Bincang-Bincang Rock & Roll Bersama Om Robo (Sundancer, Southern Beach Terror)

Tak banyak yang tahu wajahnya karena sering ditutupi topeng khas Lucha Libre atau sarung muka KKK. Namun, namanya sungguh kesohor seantero jagat skena, khususnya bagi mereka yang mengandalkan gitar becek-becek kotor. Ia adalah Bowo atau kerap di sapa Om Robo (entah karena umur atau akun media sosialnya).

Om Robo membesarkan namanya di kancah samping musik Yogyakarta di pertengahan 2000-an. Berperan sebagai El Capitain di Southern Beach Terror (SBT), proyek sampingannya di sela-sela Coffin Cadillac, namanya sekaligus trio urakannya itu sempat menjadi mitos. Alasannya, SBT sering disebut sebagai salah satu pionir revivalis surf/garage rock Tanah Air, namun jarang ditemui di panggung-panggung muda-mudi masa kini. Bahkan, beberapa orang masih terkejut saat mengetahui bahwa pemain keyboard mereka, Saiko Kido, dulunya diperankan oleh Frau.

Di dekade kemarin, sosok Om Robo yang misterius akhirnya sedikit terkuak. Ia kembali dengan topeng gulat dan gitar murahan, tapi langka, bersama Sundancer. Ditemani Decky Jaguar yang tak kalah gagah dan eksentrik, ia mengembalikan lagi nuansa rock bujet rendah ditambah lirik-lirik yang merakyat. Identitas rock roll serampangan mereka bawa di panggung, klip, dan setiap gimik mereka.

Selain itu, anak muda masa kini pun akhirnya berhasil melihat sosok mitos SBT secara langsung di Synchronize Fest 2018, biarpun tanpa Saiko Kido. Menurut informasi yang beredar SBT mau reuni sebentar karena tawaran Synchronize saat itu cukup menggiurkan untuk memenuhi kebutuhan sang drummer, Fossil aka Voodoo Guru, yang katanya sedang butuh uang untuk melangsungkan pernikahan.

Siasat Partikelir berkesempatan untuk berbincang sedikit dengan Om Robo beberapa waktu lalu. Perbincangan kami berkutat pada hal-hal yang berbau rock roll diselip masukan-masukan untuk musisi muda potensial yang tinggal digeser sepercik pasti jadi. Berikut hasil perbincangan Siasat Partikelir dengan Om Robo.

Om sudah pindah Yogya lagi?

Mulai Maret ini gua di Yogya.

Terus Sundancer gimana?

LDR. Haduh enggak tahu lah, liat aja dulu, belum ada setahun kan.

Bicara soal garage rock revival nih Om, dulu zaman Om Robo gimana sih perkembangannya di sini?

Di Indonesia, gua enggak tahu ya. Karena gua dulu pengharapannya seperti…, kan dulu awal mulanya kalau dari luar yang ngidupin trennya The Strokes. Habis The Strokes ada White Stripes, The Hives gitu kan. Habis itu kan kayak ada turunan-turunannya lagi tuh. Mereka kan memang tadinya dari underground masuk ke ranah populer. Tapi, di bawah-bawahnya masih ada karena memang kulturnya di sana seperti itu. Nah, justru gua lebih tertarik ke yang turunan-turunannya itu. Waktu itu awal mulanya si Black Lips. Itu kan juga kan time span-nya udah agak lama ya kayaknya (dari The Strokes). Karena gua ngikutin dari situ, terus ngeliat di Indonesia, beda jauh. Ngarepinnya kayak… , The Brandals gitu kan. gua enggak terlalu into ke The Brandals. Terus TDS (Teenage Death Star) spiritnya oke lah, cuman gereget yang gua dengerin kayak Black Lips terus Ty Segall awal-awal enggak pernah ada yang nyampe di sini. The Changcuters, oke lah, cuman masuk infotainment sih mereka. (tertawa). Enggak sih cuma sound-nya aja sih yang belum dapat. Mungkin kita orang Indonesia kali ya, enggak terlalu into ke rock & roll.

Oh iyaiya kebayang sih maksudnya perbedaan arah The Brandals dan Black Lips.

Nah itu, kan yang gua temukan kan gitu ya. Kayak Black Lips, kayak roster-nya Burger Records. Itu semua kan kayak band dangdut kabupaten gitu loh. Di sana, musik rock & roll semerakyat itu. Jadi orang di sana tuh udah langsung dapat aja, sound, look, dan segala macamnya.

Om Robo di Sundancer berarti ngangkat yang itu ya?

Kalau gua udah enggak terlalu mikirin hal itu sih. Asal rilis aja lah. Pengin bikin karya aja ya. Mungkin karena udah umur juga sih. Dan geografis juga tidak mendukung, di Lombok butuh energi yang besar banget gitu untuk main yang begitu.

Sekarang kan mulai lagi tuh Om yang muda-muda bikin rock & roll lagi.

Nah itu, akhirnya setelah time span dari gua (Southern Beach Terror) sekitar sepuluh tahun tuh. Malah bagus. Tinggal gimana mereka mengemasnya aja sih. Justru angkatan (2015-an) seru sih. Yang gua lihat kan, dari kaca mata gua yang ngikutin garage rock, The Panturas, The Cat Police, Bitzmika, sama Si Andresa (The Battlebeats). The Battlebeats andalan gua sih, 90’s garage banget. Nah, Bitzmika sayang banget. Pada sibuk semua.

Padahal awal-awal keren banget ya. Bikin video pede di radio telanjang. Rock & roll banget.

Gua belum pernah ketemu in person dan nonton mereka juga sih. Tapi kan itu angkatan-angkatan band kampus (di masanya). Ya gitu lah, band kampus gitu ya, prosesnya paling seperti itu. Sudah selesai kuliah mau kerja apa mau ngeband nih. (Tertawa)

Kalau Om Robo pernah ada di posisi itu enggak?

Ada lah. Justru lebih parah di zaman gua. Karena dulu kita tidak punya pegangan informasi, ‘kalau ngeband lu harus ngapain sih?’ Akhirnya, gua pulang aja. Cari duit lebih penting.

Proyekan Om sebelum Southern Beach Terror (SBT) dan Sundancer apa aja?

Dulu sebelum SBT, band gua Coffin Cadillac namanya. Ada albumnya di website-nya Yes No Wave. Udah rekaman dua album. Itu band Motorhead kayak gitu. Terus, SBT itu side project. Kalau di band sebelumnya gua main bas. Itu aja band gua.

Terus kepikiran main garage kenapa?

Bikin SBT itu karena gua waktu itu satu kontrakan sama anak-anak The Monophones. Mereka itu kan otaknya 60’s banget itu, gua dicekokinnya musik-musik 60’s, dengarin The Ventures sama The Shadows, itu aja. Kayaknya seru bikin musik kayak gini. Terus dapat pinjeman reverb dari teman.

Apa tuh reverb-nya?

Aduh apa itu lupa gua. Oh bukan reverb malah, efek Line 6 yang kayak kacang itu loh, yang merah (nampaknya multi effect POD). Itu kan banyak banget isinya. Udah dapat dari situ, nyoba-nyoba bikin lagu. Nyari teman yang main (instrumen) lain, ada teman kos gua (nampaknya mantan basis SBT, Bimo) yang ngebas terus drummernya si Fossil. Fossil dulu superstar drummer dia. Wah banyak banget dari band street punk sampai…, kebanyakan band kampus sih dia. Dulu band street punk dia paling terkenal, Dewan Jenderal namanya.  Dewan Jendral, anak UPN. Dulu di Yogya band punk rock masih banyak. Udah dari itu, karena dengarin musik 60’s gitu kan. Terus nyoba rekaman buat SBT, akhirnya, ketemu teman-teman yang lain. Dan masuk ke ranah garage itu karena gua ketemu sama Si Bagus, vokalisnya Mortal Combat. Jadi, dia lebih ngulik garage duluan karena dia punya rilisan beneran, dia kan mail order gitu kan hobinya anak itu. Dengarin The Sonics dan lain sebagainya. Dia roots-nya hardcore punk kayak gitu pasti larinya ke The Sonics. Terus dia punya katalognya Bomp! Records. Udah lihat dari situ aja.

Kebanyakan 60’s garage punk sampai The Mummies. The Mummies itu revival kan ya, 90-an. Terus King Kahn, The Spaceshits dari Kanada yang angkatan 90-an. Jadi  setelah SBT jadi, baru ngulik garage-nya Akhirnya, gua bikin rekaman yang pakai MP3 player, cuma empat lagu kalau enggak salah.Pernah waktu itu disetel di radio sama Rekti (The SIGIT) waktu dia sempat siaran dulu. “Gua setelin rekaman lu, wah kacau parah banget,” katanya. Ya, lagian udah tahu rekam pakai MP3 player. Ada Live at Joe’s Garage, yang cover-nya foto kita bertiga (bersama Frau dan Fossil) yang hitam putih. Wah itu garage punk banget kayak Si Andresa.

Kalau Sundancer kelanjutan dari itu atau proyek baru aja?

Proyek baru sih. Karena baru tahu kayak, “Oh sekarang rekaman sudah bisa di rumah. Wah seru nih.” Udah dari sana nyoba-nyoba ada yang jadi juga tuh lumayan. Enggak ada sangkut pautnya sama yang dulu-dulu sih. Mencoba memberdayakan Decky lah gitu. Kayak di album Musim Bercinta, campur-campuran aja itu. Kayak The Cramps ada, The Mummies ada, ya model-modelnya seperti itu jadi dikeluarin semua aja.

Sebenarnya saya mau minta tanggapan Om Robo soal ada lagi band-band begitu. Kemarin tuh saya nemu beberapa band yang bawain musik-musik begini tapi plek-plekkan mirip idolanya.

Entar dulu, kalau mereka generasi anak-anak sekarang ya sudah waktunya. Maksudnya, mereka menemukan “wah ini rock klasik” nih. Kalau mereka angkata sekarang gitu, baru umur 20 misal, terus mereka bikin musik kayak The Strokes. The Strokes rilisannya tahun berapa sih? 2001-an kan. Sudah 20 tahun kan umurnya. Udah bener mereka remaja nemuin musik itu kan. Ini mirip kasusnya kayak band luar (Greta Van Fleet) yang dibilang mirip banget sama Led Zeppelin. Kira-kira seperti itu lah masalahnya. Anak generasi sekarang, mereka nemuin Led Zeppelin terus “ah ini dia nih musik gua nih gua bikin musik kayak gini aja”. Sok-sok bijak aja sih jawab kayak gini. (Tertawa). Kalau lu nanya sama gua 20 tahun yang lalu pas gua masih kuliah udah gua ceng-cengin aja, “apaan anjing mirip The Strokes”.

Kira-kira bakal ramai lagi enggak Om?

Nah itu tergantung kalian. Gua enggak tahu kan bukan pelaku industri. Kalau tahun depan udah mulai kick off ,udah bisa tur, dan lain sebagainya ya bisa jadi.  Setelah serangan itu kan efeknya terasa baru paling setahun atau dua tahun ke depannya.

Kalau kira-kira ramai lagi Om sendiri atau angkatan Om yang mainin musik ini gimana tanggapannya?

Kalau orang-orang angkatan gua mah mungkin ada yang menggerut “zaman gua dulu..”. Ya udah lah enggak usah ditanggepin, orang-orang angkatan tua mah sakit pinggang aja enggak selesai-selesai. Kalau gua malah senang. Paling yang bikin gua geregetan “ayo dong cari identitasmu sendiri”.

Iya sih kayak pas The Strokes muncul, di Inggris kan katanya KW-annya The Libertines tuh. Tapi kan mereka jadi bikin sesuatu yang berbeda. Jadi kayak roots-nya sama tapi jadi bikin gaya mereka sendiri.

Iya seperti itu. Kalau aku pikir ya memang mungkin awalnya seperti itu. Niru idolanya gitu. Tapi kalau mereka dikasih kesempatan untuk progress, pasti ada yang bakal jadi beda. Udah ketemu banyak orang, kalau band itu sering main, sering keluar kota, mereka dapat knowledge. Gua harapin kalau anak-anak yang baru, it’s okay awalnya kalau mereka meniru idolanya, tapi habis itu progress lah. Bawa daerahnya dia kek. Misalnya, lu dari Banyuwangi terus ngambil musik kendang kempul. Itu keren-keren tahu, perdaerah tuh punya ciri khasnya masing-masing yang bisa dimasukkin ke mana aja.

Kalau sekarang kan misal Sundancer ke Jakarta, perputaran informasinya kan udah gampang. Nah, kalau dulu SBT tuh kan dari Yogya tapi di Jakarta orang pada kenal. Memang dulu keadaannya gimana sih Om bisa gitu?

Random. Waktu di Yogya sendiri aja waktu angkatan gua ramai banget itu jenis musik. Misalnya, anak-anak bikin gig, satu gig itu macem-macem genrenya. Ya kecuali gig punk rock dan metal ya udah jelas lah itu. Cuma yang di luar itu masih liar banget lah eksplorasi musiknya. Nah itu dia yang gua liat dari anak sekarang, bukannya membandingkan, eksplorasi musiknya kok kayak kurang ya. Padahal kan informasi udah banyak nih tinggal klik. Mungkin karena terlalu banyak ya jadi bingung. Dulu kan sumber informasinya cuma kaset sama CD, pinjeman orang lah, beli lah. Internet juga lumayan lemot.

Om sendiri sempat merasakan scene Jakarta kan?

Sempat, beberapa kali main. Masuk dari geng Tebet dulu, anak-anak White Shoes & The Couples Company. Karena di Yogya aku juga sama anak-anak seniman, yang mana itu masih satu relasi sama anak-anak Tebet, jadi ya udah masuknya lewat situ.

Terus keadaan di sana untuk musik yang Om mainkan gimana?

Seru sih dulu pertama kali main di Jakarta sama anak-anak IKJ, acaranya Indra Ameng sama Keke, Superbad. Ok banget itu tempatnya Jaya Pub, old school.

Itu ramai band-band garage Om?

Enggak harus garage sih. Waktu itu gua mainnya sama The Brandals sama That’s Rockefeller. That’s Rockefeller sih seru banget live-nya. Udah enggak ada tuh, orang-orangnya sekarang urusannya belakang layar. Drummernya tuh sekarang produsernya Ngobryls, si Bejo (Omar Aryarindra). Mereka anak-anak film kalau enggak salah dulu di IKJ. Vokalisnya adiknya Reza tuh. Sering jadi candaan “oh ini masih saudaraan sama artis”.

Teks: Abyan Nabilio
Visual: Arsip dari Sundancer

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading

Superglad Yang Kembali Melangkah

Superglad adalah band yang namanya tidak perlu lagi dipertanyakan di kancah musik tanah air. Setelah diterpa berbagai permasalahan yang sempat terjadi di dalam tubuh mereka, band yang terbentuk sejak tahun...

Keep Reading