Black Hand Gang Merilis Karya Cetak Eddie Hara, Arahmaiani, dan Sir Dandy

Walaupun kondisi sedang tidak bersahabat dengan kita karena adanya pandemi ini, tapi kita sudah seharusnya terus berinovasi untuk memberikan banyak harapan baik kepada banyak orang. Dari banyaknya kabar buruk yang menerpa kita belakangan ini, satu yang baik datang dari Bali. Sebuah kolektif lahir di sana, namanya adalah Black Hand Gang (B.H.G). Mereka merupakan sebuah creative club yang berfungsi sebagai wadah sekaligus alat transportasi bagi banyak printmaker yang ada di dunia, khususnya Indonesia. Mulai beroperasi sejak bulan Juni 2020 kemarin, tujuan besar yang mereka kejar adalah untuk merawat serta membangun komunitas kreatif dan juga menyediakan tempat untuk menampilkan banyak karya cetak dari para seniman Indonesia.

Selain sebagai wadah bagi para pembuat karya cetak, mereka juga bergerak di bidang penerbitan. Ketertarikan terhadap geliat seniman kontemporer yang ada di negeri ini, menggugah mereka untuk bisa mengajak kolaborasi dalam membuat karya cetak edisi terbatas dengan hasil cetakan yang memiliki kualitas tinggi.

“Produksi cetak yang kami hasilkan adalah perpaduan seni dengan keterampilan teknis, yang hasilnya sangat jauh lebih berkualitas dari dunia ‘fotokopi industri’ dan pencetakan digital. Setiap lembar print yang kami hasilkan dikerjakan manual oleh Pak Devy, kepala studio kami yang setara dengan Mr. Miyagi (Suhu Karate Kid), bersama tim studio kami yang telah terlatih khusus.” Terang mereka.

Di bulan ini, secara khusus mereka menghadirkan ragam karya cetak yang tentu saja hasil dari para seniman kontemporer terbaik yang ada di negeri ini. Mereka adalah Eddie Hara, Arahmaiani, dan Sir Dandy. Dipilihnya ketiga perupa ini karena menurut Black Hand Gang, ketiganya sudah memiliki nama besar di kancah seni kontemporer baik itu lokal maupun interlokal. Karya print mereka merupakan representasi kuat dari perjalanan berkesenian dan karakter mereka. B.H.G. sebagai publisher karya-karya mereka telah merilis edisi terbatas sebanyak 25 cetakan, ditandatangani, serta diberi nomor oleh para seniman dengan sertifikasi otentik yang diterbitkan Black Hand Gang. Karya-karya ini dicetak menggunakan tinta akrilik diatas F.S.C. grade cotton paper menggunakan teknik cetak saring yang tidak hanya menghasilkan cetakan berkualitas tinggi tetapi juga metode yang lebih ramah terhadap lingkungan.

Eddie Hara Destroy Bad Art & Joyful Rites of Spring Print Edition

Dikenal sebagai ‘Om Punk’ seni kontemporer Indonesia, Eddie Hara telah berhasil membawa karya-karya anti kemapanan & subkulturnya ke tengah-tengah kancah seni rupa dunia. Gaya unik menyerupai komik dan art brut pada karyanya telah berhasil menarik perhatian banyak kolektor dan penggemar. Dipengaruhi juga oleh isu sosial dan lingkungan, terdapat satu karakter khas yang muncul dalam karyanya yakni seekor gurita terluka dan tengkorak yang melambangkan laut Indonesia telah tercemar dan dieksploitasi secara berlebihan. Tidak diragukan lagi, Eddie Hara adalah salah satu seniman kontemporer Indonesia yang telah go international dengan daftar panjang pameran di berbagai acara seni bergengsi seperti Art Jakarta, Art Basel Hongkong, Art Paris, Art Philippines, dan Art Stage Singapore. 

B.H.G. berkolaborasi dengan Eddie Hara menghadirkan 2 jenis karya print. Karya pertama hadir dengan kombinasi ilustrasi pink dan monokrom berjudul ‘Destroy Bad Art’, sedangkan cetakan kedua tampil dalam warna-warna terang berjudul ‘Joyful Rites of Spring’. Eddie Hara yakin bahwa B.H.G. Studio dapat mengakomodasi kebutuhan karya original dengan harga terjangkau. “Karya seni grafis saya dengan edisi terbatas dan dengan teknik cetak saring (silkscreen-print) yang dibuat oleh B.H.G. studio Bali merupakan upaya memenuhi kebutuhan karya-karya original saya dengan harga yang cukup terjangkau bagi banyak orang.”

Eddie juga menambahkan bahwa menurutnya, B.H.G. sangat mengerti inti karyanya secara visual, dan bisa menerjemahkannya ke dalam warna khas Eddie dengan berbagai pengetahuan B.H.G. tentang ilmu cetak saring yang piawai.

Arahmaiani Feisal Rainbow Spirit 1, 2 & 3 Print Edition

Dikenal sebagai salah satu seniman perempuan kontemporer Indonesia yang paling berpengaruh dan ikonik, terutama dengan seni pertunjukannya. Arahmaiani menggunakan seni sebagai media kritik kreatif dalam menyuarakan masalah sosial, agama, dan budaya. Arahmaiani Feisal telah banyak mengadakan pameran berskala internasional di seluruh dunia, beberapa karyanya telah dikoleksi oleh beberapa museum dan institusi seni terkemuka di dunia. Kini, Arahmaiani berkolaborasi dengan B.H.G. untuk merilis karya print edisi terbatas dari tiga karya lukisnya.

“Saya ingin menampilkan praktik penggunaan huruf Arab dalam budaya Islam di Nusantara. Pemikiran tentang identitas Islam di Nusantara yang pluralis dan harmonis atau dalam ungkapan sederhananya mengikuti prinsip Bhinneka Tunggal Ika,” jelas Arahmaiani. Melalui karyanya ini, ia ingin menyampaikan prinsip dimana nilai-nilai dasar yang sama dalam keyakinan atau budaya yang berbeda dapat dipahami dan perbedaan dipandang sebagai kekayaan budaya Nusantara.

Arahmaiani juga menambahkan bahwa ia menikmati kolaborasinya bersama B.H.G., di sini ia melihat kemungkinan penggunaan media print mampu membuka ruang apresiasi yang lebih luas bagi dunia seni rupa kedepannya.

“Saya suka dengan konsep dan ide bahwa karya-karya ini disebarluaskan ke publik, bukan hanya menjadi milik yang ekslusif saja karena dapat dibuat dalam jumlah beberapa cetakan dengan harga yang terjangkau. Saya rasa ini bisa menjadi ‘terobosan baru’ dalam dunia seni rupa di tanah air.”

Sir Dandy Red Riding Hood Series Print Edition

karya sir dandy bersama black hand gang

Sir Dandy adalah seorang perupa dan juga pentolan band indie alternative Indonesia Teenage Death Star, yang kini juga bersolo karir dengan gaya pop-indie. Sir Dandy gemar bermain-main dengan teknik lukis dan cetak yang dipadupadankan sedemikian rupa pada setiap karya-karya visualnya. Dengan ciri khas gaya pop-art yang kuat pada karyanya, Sir Dandy pernah dijuluki sebagai ‘Andy Warhol Indonesia’ oleh salah satu surat kabar Indonesia. Ia menyelesaikan program residensi artis di Edinburgh pada tahun 2016, dengan spesialisasi teknik seni grafis (printmaking). 

Melalui versi The Little Red Riding Hood yang di-twist, Sir Dandy ingin mempresentasikan ide bahwa kenyataan, bukan hanya di dongeng, dapat berbeda jauh dengan apa yang diharapkan. “Karya ini adalah terjemahan modern dari kisah The Little Red Riding Hood, di mana mereka sebenarnya bisa hidup berdampingan dan memiliki hubungan layaknya pasangan. Dalam karya ini, mereka melakukan perjalanan bersama ke ibu kota Skotlandia, dan mengunjungi beberapa tempat ikonik di sana”.

Menengok kembali ke awal proses pembuatan karya-karya print ini, Sir Dandy menilai bahwa B.H.G adalah rekan kerja yang hebat dan menyenangkan karena dalam proses produksi dan hasil akhir karyanya menunjukan kualitas standar profesional.

“Paket ‘Kumplit’ (lengkap) dari sebuah dream machine untuk menerjemahkan mimpi seniman ke dalam bentuk visual yang jelas terpampang nyata,” ujar Sir Dandy. Tambahnya lagi, ia juga menyukai teknik yang digunakan B.H.G. dalam membuat karya print karena membutuhkan kerja keras dan intensitas tinggi dalam proses pengerjaannya. 

Tak hanya itu, Sir Dandy juga sangat puas dan memberikan pujian atas hasil karya cetaknya, “Saya belum mengeksekusi karya-karya ini dengan baik, melalui media screen printing, tapi saya akan berikan bintang 5 untuk B.H.G., yang terbaik di bidangnya. Dengan humoris ia menambahkan, ” Nu-sae-na kalo dalam bahasa Latin,” (yang sebenarnya adalah bahasa Sunda artinya Luar Biasa !!!). Karya print Red Riding Hood dengan warna-warna cerah dan grafis sederhana ini menampilkan gaya pop art minimalis yang sangat cocok untuk dikoleksi.

Karya-karya tersebut kini telah tersedia dan sudah dapat dikoleksi di galeri online dari Blackhandgang.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Black Hand Gang

Fragmen Keinginan sheisjo di Nomor "OOE"

Solis asal Jakarta Chika Putri Bagaskara dengan moniker sheisjo telah melepas materi lagu berikutnya yang bertajuk “OOE” (15/08). Sedikit berbeda dari tiga single sebelumnya yang memiliki sound acoustic, “OOE” diracik...

Keep Reading

Inspirasi Film di Materi Teranyar Eastcape

Tahun 2021 lalu menjadi tahun yang bisa dibilang ‘manis’ bagi Eastcape karena di tahun tersebut mereka resmi memperkenalkan dirinya di kancah industri musik dengan menelurkan sebuah single dan Split EP...

Keep Reading

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading