Stand A Chance Tour leg Sumatera berlangsung beberapa pekan yang lalu. Ia sudah berakhir. Tapi, ada seabrek cerita yang kami dapatkan dari perjalanan tersebut. Di Lampung, ada pengalaman yang melekat di memori; venue yang bagus, respon pengunjung yang luar biasa dan kerjasama yang menyenangkan dengan kawan-kawan di sana, baik mereka yang asli Lampung atau berasal dari sejumlah daerah lain.

Kami bertemu Yurika yang berasal dari Bengkulu. Saat pertunjukan, ia memajang sejumlah karyanya di venue. Seluruh karya yang dipamerkan, bernafas perempuan. Yang paling menarik mata adalah ilustrasi seorang perempuan yang menghadap ke belakang dan di punggungnya banyak tanda bekas kerokan.

Ada kegelisahan apa yang dirasakan dari si empunya karya ini? Kenapa karyanya memvisualisasikan perempuan saja? Kami mencoba menghubungi dan mengajaknya mengobrol soal karya, latar belakang, serta sepak terjangnya di dunia ilustrasi di Bengkulu.

Simak perbincangannya di bawah ini. (*)

Halo Yurika, dalam berkarya aspek apa saja yang mempengaruhimu? Ada seniman yang menjadi panutan?

Ada beberapa seniman yang  menjadi referensi saya dalam berkarya. Sering terlibat dengan beberapa komunitas yang membawa isu berbeda-beda membuat saya sering menemukan ide dalam proses berkarya.

Kebanyakan karyamu dibuat menggunakan teknik digital, kenapa memilih teknik itu sebagai medium berkaryamu?

Selain nyaman karena saya bisa mengeksplorasi warna dan beberapa tekhnik dalam perjalanan saya berkarya. Digital bisa menghemat banyak biaya karena di Bengkulu tidak memiliki toko art supply yang memungkinkan untuk berkarya dengan harga terjangkau.

Karyamu kebanyakan bertema perempuan, kenapa?

Empat tahun terakhir kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan kerap terjadi di Rejang Lebong, Bengkulu sebagai kota kelahiranku. Saya mengangkat isu ini karena saya berharap dengan karya saya bisa sebagai pesan dan mewakili suara korban.

Perkembangan dunia ilustrasi di Indonesia saat ini gimana menurutmu? Apakah bisa dijadikan mata pencaharian tetap?

Ilustrator Indonesia sudah banyak diakui secara nasional maupun internasional. Beberapa akun jejaring terbesar di dunia sering mengangkat illustrator Indonesia, contohnya instagram yang menggunakan gambar Diela Maharani sebagai salah satu stickernya. 99designs.com sebagai platform gambar digital dunia juga menyediakan fasilitas translate ke bahasa Indonesia. Ada sebelas bahasa dunia yang tersedia dan Bahasa Indonesia salah satunya. Menandakan dunia telah memperhitungkan Negara kita. Ilustrasi sangat bisa digunakan sebagai mata pencaharian tetap, salah satunya dengan lintas subkultur dan telah saya jadikan pencaharian tetap. Biasanya dengan mentransfer, menjadi produk tertentu sehingga bisa diproduksi banyak.

Untuk teknik dalam bekerja, bagaimana prosesnya ketika membuat suatu gambar?

Merespon kejadian dan isu yang terjadi pada diri saya atau lingkungan sekitar. Kemudian saya langsung menggambar di laptop menggunakan pen tablet/ mouse.

Pertanyaan ini umum ditanyakan kepada setiap ilustrator, gimana caramu menentukan harga sebuah karya yang kamu buat? Ada formula tersendiri kah?

Dalam ruang lingkup komersil, saya mempertimbangkan harga melalui tingkat kesulitan yang diinginkan klien saya. Di kota saya belum bisa menaruh harga yang tinggi, di atas Rp.250.000. Biasanya saya menentukan harga melalui pekerjaan mereka sehari-hari. Untuk acara kolektif tentu saja saya tidak memberikan harga.

Nilai seperti bagaimana yang ingin kamu sampaikan di tiap karyamu?

Pada umumnya saya selalu ingin memberikan pesan kepada setiap karya yang saya produksi. Contohnya : digambar saya “MASOGINI”, mengajak perempuan untuk jangan diam saat ada pelecehan kepada mereka. Di karya saya yang berjudul “LA JU” bergambar perempuan yang percaya diri dengan bulu ketiaknya, memberikan pesan tentang otoritas mereka terhadap tubhnya sendiri.

Prosesmu saat ini hadir karena otodidak atau sekolah?

Saya melalui proses otodidak, menggambar coret-coret di tanah, buku tulis, buku gambar, dinding, dan saat ini saya lebih sering menggunakan pen tablet.

Apakah sekarang sudah nyaman dengan style yg ada?

Tentu saja nyaman, namun saya merasa style saat ini belum sepenuhnya mewakili maksud saya.

Tapi tidak menutup adanya percobaan dengan style yang lain kan?

Bisa dikatakan saat ini saya sedang dalam tahap pencarian style yang membuat maksud saya benar-benar tersampaikan. Dan saya terus melakukan eksplorasi pada style lain di dalam pencarian ini.

Untuk Bengkulu sendiri, bagaimana apresiasi dan perkembangan komunitas di sana?

Saya berasal dari Bengkulu, Rejang Lebong. Perkembangan komunitas untuk beberapa subculture terus melakukan progress yang baik dalam kurun waktu 2-3 tahun ini. Tekhusus visual art telah memiliki beberapa komunitas aktif dalam bentuk kolektif dan di area kampus.

Bagaimana cerita suka duka sebagai illustrator dari yg awalnya belum dikenal, hingga sekarang sudah mulai dikenal org banyak?

Saya menikmati suka duka dalam perjalanan saya sebagai illustrator. Saya sangat senang ketika banyak yang mulai bertanya tentang gambar saya dan mengapresiasinya. Tentu saja senioritas di Bengkulu sering mengomentari langkah-langkah yang saya lakukan dalam berkarya. Seakan saya terlalu cepat dikenal di Kota Bengkulu tanpa melalui jalur akademisi di ranah seni. Bisa dikatakan saya pernah dibully oleh seniman lain yang merasa ilustrasi digital bukanlah bagian dari berkesenian. Tentu saja ini sangat membuat saya sedih, namun tidak ada jalan untuk kembali, untungnya keterlibatan seniman Bengkulu yang lain banyak membantu saya dalam melanjutkan proses ini.

Teks & Wawancara: Adjust Purwatama
Foto: Arsip Yurika Pratiwi