikutnya ya.

Teks: Bob Edrian
Visual: Arsip Dari Berbagai Sumber

 

Nada Siasat: Pekan Pertama Februari

Sampailah kita di penghujung pekan pertama bulan Februari. Harapan-harapan terus tumbuh di tengah situasi yang belum membaik sepenuhnya. Meskipun situasi masih belum jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, namun para musisi...

Keep Reading

Seniman Roby Dwi Antono Gelar Tiga Pameran Sekaligus di Jepang

Seniman Indonesia yang satu ini memang kerap membuat pameran di luar negeri. Lewat karya-karyanya yang memukau, nama Roby Dwi Antono kian dikenal oleh para pelaku mau pun kolektor seni Internasional....

Keep Reading

Nada Siasat: Meretas Tahun Penuh Harapan

Tak terasa sudah 2 tahun kita berdampingan dengan pandemi, selama kurun waktu itu pula kita terus bertahan dari terpaan yang ada. Kini, nyaris semua sektor perlahan kembali pulih. Adaptasi adalah...

Keep Reading

50 Lagu Indonesia Favorit Siasat Partikelir 2021

Berikut adalah 50 lagu yang menjadi favorit Siasat Partikelir, yang sering kami dengarkan di berbagai situasi dalam rentang waktu tahun 2021.

Keep Reading