Sebuah pameran bertajuk “Contemporary Worlds: Indonesia” baru saja diselenggarakan di National Gallery of Australia, Canberra, beberapa waktu lalu. Pameran yang dimulai sejak tanggal 21 Juni hingga 27 Oktober 2019 ini menampilkan 24 seniman Indonesia dengan tema karya yang beragam.

Salah satu seniman muda yang terlibat dalam pameran ini, Zico Albaiquni, menampilkan beberapa karya yang menunjukkan tidak hanya kepiawaiannya dalam mengeksplorasi warna, tetapi juga ketertarikannya pada isu sejarah seni lukis Indonesia dan kolonialisme. Emily Wakeling, memberi sedikit ulasan terkait karya Zico dalam pameran tersebut melalui salah satu media seni kontemporer internasional, Artforum:

“Meanwhile, painter Zico Albaiquni layers bright backgrounds with images of towering palms and monumental art museums, reflecting a careful study of historical predecessors. For Evidently, the Fine Arts Do Not Thrive in the Indies, 2018, re-creates a nineteenth-century photograph of Papuans posing with a Dutch Catholic missionary—now in the National Gallery of Australia’s collection—and overlaps it with gambar pemandangan, an Indonesian landscape perspective teaching motif. In combining these disparate elements, Albaiquini fuses visual energy with a message about the legacy of colonial imagery”.

Penulis berkesempatan untuk sedikit berbincang dengan Zico terkait pengalamannya melukis serta eksplorasi medium dan gagasan terkininya.

Hai zic, bisa cerita sedikit tentang pengalaman pertama mengenal dunia seni rupa dan lukisan. Awalnya dari lingkungan keluarga, atau memang karena latar belakang pendidikan?

Pertama kenal seni rupa dari lingkungan keluarga. Saya ingat melihat ayah saya bekerja, pekerjaan sehari-harinya adalah membuat karya, bukan saja lukisan namun juga instalasi, seni performans, membaca puisi, dan kadang-kadang juga bermain teater. Saya rasa, perkenalan sejak kecil dengan aktivitas-aktivitas artistik tersebut telah membuat saya merasa bahwa seni adalah bagian dari keseharian. Ya, bahkan cerita tentang pameran-pameran adalah bagian dari cerita sebelum tidur yang biasa diceritakan oleh ayah saya.

Perkenalan pertama saya dengan lukisan dan seni lukis diawali oleh lukisan Las Meninas Diego Velazquez, dari sana muncul ketertarikan saya terhadap seni lukis. Hal tersebut terjadi karena saat itu, untuk pertama kalinya, diminta ayah untuk membantu membuat sketsa lukisan tersebut. Saya terpukau dengan detail setiap tanda yang muncul dan relasi antar subject matter dalam lukisan tersebut.

Namun, hal yang akhirnya membuat saya benar-benar jatuh cinta pada seni lukis adalah pengalaman saat saya dulu masih kuliah di jurusan desain komunikasi visual. Saya berkesempatan melihat lukisan Perusing A Poster yang dibuat oleh Sudjojono secara langsung di NUS Museum. Pengalaman tersebut yang akhirnya membuat saya terobsesi dengan lukisan, khususnya cat minyak, hingga pada tahun tersebut saya memutuskan untuk pindah dari jurusan desain komunikasi visual ke seni lukis di ITB.

Saya yakin itu adalah titik awal terpenting saya berkenalan dengan seni lukis. Hingga saat ini saya masih terobsesi dengan potensi dari peran seni lukis dan hal tersebut juga mendorong saya untuk mendalami peran seniman dalam kehidupan sehari-hari.

Zico Albaiquni, The Imbroglio Tropical Paradise, 80 x 120 cm, Oil on canvas, dok: Zico Albaiquni & Yavuz Gallery

Apa yang kira-kira menjadi daya tarik lukisan buat kamu pribadi? Dan kenapa tertarik mengangkat aspek-aspek yang terkait dengan sejarah seni lukis Indonesia?

Saya melihat seni lukis sebagai medium yang humble. Seni lukis merupakan objek seni rupa yang paling familiar bagi kebanyakan orang. Karena sejarahnya yang panjang, saya melihat seni lukis mampu menciptakan sebuah gestur tersendiri dan selalu terkait dengan budaya yang paling hegemonis di tempat dia berada.

Misalnya, Pulau Jawa memiliki gestur khusus dalam melihat lukisan ratu laut selatan. Juga sangat menarik apabila kita melihat lukisan Monalisa di Paris, karena di sana kental dengan gestur budaya tinggi Barat. Saat ini sedang terjadi tabrakan antara kebudayaan tinggi tersebut dengan kebutuhan turisme, sehingga Monalisa menjadi semacam selebritis di media sosial.

Sejarah panjang seni lukis ini memiliki banyak irisan yang beragam, bergantung dari lokasi tempat lukisan tersebut dihadirkan, dan tentunya akan terus melakukan negosiasi dengan budaya baru yang masuk melalui cara yang beragam pula.

Terkait ketertarikan pada sejarah seni lukis Indonesia, pada awalnya hal tersebut bisa dianggap sebagai bentuk penghormatan saya, rasa syukur, dan kebutuhan saya untuk meng-acknowledge mereka yang telah membawa seni rupa indonesia hingga hari ini.

Saya tertarik mengangkat narasi yang terbangun dari linimasa seni rupa Indonesia, diawali dari seni lukis hingga medium-medium lainnya yang mampu membuka dialog mengenai apapun yang pernah muncul atau menjadi pengetahuan/paradigma yang membentuk konteks hari ini. Sebuah proses negosiasi untuk dapat saling memahami.

Bagi saya, sebagai orang Indonesia, hal tersebut merupakan upaya refleksi pada sejauh mana pemahaman ke-Indonesia-an, baik dalam memahami ulang ideologinya, pemahaman mengenai linimasa geografis yang terjadi, hingga upaya mengimajinasikan pemahaman yang muncul kelak. Terkadang, melalui proses ini, saya menyadari banyaknya polemik kebudayaan di Indonesia yang belum terselesaikan karena belum banyak yang menghadirkan persoalan tersebut ke ranah publik.

Padahal banyak seniman terdahulu hingga sekarang yang masih bekerja dengan gigih untuk menampilkannya. Hal tersebut semakin menarik ketika nantinya terjadi dialog dengan budaya lain. Saat ini, saya mungkin sedang berada dalam tahap mencoba mencari pertanyaan-pertanyaan yang bisa diajukan bersama, dan saya yakin dialog antar budaya mampu memberi ragam perspektif dalam menghasilkan jawaban serta solusi bagi masa yang akan datang.

Tahun 2011 kamu sempat membentuk Ruang Gerilya yang belakangan berganti nama menjadi Gerilya Artist Collective. Ruang atau kolektif semacam apakah Gerilya ini? Apakah juga beririsan dengan proyeksi kariermu sebagai pelukis?

Saat ini, saya melihat Gerilya sebagai ruang sosial untuk berkumpul dan berspekulasi. Dulu, semangatnya dimulai dengan pertanyaan “what if?”. Di sana, kami belajar bersama untuk membuka ruang bagi seniman lain untuk berpameran, membuat pertukaran seniman untuk residensi, membuat program bernama Beta Test, hingga mencoba membuat acara presentasi portofolio karya seniman.

Sebagai sebuah ruang, Gerilya bukanlah ruang yang memilki sistem administrasi dan organisasi yang sempurna, mungkin cukup jauh dari itu. Gerilya sepertinya lebih wajar jika disebut sebagai ruang untuk belajar bersama. Awalnya juga sangat sederhana, kami sebagai seniman-seniman muda butuh untuk berpameran dan memiliki ruang diskusi, apalagi pada saat itu, yang terjadi adalah kondisi pasca boom seni rupa.

Kita tidak dikenal dan masih mencari formula dalam membuat karya sendiri. Gerilya kami butuhkan untuk saling mengingatkan dan melahirkan rasa saling percaya diri atas apa yang kita lakukan: membuat dan membicarakan seni. Saya bisa jadi pelukis seperti sekarang karena saya beririsan dengan semua orang yang saya temui pada saat saya membangun ruang Gerilya.

Mulai dari mereka yang asyik bicara politik, filsafat, agama, teknologi media, teori konspirasi, perkembangan medan seni rupa baik lokal maupun global, film, hingga geek out soal fans theory dari komik-komik hingga Marvel Cinematic Universe. Itu jadi semacam bensin bagi saya. Proyeksi karier saya juga banyak terbantu dengan adanya aspek multidisiplin keilmuan dan keahlian yang ada di Gerilya.

Diskusi dari disiplin berbeda inilah yang membuat saya lebih mawas terhadap potensi dan kekurangan yang ada dalam seni lukis, atau bahkan kemungkinan-kemungkinan dari pola pikir saya sebagai seniman yang saya rasa membutuhkan feedback dari teman-teman saya disana.

Menurut kamu, karya seni dengan balutan konsep yang rumit dan kompleks itu sebuah anugerah dan keindahan tersendiri atau justru memusingkan penonton?

saya rasa, yang penting adalah, konsep serumit apapun akan tidak memusingkan apabila bisa dipelajari. Namun apabila konsep itu rumit dan tidak bisa dipelajari, maka itu bencana! Haha. Setiap konsep yang kompleks, apabila bisa dipelajari akan memunculkan keindahan tersendiri.

Seindah ketika kita menemukan bahwa hal yang sederhana ternyata memiliki gagasan yang rumit saat kita mengenalnya lebih jauh. Saya rasa hal ini sama saja dengan saat kita ingin berkomitmen dengan seseorang untuk waktu yang panjang, untuk menikah misalnya, tentu hal tersebut bisa dilihat sebagai sebuah konsep sederhana meskipun sebenarnya sangat kompleks untuk dijelaskan. Seperti kalimat bijak yang menyebutkan bahwa hal tersebut nantinya akan indah saat dipahami dan dijalankan.

Zico Albaiquni, A Survival Guide to Imagining of What Wasn’t Was, 300 x 200 cm, Oil and Giclee on Canvas, 2019, dok: Zico Albaiquni & Yavuz Gallery

Belakangan banyak mengolah warna-warna vibrant yang sangat menarik. Sudah berapa lama mengeksplorasi warna-warna ini dan proyeksi apa yang ingin dicapai dari warna-warna tersebut?

Eksplorasi tentang warna ini sepertinya baru dimulai 5 tahun yang lalu. Saat saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan residensi di Vienna. Pengalaman tersebut membuka mata saya. Untuk pertama kalinya saya mengetahui potensi dari medium seni lukis, baik itu medium pengikatnya hingga pigmen-pigmen.

Di sana, saya juga berkesempatan untuk melihat beberapa pameran yang sangat berkesan untuk saya hingga saat ini, yaitu Why Painting Now dan Painting 2.0. Sepulang dari sana, saya awalnya melakukan eksperimen-eksperimen yang membabi buta, mulai dari gagasan extended painting, mobilitas lukisan, hingga akhirnya mempelajari warna dan pengembangan teorinya.

Pengembangan teori penggunaan warna diawali dari obrolan bersama teman saya Aradea Nugraha dan Wing Gantara, mulai dari mencari komposisi golden ratio sebuah image, complementary colors, hingga akhirnya saya diperkenalkan dengan pola phytagoras warna.

Pola phytagoras warna ini yang akhirnya banyak saya kembangkan, mulai dari kaitannya dengan trinitas filsafat Sunda (silih asah, silih asih, silih asuh), hingga secara imajinatif mencoba mengaitkannya dengan median warna terbanyak yang hadir di perumahan rumah orang Sunda di kampung. Pola ini juga terus berkembang ketika dikaitkan dengan beberapa konteks yang saya angkat, salah satunya adalah pola warna yang muncul dalam lukisan Mooi Indie – untuk membicarakan polemik kolonialisme.

Saturasi warna tersebut dinaikkan untuk membicarakan konteks hari ini dengan menggunakan pigmen yang secara periodisasinya pas dengan konteks linimasa waktu yang saya angkat. Sejauh ini, saya terus mencoba mencari bahasa untuk membangun pemahaman saya saat menggunakan warna-warna ini.

Namun, titik awal sederhana yang saya gunakan adalah pemahaman terkait completio oppositorum (yang berbeda namun saling melengkapi) seperti halnya politik identitas atau ideologi yang sedang tinggi-tingginya hari ini, saya melihat warna pun bekerja seperti itu, semakin dia bersebrangan dalam roda warnanya maka warna itu akan mencapai complementary color-nya.

Hari ini saya mencoba memosisikan peran saya sebagai seniman untuk dapat mendeteksi dan memunculkan ‘yang berseberangan’ ini ke permukaan. Dengan harapan membuat sebuah upaya negosiasi. Layaknya sebuah homeopathy.

Teks: Bob Edrian
Visual: Zico Albaiquni